Non Multa Sed Multum: Narasi Pater Marsel Agot, SVD oleh Gerald Bibang

0

Siluet, BULIR.ID – JIKALAU kematian adalah sebuah kritik kehidupan, maka kepergian Pater Marsel merupakan sebuah proklamasi kepada wan koe etan tu’a nuca lale (seluruh manusia Manggarai) di mana pun berada: ayo, hiduplah berkualitas, jangan menumpuk angka. Non multa sed multum. Bukan jumlah tapi mutu.

Kualitas hidupnya ini terurai dari dua cara. Pertama, Golowelu. Kedua, kembali ke akar

PERTAMA: Golowelu.

Golowelu, 43 thn lalu, di sebuah lapangan sepak bola, seorang diakon muda, bertubuh tinggi, tegap, semi gondrong, kulit hitam manis, ditahbiskan.

Siapa menyangka bahwa dari kampung permai mungil inilah mengalir deras kualitas-kualitas hidup Pater Marsel yang baru terhenti hari Jumat malam 17 April 2026 lalu.

Kualitas-kualitas itu: singkat, tdk bertele-tele, omong yang perlu-perlu saja, tidak rumit, sederhana, apa adanya, senyum,
bergembira. Dan beberapa lainnya.

Sambutannya pada resepsi tahbisan, sangat singkat. Tidak sampai lima menit. Selain ucapkan terimakasih kepada semua, dia meminta satu saja yaitu doa agar imamatnya langgeng krn dia juga manusia yang rapuh.

Sesudah itu, dia mengajak kami adik-adiknya ke panggung. Dia sendiri memperkenalkan kami, satu demi satu, mulai dari tingkat satu (yang paling muda) sampai tingkat enam. Nama dan kenakalan kami, semuanya disebutkan secara rinci dan gamblang. Saking semangatnya, sampai-sampai waktu dia memperkenalkan kami lebih lama dari pidatonya sendiri.

Dia turun panggung dan kami menyanyikan lagu Sili Uma Manga Wela (Ada Bunga di Kebun Sana), aransemen Frater Jolasa dalam tiga kanon. Lumayan. Dapat aplaus panjang.

Setelah itu, wakil keluarga naik panggung. Eh, lebih singkat lagi, ternyata. Tidak sampai tiga menit.

Seingat saya, wakil keluarga berkata: Anak kami Pater Marsel, pake-lah jubah putihmu sampai kau mati!

Dalam perjalanan menuruni tangga, saya melihat wakil keluarga itu mengusap kacamatanya. Dia menangis haru. Matanya yang sembab meneteskan butir-butir air mata.

Jelaslah di sini betapa dahsyatnya non multa sed multum itu. Jangan jadikan jumlah sebagai ukuran. Maka jangan memburu angka di hidup ini. Percuma!

Coba lihat. Saya tidak mengira kalau pidato satu kalimat yang tidak sampai tiga dan lima menit itu, senyum-tawa, kesederhanaan, omong seperlunya, perhatian, apa adanya, perhatian, semua yang terjadi di Golowelu ini, telah menjadi energi tak terukur bagi perjalanan 43 thn imamat Pater Marsel dan terutama bagi kesehatan jiwa raganya sebagai manusia tertahbis.

Begitulah khasyat non multa sed multum. Ketika jiwa seseorang menangkap mana yang lebih utama, pada saat itu, dia tidak perlu gara-gara.

Maka, dia tidak berminat pada angka dan harta. Dia tidak tertarik pada luaran tapi nilai. Tidak pada hal-hal permukaan dan penampilan tapi kedalaman. Tidak juga hura-hura tapi substansi.

Dalam hidup sosial, dia tidak pergi ke mana angin bertiup. Juga tidak mengarahkan muka ke arah datangnya sogok dan uang.Tapi dia pegang prinsip. Tidak kebaperan tapi konsisten rasional. Tidak sok-sokan menikmati ragawi tapi bersandar pada hati nurani. Tidak ikut apa kata orang yang biasanya hanya membuat senang tapi ikut apa kata Sang SABDA yang telah bersemayam di dalam hati, yang banyak kali tidak menyenangkan orang.

Hatinya pun menjadi lapang selapang-lapang samudera dan menyapa kelima benua, merentangkan tali persaudaraan melebihi garis keturunan darah, meluas-luaskan gelombang kebaikan demi kebaikan kepada siapa saja sejauh-sejauh melangkah, sedapat-dapat bisa.

