Membaca Dialektika dari Heraclitus hingga Karl Marx

0

FILSAFAT, Bulir.id – Sepanjang sejarah, sejak era Pra-Sokrates, dialektika telah memicu banyak ide di antara para filsuf. Konsep itu sendiri telah mengalami interpretasi yang berbeda. Konsep ini telah dikaitkan dengan sofistri, retorika, metode pertanyaan Sokrates, perjalanan Plato dari hal yang masuk akal ke spiritual, pemeriksaan pendapat Aristoteles, eksplorasi Kant tentang ilusi pemahaman transendental, interpretasi Marx tentang tahapan sosio-ekonomi dari kapitalisme ke sosialisme, dan seterusnya.

Dalam artikel ini, kita menelusuri evolusi filosofis dari gagasan dialektika, mulai dari asal-usulnya di Yunani kuno hingga perkembangannya dalam filsafat Barat modern.

Perjalanan Filosofis Dialektika: dari Zaman Kuno hingga Modernitas

Seperti yang dikatakan oleh filsuf kontemporer Barbara Cassin dalam Vocabulary of European Philosophies:

“Sejarah istilah dialektika dengan sendirinya merupakan sejarah filsafat yang cukup panjang.”

Sepanjang sejarah, dialektika telah menjadi sumber inspirasi dan alat yang digunakan oleh berbagai aliran pemikiran. Makna dan interpretasinya beragam, mulai dari metode debat dan logika hingga kerangka kerja untuk menjelaskan perkembangan konseptual atau sosioekonomi.

Para filsuf telah memperdebatkan apakah dialektika merupakan sesuatu yang melekat pada realitas atau sebuah proses dalam pikiran manusia, dan apakah dialektika melibatkan dua pandangan yang berlawanan atau kontradiksi dalam sebuah konsep. Terlepas dari perdebatan ini, istilah dialektika secara konsisten menunjuk pada proses perubahan atau kemajuan yang ditandai dengan gerakan maju-mundur.

Untuk menelusuri asal-usul pemikiran dialektis, kita harus mempelajari filsafat Yunani kuno. Salah satu tokoh yang menonjol dalam hal ini adalah filsuf Heraclitus. Dianggap sebagai pelopor pemikiran dialektis oleh Friedrich Engels dan Karl Marx pada abad ke-19, Heraclitus menekankan pentingnya kekuatan-kekuatan yang saling berlawanan dalam kosmos dan peran mereka dalam pembangunan. Gagasan tentang kesatuan dari hal-hal yang berlawanan inilah yang membuatnya mendapatkan pengakuan ini.

Heraclitus dan Kesatuan yang Berlawanan

Sebagai seorang filsuf Pra-Sokrates, Heraclitus adalah salah satu filsuf Yunani kuno yang merenungkan konsep arche. Istilah Yunani Kuno arche terutama mengacu pada “asal” atau “permulaan” dan berhubungan dengan prinsip dasar yang darinya semua hal lain berasal. Para filsuf ini terutama terlibat dalam teori kosmologi dan ontologi, yang berusaha mengidentifikasi substansi yang menjadi asal mula segala sesuatu.

Thales, yang sering dianggap sebagai filsuf pertama dalam sejarah, menyatakan bahwa air adalah arche alam semesta. Demikian pula, Anaximander kontemporer Thales, dari aliran Milesian, menghubungkan arche dengan udara, sementara Pythagoras percaya bahwa alam semesta pada dasarnya terdiri dari angka-angka.

Sebaliknya, filsuf Ionia, Heraclitus, percaya bahwa api adalah arche alam semesta. Tapi mengapa api? Bagi Heraclitus, jawabannya terletak pada perubahan konstan yang terkandung dalam api, seperti yang ia nyatakan, “alam semesta dulu dan sekarang dan akan menjadi: api yang selalu hidup…”

Heraclitus percaya bahwa alam semesta berada dalam kondisi yang terus berubah. Dia mengilustrasikan perspektif ini dengan analogi di mana dia berpendapat bahwa seseorang tidak dapat melangkah ke sungai yang sama dua kali, karena baik orang maupun sungainya berbeda setiap kali.

