Mengapa Bruno Latour Mengklaim bahwa “Kita Belum Pernah Modern”?

0

FILSAFAT, Bulir.id – Bruno Latour adalah seorang pemikir yang kompleks. Ia terkenal sebagai etnografer dunia teknologi sehari-hari yang dengan cermat mempelajari bagaimana hal-hal yang sekilas tampak tidak penting, seperti kunci atau sabuk pengaman, secara aktif memengaruhi perilaku kita.

Yang lain mengenal Latour sebagai penulis esai yang sangat teoretis yang menuduh para filsuf postmodernis, terutama Lyotard dan Baudrillard, tetapi juga Barthes, Lacan, dan Derrida bahwa pemikiran mereka hanya berkisar pada “dunia tanda” buatan. Dia menantang mereka dengan pernyataan provokatif bahwa “kita tidak pernah modern.”

Apa yang Dimaksud Bruno Latour dengan “Kita Belum Pernah Modern?”

Buku We Have Never Been Modern karya Bruno Latour menantang pembagian konvensional antara alam dan budaya dan menyatakan bahwa modernitas tidak menjanjikan kemajuan dan pencerahan . Ini adalah bacaan yang menggugah pikiran dan sulit. Artikel ini akan memberikan gambaran umum tentang posisi Latour dan pengaruhnya terhadap cara berpikir kita tentang modernitas.

Sejak diterbitkan pada tahun 1991, We Have Never Been Modern telah memberikan pengaruh yang signifikan terhadap studi sosiologi, antropologi, dan sains. Ini adalah karya yang inovatif dan kontroversial.

Buku ini merupakan terobosan baru karena menawarkan kerangka kerja berbeda untuk memahami bagaimana manusia berinteraksi dengan dunia luar. Di dalamnya, Latour berargumen bahwa modernitas adalah sebuah konstruksi palsu yang mengabaikan dalam mempertimbangkan berbagai hubungan sosial dan lingkungan yang dimiliki masyarakat dengan lingkungannya.

Daripada hanya berada dalam tatanan yang kaku dan telah ditentukan sebelumnya, argumen Latour didasarkan pada gagasan bahwa manusia terus-menerus menciptakan dunianya sendiri. Ia menolak gagasan bahwa ada esensi “modern” yang tetap dan tidak berubah, dengan alasan bahwa semua masyarakat adalah masyarakat hibrid, tidak sepenuhnya berstruktur “modern” atau “tradisional”, dan terus-menerus melakukan negosiasi antara dunia alam dan dunia budaya.

Selain itu, ia menolak gagasan bahwa ada serangkaian nilai yang harus dipatuhi oleh semua orang dan berpendapat bahwa keyakinan dan nilai-nilai kita diperebutkan dan dinegosiasikan dalam konteks lingkungan yang terus berkembang.

Yang Kuno dan Modern

Dibandingkan dengan masa lalu yang kuno dan dapat dipercaya, modernitas adalah sebuah terobosan waktu. Kata “Modern” berarti jeda waktu dan konflik antara pemenang dan pecundang. Preposisi ini digunakan untuk memenuhi syarat kata sifat ini karena kita kurang yakin dengan kemampuan kita mempertahankan asimetri ganda.

Latour berpendapat bahwa hal ini terjadi karena kita tidak lagi mampu menunjukkan panah waktu yang tidak dapat diubah atau memberikan hadiah kepada para pemenang. Tidak selalu mudah untuk menentukan siapa yang akan menang dalam konflik antara kelompok kontemporer dan tradisional, kelompok barbar dan sipil. Revolusi dapat mewujudkan atau mengakhiri sistem rezim yang menindas, dan hal ini tidak selalu jelas.

Untuk menandai berakhirnya modernitas, yang ditandai dengan kemajuan yang stabil, Pencerahan, dan sejarah linier, kebingungan baru ini kemudian diberi label “post-modernisme”. Latour tidak setuju dengan hal ini, dan ia berpendapat bahwa masalahnya bukan karena kita sudah tidak modern lagi atau kita sudah meninggalkan modernitas, namun kita tidak pernah memasukinya.

Apa Sebenarnya Modernitas Itu?

Latour berpendapat bahwa serangkaian nilai dan keyakinan seperti kemajuan, akal sehat, dan individualisme sering kali dikaitkan dengan modernitas. Latour berpendapat bahwa nilai-nilai ini, meskipun tidak secara eksklusif dikaitkan dengan modernitas, telah hadir sepanjang sejarah dalam berbagai bentuk.

Menurut Latour, pembagian alam dan budaya merupakan ciri utama modernitas. Gagasan bahwa alam adalah objek pasif untuk dipelajari dan dimanipulasi oleh manusia dan bahwa manusia lebih unggul darinya mendefinisikan modernitas, menurutnya. Masyarakat modern terstruktur sedemikian rupa sehingga mencerminkan pembagian ini, dengan masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan dan alam terbatas pada taman dan kawasan khusus lainnya.

Namun Latour membantah kemungkinan pemisahan antara alam dan budaya, dan berpendapat bahwa hal tersebut hanya rekayasa. Menurutnya, manusia dan alam saling berkaitan dan tidak terpisahkan. Baginya, alam berperan aktif dalam pembentukan dunia sosial dan budaya kita, bertentangan dengan apa yang selama ini diyakini.

Ia mengkaji gagasan tentang konstitusi modern, yang ia definisikan sebagai kumpulan ide dan kebiasaan yang membentuk dasar modernitas. Ia berpendapat bahwa pemisahan mendasar antara alam dan masyarakat yang mendasari konstitusi modern telah menghasilkan sejumlah masalah sosial dan lingkungan, dengan menyatakan bahwa sejumlah oposisi biner, termasuk alam dan budaya, subjek dan objek, serta fakta dan nilai, membentuk fondasi konstitusi modern.

