Merasa Sudah Mapan Usai Terima SK Pengangkatan, Puluhan PPPK di Cianjur Ceraikan Suami

0

CIANJUR, Bulir.id – Gugatan perceraian menjadi fenomena mengejutkan di lingkungan Pemerintahan Kabupaten Cianjur. Sebanyak 40 ASN PPPK ajukan cerai usai terima Surat Keputusan (SK) pengangkatan.

Mereka terdiri dari 30 orang PNS dan 12 orang PPPK, yang didominasi kaum perempuan. Masalah ekonomi dan cekcok yang berlarut-larut menjadi pemicu kasus gugatan perceraian tersebut.

Gugatan cerai yang didominasi oleh para guru perempuan ini memunculkan pertanyaan mengapa kemapanan status dan finansial justru menjadi pemicu keretakan rumah tangga?

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Cianjur, Ruhli, mengonfirmasi bahwa mayoritas pemohon adalah perempuan dari lingkungan pendidikan yang menggugat suami mereka.

“Tadi saya cek ke bidang, ternyata ada 30 orang atau sekitar 1 persen dari PPPK yang diangkat tahun ini mengajukan cerai. Sebagian besar perempuan yang menggugat suaminya,” katanya kepada wartawan.

Menurut Ruhli problem utama perceraian dikarenakan oleh faktor ekonomi dan perselisihan yang sudah berlangsung lama. Status baru sebagai PPPK dengan gaji tetap dan tunjangan yang jelas, memberikan kekuatan finansial bagi para istri yang selama ini mungkin bergantung pada suami.

“Pemicunya ekonomi. Salah satunya karena sekarang perempuannya sudah punya kemandirian ekonomi sebagai PPPK, sehingga menggugat cerai suaminya,” tegasnya.

Menurutnya, fenomena tersebut bukanlah berarti status ASN menjadi biang keladi perceraian. Para ahli melihatnya sebagai bom waktu masalah rumah tangga yang sudah lama terpendam.

Sebagian besar perempuan yang mengajukan perceraian tersebut dikarenakan pernikahan yang tidak sehat (toxic relationship). Problem seperti pengangguran, judi, atau bahkan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) menjadi pemicu fenomena tersebut terjadi.

SK PPPK yang diterima dinilai sebagai jaminan untuk keluar dari masalah ekonomi yang sebelumnya telah menjerat rumah tangganya. Kemandirian finansial memberi mereka keberanian dan kekuatan untuk lepas dari belenggu hubungan yang menyiksa.*