Dalam filsafatnya, api melambangkan pergerakan melalui konsumsi diri, yang mewakili gagasan bahwa segala sesuatu selalu berubah setelah berasal dari api. Teori Heraclitus menyatakan bahwa semua aspek alam berada dalam keadaan berubah secara konstan, dengan api yang berubah menjadi air dan tanah, dan sebaliknya, dalam sebuah siklus yang abadi.

Aspek penting dari filsafatnya adalah bertemunya dua hal yang berlawanan. Menurut Heraclitus, setiap substansi yang berlawanan mengandung kebalikannya sendiri, berpartisipasi dalam pertukaran dan gerakan melingkar yang terus-menerus yang pada akhirnya menjaga stabilitas alam semesta.

Dia berpendapat bahwa kesatuan alam semesta ditopang oleh interaksi dinamis dari kekuatan-kekuatan yang berlawanan. Heraclitus memberikan contoh-contoh seperti hidup dan mati, bangun dan tidur, pemanasan, dan pendinginan untuk mengilustrasikan konsep ini.

Setelah Heraclitus, butuh waktu dua milenium bagi filsuf lain untuk mengakui signifikansi fundamental dari gerakan dialektis dalam realitas, melampaui penerapannya sebagai alat untuk argumentasi atau logika.

Dialog-dialog Plato: Metode Sokrates

Dialektika dalam filsafat Yunani Kuno umumnya dipahami sebagai bentuk penalaran yang didasarkan pada dialog argumentatif. Meskipun Zeno dari Elea dan kaum Sophis menggunakan beberapa bentuk penalaran dialektis, makna klasiknya sebagian besar berasal dari dialog Sokrates yang ditulis oleh Plato.

Dialog-dialog Sokrates berkontribusi pada pengembangan dialektika sebagai metode penyelidikan yang berkisar pada pertanyaan-pertanyaan untuk mengungkap makna di balik konsep-konsep dan memastikan kebenaran pernyataan. Dialog-dialog Sokrates Plato menampilkan Sokrates sebagai tokoh utama, yang sering kali menantang pengetahuan orang lain tentang konsep moral. Dengan menggunakan pendekatan ironis dan mengaku memiliki pengetahuan yang terbatas, Sokrates mengungkap ketidakkonsistenan dalam pemahaman lawannya.

Dalam dialog Euthyphro, Sokrates mengajukan pertanyaan kepada Euthyphro, memintanya untuk memberikan definisi kesalehan, yang kemudian dihubungkan oleh Euthyphro dengan gagasan tentang disukai oleh para dewa. Sokrates kemudian meminta Euthyphro untuk mengakui bahwa para dewa sendiri memiliki perbedaan pendapat, yang mengindikasikan bahwa ada hal-hal yang disukai oleh beberapa dewa, sementara yang lain membencinya. Sokrates kemudian menyimpulkan bahwa, berdasarkan definisi Euthyphro, pasti ada hal-hal yang saleh dan tidak saleh. Euthyphro menyadari absurditas dari hasil ini dan mengakui ketidakcukupan definisinya.

Dengan menggunakan metode Sokrates ini, Sokrates bertujuan untuk menuntun individu pada jalan menuju kebijaksanaan sejati. Penting untuk dicatat bahwa dialog-dialog ini ditulis oleh Plato, seorang murid Sokrates, dan ada perdebatan yang sedang berlangsung tentang seberapa akurat dialog-dialog tersebut mewakili pemikiran Sokrates yang sebenarnya.

Terinspirasi oleh metode Sokrates, Plato mengaitkan peran yang lebih tepat untuk dialektika dalam filsafat. Dalam Buku VII Republik, ia menyatakan bahwa “dialektika mencari melalui wacana rasional saja, tanpa menggunakan persepsi indera untuk melihat sifat sebenarnya dari suatu hal.” Oleh karena itu, dialektika Plato dapat dilihat sebagai pendekatan rasional untuk mengeksplorasi konsep-konsep filosofis seperti keadilan, kebenaran, keindahan, dan lain-lain. Dalam istilah Platonis, dialektika berfungsi sebagai metode untuk memahami esensi dari setiap forma dan berfungsi sebagai alat untuk mengakses dunia realitas di luar penampakan.