Perbedaan ini menghasilkan hierarki di mana ilmu pengetahuan dipandang sebagai kebenaran universal, dan pengetahuan objektif dipandang lebih unggul daripada jenis pengetahuan lainnya, yang dipandang subjektif dan lebih rendah. Manusia juga dipandang lebih unggul dari alam.

Konstitusi Modern

Bruno Latour mengklaim bahwa konstitusi modern telah berkontribusi terhadap sejumlah masalah sosial dan lingkungan, seperti eksploitasi sumber daya alam, perusakan habitat alami, dan marginalisasi masyarakat adat serta kelompok lain yang tidak sesuai dengan pandangan dunia modernis. Ia berpendapat bahwa konstitusi modern gagal mengakui keterhubungan antara manusia dan alam, yang menjadi penyebab permasalahan ini.

Latour menyarankan bahwa untuk mengembangkan pemahaman baru tentang keterkaitan antara manusia dan alam, kita harus melihat melampaui konstitusi modern. Dia berpendapat bahwa kita harus mengakui hubungan erat antara manusia dan alam dan bahwa ada bentuk pengetahuan lain yang sah selain sains. Ia berpendapat bahwa untuk lebih memahami kompleksitas dan keterhubungan dunia kita, kita harus mengembangkan cara berpikir dan berperilaku baru.

Cara Eksistensi: Pramodern dan Modern

Klaim utama Latour adalah bahwa dunia modern dicirikan oleh kontradiksi mendasar antara dua mode eksistensi: mode eksistensi “pramodern”, di mana manusia dan non-manusia hidup berdampingan dalam jaringan hubungan, dan mode eksistensi “modern”, di mana manusia terputus dari alam dan ditempatkan di dunia budaya murni.

Latour mengklaim bahwa Pencerahan, yang bertujuan untuk membebaskan manusia dari belenggu tradisi dan takhayul serta membangun masyarakat yang rasional, ilmiah, dan sekuler, adalah penyebab dikotomi ini.

Kita tidak pernah benar-benar modern, dan proyek modernitas telah gagal. Ia berpendapat bahwa mitos pemisahan antara alam dan budaya tidaklah benar dan bahwa dunia modern, pada kenyataannya, dicirikan oleh jaringan hubungan yang kompleks antara manusia dan non-manusia.

Latour menggunakan banyak contoh dari ilmu pengetahuan, politik, dan budaya untuk memperkuat klaimnya. Dia mengeksplorasi bagaimana jaringan hubungan yang rumit antara manusia dan non-manusia disaring menjadi kumpulan konsep abstrak melalui proses yang dikenal sebagai “black boxing,” yang merupakan cara bagaimana pengetahuan ilmiah diciptakan.

Ia juga meneliti bagaimana institusi politik diciptakan melalui proses “pemurnian” di mana jaringan hubungan yang rumit antara berbagai kelompok dan kepentingan dipadatkan menjadi oposisi biner antara negara dan individu.

Pemahaman kita tentang interaksi antara manusia dan alam secara signifikan dipengaruhi oleh kritik Latour terhadap modernitas. Menurutnya, pembagian tradisional antara alam dan budaya adalah produk sampingan dari modernitas dan telah menghasilkan hubungan yang antagonis dan tidak berkelanjutan antara manusia dan alam.

Dia berpendapat bahwa kita perlu melewati dikotomi ini dan menciptakan perspektif baru tentang bagaimana manusia dan hewan lain berinteraksi, yang memperhitungkan jaringan hubungan rumit yang ada di antara mereka.

Kita harus bergerak melewati dikotomi ini dan mengembangkan pemahaman baru tentang jaringan hubungan rumit yang ada antara manusia dan non-manusia. Kritiknya terhadap pemisahan antara alam dan budaya memiliki implikasi yang signifikan terhadap pemahaman kita tentang hubungan antara manusia dan alam.

Penolakan Bruno Latour terhadap Gagasan Modernisme

Berbeda dengan gagasan bahwa modernitas adalah proses perubahan linier yang stabil dan seragam, buku Latour menyatakan bahwa modernitas tidak pernah menjadi fenomena yang homogen dan terus berubah.

Fakta bahwa Latour lebih dari sekadar menolak gagasan modernitas dan menganjurkan pelestarian tradisi pramodern regional tertentu adalah salah satu elemen paling kontroversial dalam buku ini. Hal ini dipandang sebagai tantangan terhadap gagasan Barat tentang kemajuan, yang menyatakan bahwa kebebasan dan kesetaraan hanya mungkin dicapai melalui kemajuan modernitas. Metode Latour dikritik karena tidak efektif dan mengabaikan fakta bahwa tradisi-tradisi pramodern tertentu dapat menindas dan berbahaya bagi komunitas tertentu.

Buku ini memiliki dampak yang signifikan karena memicu diskusi yang kontroversial tentang sifat modernitas dan berkontribusi dalam membongkar wacana yang ada. Ketika mempertimbangkan dugaan “kemajuan” modernitas, buku ini juga berfungsi untuk menekankan pentingnya memahami berbagai budaya dan konteks regional. Selain itu, buku ini memberikan alternatif terhadap narasi modernitas konvensional dengan menyajikan perspektif baru dalam memahami dan menganalisis dunia kontemporer kita. Pada akhirnya, buku ini telah mengubah cara kita berpikir tentang modernitas dan implikasinya.*