5 Kesalahan yang Dilakukan Sir Alex Ferguson Saat Menjadi Manajer Manchester United

0

SPORT, Bulir.id – Sir Alex Ferguson dianggap sebagai salah satu manajer terhebat yang pernah ada. Pelatih asal Skotlandia ini, menghabiskan sebagian besar karier kepelatihannya bersama Manchester United. Ia mengubah klub tersebut menjadi kekuatan super Eropa.

Sir Alex Ferguson tak hanya memenangkan banyak trofi, tetapi juga menjadikan mereka klub yang tersohor di seluruh dunia dan kini menjadi klub dengan jumlah penggemar terbanyak. Meskipun Ferguson memimpin United selama 27 tahun penuh kejayaan dan ketenaran, ia juga membuat beberapa kesalahan besar selama masa jabatannya sebagai manajer United, beberapa di antaranya disesali olehnya dan klub di kemudian hari.

Mari kita lihat lima kesalahan terbesar yang dilakukan Ferguson selama masa jabatannya.

5. Insiden David Beckham

David Beckham adalah pemain favorit penggemar di Old Trafford, tetapi hubungannya dengan mantan manajernya sangat renggang. Di awal tahun 2000-an, hubungannya dengan Ferguson mulai memburuk, kemungkinan akibat ketenaran sang kapten Inggris dan komitmennya di luar sepak bola.

Ferguson mengkritik Beckham dalam autobiografinya, mengklaim bahwa ia tidak” adil terhadap rekan satu timnya”. Hubungan mereka mencapai titik kritis pada tahun 2003 setelah kekalahan Piala FA melawan Arsenal, ketika Ferguson dengan marah melemparkan (atau menendang) sepatu bot ke arah Beckham yang mengenainya di atas mata, menyebabkan luka yang membutuhkan jahitan.

Ada banyak spekulasi mengenai masa depan Beckham setelah insiden sepatu bot yang terkenal itu, dan pria Inggris itu akhirnya meninggalkan klub dan bergabung dengan Real Madrid di jendela transfer berikutnya.

“Dia tidak pernah menjadi masalah sampai dia menikah. Dia biasa pergi bekerja dengan pelatih akademi di malam hari, dia anak muda yang fantastis.”

“Menikah dengan orang-orang di dunia hiburan itu sulit, sejak saat itu, hidupnya takkan pernah sama lagi. Dia selebritas besar, sepak bola hanyalah bagian kecilnya.”

4. Kasus aneh penjaga gawang

Setelah kepergian Peter Schmeichel ke Sporting pada tahun 1999, Ferguson dikabarkan menolak kesempatan untuk merekrut Edwin van der Sar. United kemudian merekrut pemain Belanda yang didambakan itu pada tahun 2005. Namun, selama enam tahun antara kepergian Schmeichel dan kedatangan Van der Sar, United terus-menerus mengalami masalah di lini pertahanan.

10 penjaga gawang berbeda menjadi penjaga gawang United selama enam tahun tersebut, mulai dari Fabian Barthez hingga Massimo Taibi yang benar-benar buruk.

Barthez adalah pemenang Liga Champions, Piala Dunia FIFA, dan Piala Eropa sebelum bergabung dengan Manchester United. Namun, pemain Prancis itu kurang konsisten di bawah mistar gawang dan meskipun bertahan empat musim bersama United, ia bukan pilihan utama selama masa baktinya di sana.

Selama periode ini, Ferguson juga mencoba peruntungannya dengan Roy Carroll, tetapi Carroll akan selamanya diingat karena penyelamatan yang tidak berhasil melawan Spurs.

Yang terburuk dari semuanya adalah Massimo Taibi, yang memberikan cuplikan lelucon hebat dalam pertandingan melawan Southampton dan menjadi penjaga gawang United hanya dalam empat kesempatan.

3. Penjualan Jaap Stam yang tak terduga

Sir Alex Ferguson secara terbuka mengakui bahwa menjual Stam, yang merupakan sosok krusial di jantung pertahanan Manchester United selama tiga tahun masa baktinya di klub, adalah sebuah kesalahan. Ferguson berkata, “Ketika saya memikirkan kekecewaan, jelas Jaap Stam selalu mengecewakan saya, saya membuat keputusan yang buruk saat itu.”

Stam mengungkapkan dalam otobiografinya bahwa Ferguson telah memaksanya untuk bergabung dengan klub Serie A Lazio setelah percakapan di mobilnya di sebuah pompa bensin.