Pengaruhnya terhadap Filsafat Abad Pertengahan

Aristoteles, seorang murid Plato, mengambil langkah lebih jauh dan menghasilkan karya paling awal yang diketahui tentang dialektika. Dalam Topics, sebuah karya yang terdiri dari enam buku tentang logika, dialektika disajikan sebagai proses menciptakan dan menemukan argumen yang didasarkan pada pendapat yang diterima secara umum. Dia bahkan berpendapat bahwa dialektika masih belum sistematis dan mendasar sebelum dia menguji sendiri.

Aristoteles membedakan antara dialektika investigasi dan dialektika retorika, dengan memberikan peran dalam menetapkan prinsip-prinsip pertama pada dialektika melalui penalaran deduktif dan kesimpulan. Sementara Plato memandang klarifikasi ide sebagai tujuan akhir dari dialektika, Aristoteles memasukkan proses tersebut ke dalam teori yang lebih komprehensif tentang penyelidikan ilmiah dan rasional. Namun, ia membedakan penalaran dialektis dari proses pembuktian logis dalam Topic: “adalah jalan kebijaksanaan untuk menyadari sejauh mana ketepatan dan kepastian dapat diharapkan secara wajar dalam berbagai bidang pertimbangan.”

Perbedaan ini menyoroti bahwa dialektika tidak memberi kita pengetahuan demonstratif (apodeixis). Namun, penting untuk dicatat bahwa Aristoteles mengakui bahwa demonstrasi bukanlah satu-satunya jalan menuju pengetahuan (episteme). Oleh karena itu, ia membuat perbedaan yang jelas antara demonstrasi ilmiah (apodeixis), yang mengikuti proses penyimpulan (silogisme) dari prinsip-prinsip yang terbukti dengan sendirinya yang berfungsi sebagai kebenaran dasar, dan kesimpulan dialektis eksperimental yang diambil dari hipotesis yang hanya masuk akal.

Perbedaan utama terletak pada premis-premisnya daripada struktur logisnya. Demonstrasi membutuhkan premis-premis yang benar dan mendasar, sedangkan deduksi dialektis mengandalkan premis-premis yang dapat diterima. Aristoteles menganggap jenis dialektika proto-saintifik ini tidak hanya tepat tetapi juga penting dan sangat diperlukan.

Sementara dialektika Plato bertujuan untuk membuat perbedaan dan menyoroti perbedaan, Aristoteles berusaha untuk melampaui hal tersebut dan menetapkan prinsip-prinsip (archai) dalam bidang studi tertentu. Dengan kata lain, sementara dialektika Plato mengejar kebenaran tertinggi (ide), dialektika Aristoteles ditujukan pada kebenaran fundamental atau mendasar.

Awalnya dipengaruhi oleh konsep Stoa tentang dialektika sebagai logika formal, pemahaman khusus tentang dialektika ditransmisikan ke Abad Pertengahan awal melalui Boethius dan karyanya De Dialectica. Akibatnya, dialektika menjadi dikenal sebagai ilmu penalaran yang tepat oleh para pemikir abad pertengahan pada masa itu.

Dengan kebangkitan kembali pemikiran Aristoteles pada abad ke-12, dialektika semakin mengukuhkan posisinya yang terhormat. Thomas Aquinas, seorang filsuf abad pertengahan yang terkemuka, menggunakan kerangka kerja dialektika dalam karyanya yang terkenal, Summa Theologica.

Dia mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang kontroversial dan secara menyeluruh memeriksa keuntungan dan kerugian dari berbagai jawaban yang masuk akal. Praktik mengevaluasi posisi secara komprehensif melalui eksplorasi pro dan kontra di antara berbagai perspektif ini menjadi pendekatan standar hingga zaman Renaisans.

Namun, banyak cendekiawan abad pertengahan menafsirkan dialektika sebagai logika secara keseluruhan. Akibatnya, dialektika menjadi komponen integral dari trivium abad pertengahan, di samping retorika dan tata bahasa, dalam sistem pendidikan yang dilembagakan. Karena perannya yang menonjol dalam perdebatan dan diskusi akademis, dialektika mempertahankan kepentingan yang signifikan dalam pendidikan tinggi selama periode abad pertengahan.

