Menggali Makna Kosmologis di Balik Film Avatar

0

FILSAFAT, Bulir.id – Pada tahun 2009, Avatar karya James Cameron dirilis di bioskop-bioskop di seluruh dunia dan menuai pujian kritis sebagai salah satu film tersukses sepanjang masa. Film ini memperkenalkan kita pada dunia Pandora, tempat mistis dan sakral, serta simbol kehidupan itu sendiri. Sajian visualnya layak mendapatkan banyak penghargaan yang diraihnya dengan tema-tema tentang keterhubungan, keserakahan, dan kehilangan, tema-tema yang telah hadir dalam banyak film sebelum dan sesudahnya, dan tema-tema yang menyentuh emosi jutaan penonton di seluruh dunia.

Tema “Planet Suci” menceritakan tentang dunia yang memiliki kepentingan ekologis, dipenuhi dengan energi spiritual ilahi, dan yang membimbing penghuninya, yang merupakan bagian dari keseluruhannya. Ia dipuja sebagai makhluk hidup, arketipe Ibu Pertiwi, yang menyediakan kebutuhan bagi semua orang yang menjadi bagian dari eksistensinya yang saling terhubung.

Tema ini diambil dari dinamika dunia nyata dan terhubung dengan kisah-kisah masyarakat adat yang berjuang melawan penindas kolonial atau korporasi yang ingin mengeksploitasi tanah mereka. Tema ini sering diceritakan dan diulang melalui upaya sinematik, baik yang menggambarkan peristiwa nyata atau, seperti dalam kasus Avatar dan bulan Pandora, fiksi yang mudah dipahami.

Kesamaan antara tema Avatar dan dunia nyata sangat banyak. Mulai dari sejarah penjajahan dan penderitaan masyarakat adat di seluruh dunia, hingga peristiwa modern seperti suku-suku Amazon yang melawan penebang kayu, atau penduduk asli Amerika yang memprotes pembangunan jalur pipa minyak melalui wilayah mereka. Cameron menceritakan kisah Avatar dengan motif khusus untuk menyampaikan pesannya secara gamblang.

Bron Taylor, profesor agama dan alam di Universitas Florida, menyatakan bahwa cerita tersebut secara metaforis benar dan menunjukkan bagaimana motif imperialistik menghancurkan budaya asli dan menyebabkan kerusakan ekologis.

Dalam film, Planet Suci adalah tema populer, yang dicontohkan dalam banyak kasus, seperti Arrakis dalam Dune. Namun, dalam kasus Pandora, planet (atau bulan dalam hal ini) jelas-jelas hidup. Popularitas cerita-cerita ini, baik fiksi maupun non-fiksi, tidak dapat disangkal. Mereka berbicara kepada bagian primal dari diri kita yang ingin merasakan hubungan yang mendalam dengan alam, keinginan yang tidak mengherankan mengingat tempat kita dalam sejarah evolusi sebagai pemburu-pengumpul selama jutaan tahun, hidup harmonis dengan dunia di sekitar kita. Dalam hal ini, Na’vi mewakili bagian dari diri kita yang ada ribuan tahun yang lalu, yang telah ditekan oleh kemajuan peradaban.

Dalam beberapa dekade terakhir, kekhawatiran atas dampak ekologis yang ditimbulkan spesies kita terhadap dunia telah meningkatkan kesadaran akan masalah lingkungan dan kebutuhan untuk memulihkan keseimbangan.

Bagi makhluk berakal yang menyebut Pandora sebagai rumah mereka, dunia mereka lebih dari sekadar tempat tinggal. Itu adalah dewa mereka, yang mereka sebut Eywa. Ia adalah bagian dari diri mereka dalam pikiran, tubuh, dan jiwa. Lebih dari sekadar dewa, Eywa hadir sebagai perwujudan dari semua kehidupan yang terhubung di Pandora. Eywa adalah kehidupan dan membimbing kehidupan itu sendiri.

Dalam hal ini, suku Na’vi adalah bagian dari ekosistem dan berusaha untuk hidup harmonis dengannya. Ada juga kesadaran tertentu yang terkait dengan Eywa, karena ia mampu mengoordinasikan semua makhluk hidup di dunia, memengaruhi mereka untuk bekerja sama dalam menangkis bahaya bagi seluruh ekosistem.

Dan di pusat cerita terdapat pohon-pohon keramat, yang merupakan pusat spiritualisme. Pohon Jiwa adalah situs suci monumental bagi suku Na’vi, yang mencerminkan gagasan tentang situs-situs suci yang sangat dihargai oleh masyarakat asli Amerika.

Sama seperti penggambaran kuno tentang penduduk asli Amerika, suku Na’vi berjuang untuk melindungi dewa mereka, yang merupakan representasi kehidupan itu sendiri, dari keserakahan kekuatan yang haus akan sumber daya.

Namun, dalam hal ini, terdapat kritik yang bersifat negatif maupun positif. Beberapa pihak menuduh film ini melanggengkan stereotip “Bangsawan Liar” dan menyajikan representasi yang bermasalah tentang kenaifan di kalangan masyarakat adat, serta tuduhan bahwa film ini merangkul stereotip “Mesias Kulit Putih”. Dan meskipun hal ini mungkin benar, ada argumen bahwa hal-hal tersebut diperlukan untuk menceritakan kisah tersebut. Apa pun itu, interpretasi terbuka untuk perdebatan yang luas yang menghasilkan pandangan yang berlawanan. Konsensus tidak akan pernah sepenuhnya tercapai.

Avatar merupakan pencapaian luar biasa bagi semua yang terlibat, dan dengan terampil menyampaikan pesannya secara gamblang dan tanpa basa-basi. Seiring peradaban, dan khususnya korporasi, yang secara konsisten semakin terbukti menjadi ancaman bagi alam di seluruh dunia, pesan Avatar menjadi pesan penting yang relevan dan tak ternilai bagi masyarakat modern.*