Georg Lukacs, Filsuf dan Teoretikus Sastra Marxis

0

FILSAFAT, Bulir.id – Filsuf dan kritikus sastra Hongaria, Gyorgy (atau Georg) Lukacs (1885-1971), memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan Marxisme Barat (yaitu, Marxisme Hegelian yang berkembang di Eropa Barat), sekaligus menjadi kritikus sastra paling terkemuka di Uni Soviet. Kariernya dapat dibagi menjadi tiga fase. Ada fase awal non-Marxis; transisi ke Marxisme; dan penerapan serta pengembangan kritik sastra realis sosialis.

The Theory of the Novel (1916) Lukacs yang ditulis pada tahun-tahun terakhir sebelum Perang Dunia Pertama, merupakan sebuah pendekatan sastra yang sangat dipengaruhi oleh Hegel, khususnya estetika Hegel. Karya ini pesimistis, berfokus pada cara novel menghadapi ketidakbermaknaan dunia sosial kontemporer.

Lukacs menggambarkan dunia sosial yang dihadapi para anggotanya sebagai ‘kodrat kedua’ dari konvensi-konvensi yang tak masuk akal, sehingga mereka, secara paradoks, kehilangan tempat tinggal di dunia yang seharusnya menjadi rumah mereka. Oleh karena itu, Teori Novel dalam segala hal kecuali namanya, merupakan sebuah teorisasi tentang keterasingan.

Novel yang agung mengatasi hal ini, bukan dengan mencoba memaksakan makna pada dunia yang tak bermakna, melainkan dengan menjadi sebuah bentuk seni yang didasarkan pada proses (alih-alih penyajian produk jadi), sehingga pencarian makna mengekspresikan ketiadaan makna dan kegagalan pencarian tersebut.

Jika Teori Novel meratapi hilangnya komunitas manusia yang bermakna (diwakili oleh Yunani kuno), atau masyarakat manusia sebagai suatu ‘totalitas’, karya besar Lukacs dalam filsafat Marxis, Sejarah dan Kesadaran Kelas (1922), menemukan totalitas ini dalam revolusi komunis.

Revolusi komunis mengembalikan dunia kepada umat manusia. Dunia kembali bermakna, dan Partai Komunis kemudian dikreditkan dengan tugas memimpin kaum proletar menuju takdirnya sebagai, dalam terminologi Hegelian subjek-objek sejarah. Artinya, kaum proletar, setelah sepenuhnya menyadari tempat mereka dalam sejarah, akan mampu menciptakan sejarah sesuka mereka, alih-alih dikendalikan oleh kekuatan eksternal ‘kodrat kedua’.

Selain teoretisasi revolusi ini, yang memberinya optimisme, buku ini juga memberikan analisis tentang kegagalan dan kontradiksi kapitalisme, khususnya penjabaran teori fetisisme komoditas Marx bersama penjelasan Max Weber tentang birokrasi, menjadi teori reifikasi (Verdinglichung) yang menjelaskan mekanisme ekonomi dan politik yang mendasari dan menghasilkan kodrat kedua.

Marx telah memberikan analisis tentang proses di mana hubungan antarmanusia (yaitu pertemuan manusia dalam pertukaran komersial di pasar) tampak seperti hubungan antarbenda (sehingga hubungan antarmanusia diatur oleh properti dan khususnya nilai-nilai ekonomi yang tampaknya inheren pada komoditas yang dipertukarkan).

Bagi Lukacs, inversi ini terwujud dalam semua hubungan sosial (dan bukan hanya dalam ekonomi), karena dalam masyarakat yang semakin rasional dan birokratis, hal-hal yang kualitatif, unik, dan subjektif dalam hubungan antarmanusia hilang, karena hubungan tersebut diatur menurut kepentingan kuantitatif birokrat dan manajer semata.

Akhirnya, buku ini juga merupakan pembacaan ulang tradisi idealis Jerman dalam filsafat. Keterbatasan dan kontradiksi yang ditemukan dalam karya Kant dan Hegel tidak ditafsirkan sebagai kelemahan Kant dan Hegel sebagai pemikir individual, melainkan sebagai Kant dan Hegel yang membawa pemikiran zaman mereka hingga batasnya (dan dengan demikian sampai pada titik di mana ia runtuh). Dengan demikian, pemikir dipandang terkondisikan oleh zamannya, dan kontradiksi dalam pemikiran mencerminkan kondisi dalam basis ekonomi. Pendekatan terhadap produk intelektual dan budaya semacam itu sangat berpengaruh terhadap analisis seni dan budaya yang dilakukan oleh para Marxis Barat lainnya, seperti Horkheimer dan Adorno.

Hampir sepanjang hidupnya, Lukacs tinggal dan berkarya di Uni Soviet. Kritik sastranya sebagian besar bekerja di bawah batasan-batasan yang diberlakukan oleh Partai Komunis Soviet (Lukacs 1963, 1983). Dalam berbagai penelitiannya, ia mengartikulasikan dan mempertahankan teori realisme, yang seringkali bertentangan dengan modernisme budaya kapitalis.

Sebuah novel realis (dengan Balzac sebagai contoh) mengekspresikan masyarakat sebagai suatu totalitas yang menopang permukaan fragmentaris yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, Lukacs kritis terhadap naturalisme Zola atau Flaubert, justru karena naturalisme tersebut tetap merupakan deskripsi dari permukaan.

Sebaliknya, tokoh-tokoh dalam novel Balzac merepresentasikan kekuatan-kekuatan sosial. Yang mungkin mengecewakan dari pendekatan Lukacs terhadap sastra, terutama jika dibandingkan dengan pembacaan filsafat materialis yang mendalam dalam History and Class Consciousness (dan bahkan kritik sastra terhadap karya pra-Marxisnya), adalah bahwa ia menilai sastra berdasarkan model masyarakat yang sudah ada sebelumnya. Ia tidak membiarkan novel mengajarkannya seperti apa masyarakat itu.

Perdebatannya dengan Ernst Bloch mengenai ekspresionisme bersifat instruktif (Bloch dkk. 1977). Bagi Lukacs, ekspresionisme merupakan indikasi dekadensi dan irasionalitas borjuis dan dengan demikian ketidakmampuan kaum borjuis untuk memahami atau mengakui totalitas kekuatan sosial sementara bagi Bloch, ekspresionisme merupakan indikasi sifat kapitalisme yang fragmentaris (atau dalam terminologinya, non-sinkron).*