Hanya dengan bangkitnya humanisme pada abad ke-15, pandangan kuno tentang dialektika mengalami kebangkitan. De Inventione Dialectica karya Rodolphus Agricola memainkan peran penting dalam membangun kembali dasar-dasar dialektika berdasarkan prinsip-prinsip Aristoteles. Karya ini menekankan bahwa dialektika berurusan dengan masalah probabilitas dengan mempertimbangkan dengan cermat argumen-argumen yang saling bertentangan yang mendukung atau menentang jawaban yang berbeda untuk pertanyaan yang dapat diperdebatkan.

Idealisme Jerman: Pembangunan Kembali Dialektika Kant dan Hegel

Pengejaran Rene Descartes terhadap kepastian dan penolakannya terhadap kemungkinan yang didasarkan pada pendapat yang didasarkan pada informasi telah meletakkan dasar untuk pemeriksaan kritis terhadap penalaran dialektis pada abad ke-18. Namun, Immanuel Kant, yang ajarannya menandai kebangkitan Idealisme Jerman, yang melakukan pemeriksaan komprehensif terhadap dialektika.

Dialektika pada saat itu pada dasarnya adalah alat untuk mengelola kebenaran abadi yang diterima begitu saja berdasarkan prinsip-prinsip logika. Selama periode abad pertengahan, wahyu diperkenalkan sebagai titik acuan tambahan yang tak terbantahkan. Namun, bagi Kant, tidak mungkin bagi manusia untuk mencapai pengetahuan teoritis yang pasti mengenai sifat dasar dari segala sesuatu. Hal ini terutama berkaitan dengan hal-hal yang berada di luar persepsi inderawi, seperti kebebasan, keadilan, dan Tuhan, yang telah sering diteliti melalui penalaran dialektis.

Dalam Critique of Pure Reason, Kant mencoba untuk menetapkan batas-batas dan cakupan metafisika. Tema utama dari karya Kant adalah bahwa kita tidak akan pernah bisa memahami objek dalam sifat aslinya (benda itu sendiri), terlepas dari pengamatan, tetapi hanya penampakannya saja. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan yang melekat pada diri kita, karena kita terkungkung oleh konsep-konsep kita seperti ruang dan waktu, yang memahami segala sesuatu hanya melalui kategori-kategori ini.

Bagi Kant, akal budi terjerat dalam proses dialektis di mana setiap pertanyaan memunculkan pertanyaan lain, karena setiap jawaban itu sendiri menghasilkan pertanyaan-pertanyaan lebih lanjut. Dalam bab berjudul “Dialektika Transendental,” Kant bertujuan untuk menjelaskan kontradiksi inheren yang ditemukan dalam akal budi yang tidak terbatas.

Dia menggunakan apa yang disebutnya sebagai Antinomi, yaitu empat pasang proposisi yang saling bertentangan mengenai topik-topik seperti keberadaan Tuhan. Dengan demikian, Kant ingin menunjukkan bahwa kedua proposisi yang berlawanan tersebut dapat didukung secara logis, meskipun keduanya saling bertentangan. Hal ini, menurutnya, merupakan kesia-siaan dari keterlibatan dalam penalaran dialektis yang berkaitan dengan proposisi yang melampaui pemahaman intelek manusia. Itulah mengapa ia menganggap dialektika sebagai ilusi pemahaman transendental.

Dialektika memperoleh pemahaman yang sama sekali baru melalui karya-karya Georg Wilhelm Friedrich Hegel, seorang filsuf penting dari Idealisme Jerman. Sebagai sebuah teori yang menjelaskan perubahan melalui kontradiksi internal mereka sendiri, dialektika diskursif sekarang digantikan oleh dialektika proses alamiah, karena gerakan menjadi perkembangan yang diperlukan. Alih-alih muncul dari konflik antara dua entitas yang ada secara independen, gerakan dialektis dalam filsafat Hegel adalah potensi inheren yang didorong oleh kontradiksi yang ada di semua entitas, baik mental maupun material.

Hegel mengembangkan dua versi dialektika. Versi yang lebih sempit, yang dikenal sebagai dialektika yang sangat formal yang disajikan dalam Science of Logic, berusaha menawarkan pembenaran teoretis untuk kategori-kategori Kant. Hegel mengilustrasikan hal ini melalui contoh dialektika eksistensi dari Ilmu Logika.

