Di Persimpangan Jalan Menuju Kebahagiaan, Stoisisme atau Hedonisme?

0

FILSAFAT, Bulir.id – Apa yang membuat hidup bahagia? Apakah kita mencari kesenangan dan kenikmatan, ataukah kita mengembangkan ketahanan dan menerapkan disiplin diri? Hedonisme dan Stoisisme menawarkan dua jawaban yang sangat berbeda untuk pertanyaan klasik ini.

Hedonisme berpendapat bahwa kunci kebahagiaan terletak pada kesenangan, baik melalui kemewahan, aktivitas, maupun kesenangan sehari-hari. Stoisisme percaya bahwa kebahagiaan datang dari dalam melalui kebajikan, pengendalian diri, dan keseimbangan emosional.

Pada artikel ini, kita akan membahas konsep-konsep penting, kekuatan, dan relevansinya saat ini, dan mempertimbangkan apakah keseimbangan antara keduanya dapat menjadi jalan ke depan.

Pengejaran Hedonis: Kebahagiaan Melalui Kesenangan

Hedonisme berpusat pada kesenangan. Hedonisme menyarankan kita dapat menjalani hidup bahagia dengan memaksimalkan kenikmatan dan meminimalkan rasa sakit.

Pandangan ini bermula dari Aristippus dari Kirene, seorang murid Socrates yang menganggap cara hidup terbaik adalah memanjakan diri sendiri kapan pun terasa menyenangkan, sebuah gagasan yang dikenal sebagai Hedonisme Kirenaik karena ia tinggal di (dan mungkin mendirikan) sebuah komunitas pemikir ini di Kirene.

Akan tetapi, tidak semua penganut paham hedonisme sepakat bahwa kita harus mencari segala kenikmatan yang mungkin tanpa mengkhawatirkan akibatnya.

Epikuros meyakini sesuatu yang sangat berbeda. Ia berpendapat bahwa bentuk kebahagiaan yang paling sejati akan melibatkan banyak pengalaman menyenangkan dan hal-hal lain, seperti teman dan percakapan filosofis.

Hedonisme Epikurean adalah keyakinan bahwa kepuasan jangka panjang datang dari persahabatan, kesederhanaan, dan kedamaian batin. Bagi Epikurus, kebahagiaan abadi dapat ditemukan dalam segelas air dan percakapan yang baik, alih-alih pesta.

Merawat diri sendiri, nartistisk media sosial, dan FOMO (kekhawatiran akan ketinggalan zaman) semuanya memicu kebangkitan hedonisme modern. Berkeliling dunia dan menghabiskan uang untuk barang-barang dan pengalaman mewah adalah cara banyak orang yang mencoba menjalani hidup bahagia.

Minat yang bangkit kembali pada filsafat Stoa mengajarkan kita untuk menerima apa yang tidak dapat kita ubah: aspek tren populer ini tidak akan tampak asing bagi orang Yunani kuno.

Namun, mungkinkah hidup bermakna hanya dengan menikmati diri sendiri? Ya, kata beberapa penganut hedonisme kontemporer, asalkan dilakukan dengan bijak.

Jalan Stoa: Kebahagiaan Melalui Kebajikan

Stoisisme memandang kebahagiaan dengan cara yang berbeda. Alih-alih mengajarkan orang untuk mengejar rasa senang, filsafat Yunani kuno ini mengajarkan bahwa kepuasan sejati berasal dari kebaikan batin, pengendalian diri dan kebijaksanaan.

Menurut Stoisisme, yang didirikan oleh Zeno dari Citium, karena hal-hal seperti kesuksesan atau kegagalan, kekayaan atau kemiskinan terjadi karena takdir (dan bukan karena perbuatan kita sendiri), kita seharusnya tidak bergantung pada hal-hal tersebut untuk kebahagiaan. Sebaliknya, beliau mengatakan kita harus lebih peduli untuk memiliki karakter yang kuat karena dengan begitu kita akan merasa damai, sekarang dan selamanya.

Kaum Stoa percaya bahwa orang tidak selalu bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan atau menghindari hal-hal yang tidak mereka inginkan. Segala sesuatu, mulai dari rasa sakit, kemiskinan, hingga kemalangan, hanyalah bagian dari kekayaan kehidupan (begitu pula keberuntungan dan kesehatan).

Nilai-nilai utama Stoisisme meliputi menerima hal-hal yang tidak dapat diubah, berpikir rasional tentang berbagai hal.

Kaisar Romawi Marcus Aurelius mengikuti prinsip-prinsip ini agar tetap tenang di bawah tekanan. Demikian pula, Epictetus yang pernah menjadi budak dan kemudian menjadi orang merdeka yang menekuni filsafat, berpendapat bahwa kemalangan sebagian besar berasal dari opini kita tentang suatu peristiwa, alih-alih kejadian itu sendiri.