Di pom bensin, dia memarkir mobilnya dan masuk bersama saya. Dia bilang saya harus dipindahkan. Lalu dia berkata, ‘Bisakah kamu cepat pindah ke Lazio?’

“Saya setuju. Saat itu juga. Satu percakapan singkat di mobil saya di sebuah pom bensin di Manchester sudah cukup bagi saya untuk meninggalkan klub besar itu.”

“Ketika saya memikirkannya sekarang dan saya belum pernah membicarakannya sebelumnya, saya merasa tidak percaya saya membiarkan hal itu, sebagai seorang pemain, terjadi pada saya.”

Insiden ini terjadi pada tahun 2001, ketika Stam baru pulih dari cedera Achilles dan berat badannya turun sedikit. United kemudian menerima tawaran sebesar £16,5 juta dari Lazio untuk bek tengah berusia 29 tahun itu, dan Ferguson mengungkapkan bahwa tawaran itu tidak bisa ia tolak. Namun, secara permainan, itu adalah sebuah kesalahan.

2. Mengabaikan Paul Pogba

Paul Pogba bisa dibilang salah satu gelandang muda terbaik di dunia sepak bola saat ini. Pemain Prancis ini terpilih sebagai pemain muda terbaik di Piala Dunia FIFA 2014 dan juga memenangkan penghargaan Golden Boy. Pogba merupakan lulusan akademi Manchester United sebelum pindah ke Juventus dengan status bebas transfer.

Ia bergabung dengan akademi United dari Le Havre. Ia bisa saja menjadi solusi United untuk masalah lini tengah mereka karena ia bisa dengan mudah masuk ke tim utama United dan menggantikan Paul Scholes dan Michael Carrick yang menua (atau mungkin bahkan Darren Fletcher yang cedera).

Namun, Ferguson menyia-nyiakan kesempatan emasnya dengan tidak memberi Pogba cukup kesempatan bermain di tim utama. Pemain berusia 21 tahun itu mengungkapkan bahwa ia pernah mendesak Ferguson untuk memainkannya sebagai starter melawan Blackburn pada Desember 2011 karena United sedang mengalami krisis lini tengah.

“Saya bilang ke Ferguson: ‘Mainkan saya, nanti saya tunjukkan apakah saya siap atau tidak’,” ujarnya. Ferguson justru menempatkan Rafael di lini tengah bersama Ji Sung Park dan Pogba di bangku cadangan. Gelandang Prancis itu mengaku sudah menyerah dan sangat kecewa karena United kalah 3-2.

Empat tahun setelah kepindahannya ke Juventus, United langsung setuju untuk membayar kesalahan mereka. Kesalahan tersebut menelan biaya £89 juta, sebuah rekor dunia saat itu.

1. Menunjuk David Moyes

Ketika pensiun pada tahun 2013, Ferguson sendirilah yang secara pribadi merekomendasikan David Moyes sebagai penggantinya di Old Trafford. Ferguson justru memilih rekan senegaranya dengan keahlian serupa, alih-alih memilih manajer yang jauh lebih berpengalaman dengan kredensial yang lebih baik.

Dan keputusan itu terbukti salah karena Moyes dipecat hanya 10 bulan setelah menjabat, yang menyebabkan Manchester United terjerumus dalam berbagai masalah.

Agar adil kepada Moyes, itu bukan sepenuhnya salahnya. Ia ditinggalkan dengan skuad yang membutuhkan banyak perbaikan meskipun mereka telah memenangkan gelar musim sebelumnya. Namun, Moyes memang berperan dalam kejatuhannya sendiri.

Mantan manajer Everton itu tidak cukup memperkuat skuadnya ketika ia punya waktu. Satu-satunya transfer utamanya di musim panas adalah Marouane Fellaini dari mantan klubnya, dan pemain Belgia itu kesulitan di Old Trafford karena cedera dan beberapa penampilan buruk.

Ia juga mencoba membangun otoritasnya dengan menyingkirkan staf kepelatihan Ferguson dan mendatangkan stafnya sendiri dalam satu gerakan cepat, yang juga terbukti menjadi faktor penentu dalam musim terburuk United di Liga Primer.

Moyes kehilangan kepercayaan dan dukungan para pemainnya seiring berjalannya waktu dan kegagalannya bermain di Liga Champions terbukti menjadi paku terakhir di peti matinya.*