Saya tidak heran ketika selama di Labuan Bajo, Pater Marsel lebih dialami sebagai sahabat, saudara dan opa, yang setia bersama-sama berselancar di samudera kehidupan ini sembari meriak-riakan kebaikan kepada siapa pun tanpa pandang bulu demi menumbuhkan harapan hidup bagi siapa saja yang dijumpainya.

Begitu sejatinya persaudaraan ini sampai-sampai orang-orang di Labuan Bajo lupa bahwa lelaki tua yang dengannya mereka tertawa, bergurau dan melawak adalah orang hebat pada zamannya.

Ingat ya, dia pernah menjadi rektor STKIP Ruteng berperiode-periode, lalu menjadi anggota dewan Provinsi SVD Ruteng berperiode-periode, sambil bertahun-tahun menjadi profesor teologi yg sgt disegani oleh mahasiswa-mahasiswanya.

Dan last but not least, orang ini alumnus pasca sarjana Universitas Gregoriana Roma, aktif pasif bhs Inggris, Italia dan Jerman. Otaknya encer. Tidak pekok. Tidak kotor.

Barulah sekarang ini saya bebas mengatakan hal-hal terakhir ini. Kalau saja dia masih hidup, saya pasti lsg distopkan. Karena bukanlah tipe dia untuk gemar berbicara gagah-gagahan tentang dirinya sendiri, meskipun ada alasan kuat untuk itu.

Ya, itu tadi, spirit Golowelu dengan kualitas-kualitasnya telah melumer dan mengalir ke Ruteng, Wela, Wangkung, Labuan Baj, bolak balik tanpa henti, ibarat anak sungai yang mengalir dan terus mengalir hilir tanpa arah kembali.

KEDUA: Kembali Ke Akar

Ke belantara Solohona. Tahukah kamu bhw kawasan 12 hektar ini darinya delapan hektar telah dilebati dengan 15 jenis pohon lokal seperti mahoni, nara, ngancar, ajang, ksi, lui, sau serta beberapa jenis lainnya, dulunya adalah bukit gersang tak bersahabat?

Tahukah kamu bhw di hutan ini tersembul mata air yang memberikan kehidupan bagi orang dan ciptaan lain di sekitarnya dan menjadi rumah bagi burung-burung dan ular sawah?

Terbayangkah olehmu bahwa karena Solohona, Labuan Bajo menjadi satu-satunya kota di Indonesia, yang memiliki paru-paru di jantung ibukota, yang menyalurkan oksigen ke semua makhluk yang berdatangan ke kota itu, selayaknya seperti kota-kota maju di Eropa? Bukankah ini warisan peradaban bernilai kepada anak cucu kita dan menjadi narasi indah bagi dunia?

Masih beranikah kamu berkata bahwa semua yang dia kerjakan ini adalah properti eksklusif pribadinya dan karena itu tidak sesuai dengan semangat konstitusi serikat dan ajaran gereja katolik? Dan apakah kamu yakin semuanya ini adalah untuk kenikmatan dirinya sendiri?

Coba hening sejenak dan berkatalah kepada dirimu sendiri:” Jikalau hutan Solohona berhenti menghembuskan oksigen kepadaku. Jika Solohona meranggaskan ranting-rantingnya sehingga tidak menyejukkanku. Akan seperti apakah hidupku? Bisakah kuberharap hidup seribu tahun lagi?”

Dari Solohona, Pater Marsel ingin berkata. Mari kembali ke akar. Mari merawat rahim bumi. Hidup manusia bisa survive hanya pada kemurahan humus dan hasil tetumbuhan di atasnya.

Ada pun dia memiliki aset ini dan itu, semuanya mengisyaratkan kualitas lain. Hidup ini hrs berjuang. Manusia dipanggil bukan untuk bermalas-malasan. Bhw berjuang itu, mulia. Malas itu, hina.

Apakah dia mendapat banyak? Tidak. Celana dan bajunya bisa dihitung. Itu-itu saja warnanya. Itu pun banyak baju lama dan kumal. Ada pun arloji berantai longgar di tangan kirinya dipastikan tidak selalu hidup alias selalu mati. Mungkin rusak atau bateri aus.

Di sini sebuah pesan tersendiri kepada kita bahwa apa yang kita pakai di dunia, tidak harus selalu fungsional. Cukuplah seadanya, tidak apalah bila hanya sebagai rumbai-rumbai. Toh apa yang dikenakan di dunia ini akan ditinggalkan dan meninggalkan kita.

Sampai jumpa di surga, biarawan- imam-ku!

****
(gnb: tmn aries:minggu:19.4.2026: hari pemakaman Pater Marsel)