Saat ini, orang-orang menyukai Stoisisme karena membantu mereka mengatasi stres, kegagalan, dan ketidakpastian. Hal-hal yang tidak Anda inginkan di media sosial, tetap tenang saat menghadapi masalah, memutuskan untuk memperbaiki diri alih-alih menjadi kaya, ada banyak contoh yang menunjukkan bagaimana ide-ide ini dapat membawa kebahagiaan dalam praktiknya.

Tapi tunggu dulu! Apakah benar-benar ide yang baik untuk melepaskan kesenangan? Ya, kata kaum Stoa. Namun, jika Anda bertanya kepada seorang hedonis, mereka mungkin tidak setuju.

Hasrat

Perbedaan mendasar antara Hedonisme dan Stoisisme berakar pada isu hasrat. Hedonis percaya bahwa orang harus menerima hasrat, entah itu makanan enak, kenyamanan, atau sensasi baru karena hasrat membuat hidup menyenangkan. Namun, bagi kaum Stois, hasrat semacam itu tidak relevan atau merusak.

Bagi kaum Hedonis, kesenangan memiliki peran penting dalam hidup seseorang: kesenangan dapat membuat hidup lebih baik secara keseluruhan. Epikuros berpendapat bahwa tidak ada yang salah dengan memiliki keinginan selama seseorang berusaha memenuhinya dengan bijaksana.

Kebahagiaan sejati bisa datang dari hal-hal seperti makan enak bersama teman, berendam air hangat, atau mengobrol panjang lebar dengan seseorang yang Anda sayangi. Namun, Anda perlu bersikap moderat dan tidak berlebihan terlalu banyak makan, minum, dan sebagainya.

Ada jenis Hedonisme lain yang disebut Cyrenaic. Para penganutnya percaya bahwa kita harus berusaha mendapatkan kesenangan sebanyak mungkin, meskipun itu hanya sesaat.

Tokoh Stoa seperti Epiktetus dan Seneka memperingatkan tentang bahaya hasrat: menginginkan sesuatu mengikat Anda secara emosional padanya, resep menuju kesengsaraan. Jika Anda mendambakan kekuasaan, kekayaan, atau pengakuan, maka keinginan-keinginan tersebutlah yang harus mengendalikan hidup Anda. Jauh lebih baik untuk tidak menginginkannya sejak awal.

Hedonisme dewasa ini sangat erat kaitannya dengan pemikiran ini namun demikian pula kebalikannya, minimalis. Keduanya mendorong cara hidup tertentu.

Namun, apakah pendekatan-pendekatan ini benar-benar membuat orang lebih bahagia daripada yang seharusnya? Ini pertanyaan klasik: bisakah kita merasa puas dengan apa yang kita miliki, atau haruskah kita selalu menginginkan lebih?

Mungkinkah ada jalan tengah antara kedua ideologi yang tampaknya saling bersaing ini yang menganjurkan keseimbangan sebagai kunci bagi kemajuan manusia?

Menghadapi Rasa Sakit: Melarikan Diri atau Bertahan?

Rasa sakit memang tak terelakkan, tetapi sikap kita terhadapnya tidak. Mereka yang menganut filsafat hedonistik berusaha menghindari penderitaan dengan segala cara, sementara kaum Stoa menganggap menanggung kesulitan adalah kuncinya.

Bagi seorang hedonis, mengurangi atau mencegah penderitaan adalah prioritas utama. Bagi Epikuros, salah satu caranya adalah menyingkirkan penderitaan yang tidak perlu dengan mengelilingi diri dengan teman-teman dan menjalani hidup tanpa masalah yang penuh dengan kesenangan sederhana atau tanpa kesenangan sama sekali.

Banyak hal telah berubah sejak saat itu. Sekarang, banyak orang tidak ingin berurusan dengan rasa sakit, jadi mereka menonton TV, berselancar di internet, mengonsumsi narkoba untuk bersenang-senang. Mengapa merasa buruk ketika ada begitu banyak cara untuk merasa baik?

Sebaliknya, kaum Stoa menganggap rasa sakit bersifat instruktif. Epiktetus, yang pernah diperbudak sebelum memperoleh kebebasannya, percaya bahwa penderitaan dapat menguatkan kita, tetapi hanya jika kita mengakui bahwa beberapa hal berada di luar kendali kita.

Marcus Aurelius juga seorang Stoa; ketika tidak sedang memimpin sebuah kekaisaran, ia berperang melawan musuh di luar negeri atau melawan penyakit di dalam negeri. Namun, entah bagaimana, ia tetap tenang. Stoisisme bukan berarti mencari rasa sakit hanya demi rasa sakit itu sendiri, melainkan menerima bahwa rasa sakit adalah bagian dari kehidupan, dan bahwa kita dapat belajar darinya, alih-alih hanya mencoba melupakannya.

Saat ini, argumen serupa juga digunakan dalam psikologi. Di satu sisi, ada terapis yang percaya bahwa mereka dapat membantu kita menghindari masalah seperti depresi dan kecemasan (yang dapat membuat hidup terasa sangat menyakitkan) dengan mendorong rutinitas perawatan diri yang mencakup banyak istirahat dan relaksasi, sebuah filosofi yang dikenal sebagai hedonisme.