Pertama, eksistensi diandaikan sebagai ada murni; namun, ada murni, yang tidak memiliki isi, ternyata tidak dapat dipisahkan dari ketiadaan. Namun, ada dan tiada bersatu dalam proses menjadi. Di sini, diakui bahwa apa yang muncul menjadi ada secara bersamaan melebur kembali ke dalam ketiadaan.

Hal ini dapat diamati dalam kehidupan itu sendiri, di mana organisme yang lebih tua musnah sementara organisme baru lahir. Aspek penting dari proses dialektika triadik Hegel adalah bahwa hal-hal yang berlawanan didamaikan pada tahap akhir dengan memasukkan unsur-unsur positif dari kedua belah pihak.

Namun, Hegel juga mengembangkan dialektika ontologis yang berkaitan dengan perkembangan sejarah. Hegel menggunakan skema dialektika ini dalam berbagai cara, seperti dalam eksplorasinya mengenai perkembangan kesadaran manusia dalam Phenomenology of Spirit dan pemeriksaannya terhadap aktualisasi kebebasan manusia dalam Elements of the Philosophy of Right. Bagi Hegel, kemajuan dialektis bukan hanya alat untuk memahami realitas, tetapi merupakan aspek yang melekat pada realitas yang dipahami. Untuk pertama kalinya sejak Heraclitus, dialektika menjadi bagian integral dari realitas melalui Hegel.

Materialisme Historis Marx: Dialektika Sejarah

Karl Marx, mantan murid Hegel, menggunakan dialektika dengan cara yang materialistis. Meskipun ia tidak sepenuhnya menolak pandangan komprehensif Hegel tentang dialektika, Marx percaya bahwa metode dialektika harus diterapkan pada dunia material. Oleh karena itu, ia terkenal mengatakan bahwa dialektika Hegel berdiri di atas kepalanya dan harus dibalikkan ke atas lagi.

Karl Marx berusaha menggunakan dialektika dalam analisis sejarah dengan berfokus pada transformasi material, karena ia percaya bahwa kondisi material memainkan peran mendasar dalam membentuk ide dan kesadaran manusia.

Dialektika Karl Marx dimanifestasikan dalam konsepsi materialisnya tentang sejarah, yang secara sederhana disajikan dalam kata pengantar A Contribution to the Critique of Political Economy. Marx menjelaskan bagaimana individu-individu ditempatkan dalam hubungan sosial tertentu yang ditentukan oleh kerangka ekonomi masyarakatnya.

Kesadaran kolektif masyarakat pada akhirnya dibentuk oleh modus dan hubungan produksi dalam kerangka kerja ini. Seiring berjalannya waktu, struktur ekonomi mengalami transformasi melalui proses revolusioner yang dipicu oleh kontradiksi yang muncul di antara kelas-kelas sosial yang berbeda:

“Sejarah semua masyarakat yang ada sampai sekarang adalah sejarah perjuangan kelas.” – Marx & Engels, 1848

Pernyataan di atas secara ringkas menangkap materialisme dialektis Karl Marx. Kekuatan pendorong sejarah dalam dialektika Marxian adalah kelas-kelas yang berlawanan. Sepanjang zaman sejarah yang berbeda, menurutnya, selalu ada kelas-kelas sosial yang berkonflik, dengan yang satu bertindak sebagai penindas dan yang lainnya sebagai yang tertindas.

Hubungan ini mengambil berbagai bentuk di era yang berbeda, karena setiap moda produksi memiliki dinamika inheren yang unik: budak dan orang merdeka, orang jelata dan ningrat, budak dan bangsawan, proletar dan borjuis. Seiring dengan berkembangnya moda produksi dalam suatu masyarakat, moda produksi tersebut menghadapi kontradiksi-kontradiksi baru yang pada akhirnya akan digantikan oleh struktur ekonomi yang lebih maju.

Ini adalah bagaimana Karl Marx menjelaskan proses masyarakat primitif berevolusi menjadi masyarakat budak, kemudian masyarakat feodal, dan akhirnya bertransisi menjadi kapitalis. Metode dialektika Marx, meskipun merupakan metode yang paling konkret dan menarik, mungkin juga merupakan metode yang paling banyak dikritik, karena metode ini memiliki dampak terbesar pada dunia modern.*