“Kamar Sunyi,” oleh Gerard N Bibang

0
Gerard N Bibang

BERJINGKRAK-JINGKRAK

karena ini puisi
maka lihat dan bacalah dengan jiwa bening
karena ini sajak
maka terimalah dengan riang gembira
hidup ini sejatinya sendagurau, dik
dunia ini selalu membunuh kita sebelum mati

ketika tiba senyap sesaat
jangan anggap itu sebagai kiamat
kasih sayang kita sedang bejingkrak-jingkrak
bersama pesona desiran daun-daun memikat

KAMAR SUNYI

ketika engkau mempersaingkan hari esok atas nama cinta
jangan lupakan kata hatimu di kandungan cakrawala
cinta adalah anugerah terberi
engkau sendiri tak pernah sepenuhnya mengerti

kalau engkau terkadang cemas karena diiming-imingi tetangga dan kenyataan
berkacalah pada berdiam-diri di kamar sunyi
jangan lupakan kata-katamu untuk tak akan pernah berhenti mencinta
rahasia yang engkau hidupi sebagai misteri
sebuah cinta yang konkrit dan tak mati-mati

GUA RAHASIA

serasa berjalan di dalam gua rahasia
meraba-raba untuk menemukan apa yang tiada
andaikata mengikuti apa kata dunia
telah lama kularungkan jiwa raga ke angkasa

ego dan nafsu menumpas kehidupan
oleh cinta nyawa dikembalikan
cinta kita tak harus kasatmata
meski mencari-cari dalam gua rahasia
kuyakin seyakin-yakinnya cinta kita bukanlah tiada

BATU KARANG

ini oleh-olehku dari mencintamu, dik
ialah sinar wajahku yang bagi orang tak lebih dari teka-teki
padahal itu adalah pancaran cinta yang tak terumuskan oleh ilmu fisika
hatimu sabar mulia, kakimu seteguh batu karang
dadamu mencakrawala, seluas-luas samudera
merangkum jiwa kita menjadi satu
misteri yang mengatasi ruang dan waktu

KE MANA PERGI

siapakah mereka?
wajah mereka tak menentu jenisnya
tiap saat berganti nama
tegantung kepentingannya apa
tergantung rugi atau laba
mereka pilih kepada siapa tertawa dan bayar

tapi siapakah kita?
kaki kita melangkah meski tak selalu tahu ke mana
sanubari mendengarkan suara sejati
maka langkah kita tidak mengabdi pada nafsu sendiri
yang bisa kita pandang hanya kepentingan diri

tapi apa yang kita cari?
ialah Sang HIDUP itu sendiri
maka emas tak pernah disangka loyang
yang besar tak dikecil-kecilkan
yang remeh dan ampas tak dimuliakan
yang sepele tak dipenting-pentingkan
yang utama tak disepelekan

betapa busuk hidup kami di sini, ya Tuhan
dan masih akan membusuk lagi
betapa gelap hari di depan kami
mohon terangilah kami yang hina dina ini

**(gnb:tmn aries:jkt:sabtu:20.11.21)

*) Gerard N Bibang adalah dosen sekaligus penyair kelahiran Manggarai, Flores NTT. Ia adalah penyair yang menahbiskan dirinya sebagai petani humaniora. Gerard saat ini berdomisili di Jakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here