Apakah rasa sakit diredakan oleh kenikmatan, ataukah kita menerimanya dan menikmati perjalanan hidup? Mungkin keduanya benar, tergantung pada tantangan yang dihadapi.

Kehidupan Sosial

Kaum Hedonis dan Stoa berbeda pendapat tentang apa yang membuat hidup menjadi baik, apakah kita membutuhkan orang lain untuk bahagia. Tradisi Hedonis menyatakan bahwa hubungan, aktivitas yang menyenangkan, dan merasa menjadi bagian dari suatu kelompok sangatlah penting jika kita ingin merasa bahagia dengan hidup kita.

Stoisisme mengajarkan pandangan sebaliknya bahwa kita harus belajar berdiri sendiri secara emosional dan tidak bergantung pada pujian atau dukungan dari orang lain.

Bagi seorang pemikir Yunani Kuno seperti Epicurus, hidup berarti bersama teman-teman: kebersamaan mereka memberinya kebahagiaan yang luar biasa (dan banyak hal lainnya). Ia berpikir memiliki teman untuk tertawa, mengobrol, dan bergaul adalah salah satu kunci rasa puas.

Jadi, siapa pun yang ingin mengikuti jejaknya saat ini mungkin bisa beralih ke situs jejaring sosial seperti Facebook atau Instagram untuk mendapatkan kiat tentang cara terbaik mewujudkannya. Anda bisa meringkas posisinya seperti ini: “Kebahagiaan bersama adalah kebahagiaan ganda.”

Sebaliknya, kaum Stoa menawarkan pola pikir lain. Mereka mengajarkan orang untuk tidak mencari kebahagiaan dari sumber eksternal kebahagiaan itu ada di dalam diri. Seneca mencatat bahwa mencoba menyenangkan orang lain dan mengejar status adalah pintu gerbang menuju ketidakbahagiaan.

Sebaliknya, penganut Stoa mempromosikan introspeksi, bekerja keras pada profesi atau studi, dan persahabatan yang akrab tetapi selektif.

Kita bisa menyamakannya dengan beberapa tren gaya hidup populer saat ini: meminimalkan media sosial dan waktu menonton, menyederhanakan hidup untuk memberi ruang dan waktu (“detoks digital”), atau berfokus sepenuhnya pada satu aktivitas dalam satu waktu (kerja mendalam).

Hari ini, kita melihat perdebatan ini dalam dua kehidupan: dengan ratusan kontak daring seperti Facebook, Snapchat, dan Twitter, atau dalam isolasi dengan pikiran Anda sendiri. Apakah Anda menyukai beragam koneksi dengan orang lain, dan apakah itu membuat Anda bahagia? Atau apakah Anda lebih suka menjauh dari kehidupan daring, dan apakah itu memberi Anda kedamaian?

Jalan Mana yang Menuju Kebahagiaan Sejati?

Walau Hedonisme dan Stoisisme memiliki kelebihan, keduanya tidak tanpa kekurangan.

Mengejar kesenangan, kegembiraan, dan koneksi sosial dapat berujung pada kehidupan yang terlalu memanjakan, bergantung, dan pada akhirnya tidak memuaskan namun alternatifnya (kehidupan yang “baik” dalam arti sebenarnya), yang sepenuhnya didasarkan pada pengendalian diri, mungkin tampak terlalu keras atau lembut.

Apakah ada cara untuk benar-benar bahagia (dan juga tangguh), daripada hanya mengambil sebagian dari masing-masing “dua” aliran kuno yang besar?

Salah satu solusi yang mungkin datang dari keseimbangan: belajar bagaimana Anda membutuhkan kedua sisi. Jadi, jangan mengejar kesenangan secara membabi buta. Terkadang, hindari kesenangan sesaat demi kesenangan jangka panjang (seperti Epicurus dengan makanan sederhananya). Dan ketika segala sesuatunya tidak berjalan sesuai keinginan Anda, lakukan apa yang dilakukan Marcus Aurelius dan tanyakan apakah semuanya benar-benar buruk, serta sesuaikan keinginan Anda.

Bayangkan seseorang yang berdedikasi pada pekerjaannya tetapi juga menikmati makanan enak dan liburan. Atau seseorang yang bermeditasi setiap hari, menjalani hidup disiplin, menghargai persahabatan dekat, dan suka bersenang-senang.

Kebahagiaan bukan tentang memilih di antara tipe-tipe orang ini melainkan menemukan cara untuk menjadi keduanya sekaligus. Bisakah kita menikmati kesenangan hidup sehari-hari tanpa membiarkannya mengendalikan kita? Bertahan dalam krisis dan tetap merasa bahagia?

Mungkin jawabannya bukanlah mengikuti satu jalan dengan aturan hidupnya, melainkan mengambil ide dari masing-masing jalan yang sesuai dengan kita. Bagaimanapun, kita mungkin akan merasa puas jika kita dapat menggabungkan pengendalian diri ala Stoik dengan kenikmatan Hedonistik dan mewujudkannya!*