Bukti Adanya Tuhan dari Perspektif Matematika: Jika 2+2=4, Maka Tuhan Ada

0

FILSAFAT, Bulir.id – Pertanyaan tentang keberadaan Tuhan tampaknya sulit dipecahkan. Meski demikian para filsuf dan teolog tak pernah berhenti mencoba memecahkan pertanyaan dari zaman ke zaman ini, namun jawaban-jawaban tersebut tidak perhan memuaskan manusia.

Filsuf dan teolog besar seperti Thomas Aquinas dan Agustinus mecoba memberikan jawaban untuk memecahkan jawaban atas pertanyaan klasik tersebut. Namun pada tulisan kali ini, kita akan mencoba menggali pemikiran Agustinus untuk menjawab pertanyaan terkait bukti keberadaan Tuhan. Mari kita mulai dengan kenyataan bahwa 2+2=4.

Beberapa realitas ada dalam materi. Rumah terbuat dari kayu, paku dan semen. Anjing memiliki bulu, otot, dan tulang. Realitas lain ada dalam pikiran. Misalnya kenangan menonton konser atau tentang anjing masih tersirat di pikiran anda.

Apakah realitas 2+2=4 ada dalam materi atau dalam pikiran? Nah, realitas material memiliki berat, panjang, dan kepadatan tertentu. Namun, realitas 2+2=4 tidak memiliki berat, panjang, atau kepadatan. Jadi, realitas 2+2=4 tidak ada sebagai objek material.

Lebih lanjut, realitas material bergantung pada materi untuk keberlangsungannya. Ketika salju mencair, manusia salju pun lenyap. Namun, 2+2=4 bukanlah realitas yang akan lenyap jika seseorang membakar semua buku matematika.

Kebenaran matematika dapat direpresentasikan dalam simbol tertulis atau lisan. Namun, realitas kebenaran matematika tidak bergantung pada representasi kebenaran ini. Realitas 2+2=4 sudah benar sebelum seseorang menuliskannya atau mengatakannya. Jadi, realitas 2+2=4 tidak ada sebagai objek material.

Sebaliknya, kebenaran ini adalah realitas mental yang ada dalam pikiran kita. Realitas mental bergantung pada pikiran untuk keberadaannya. Jika pikiran kita hancur, kenangan kita bermain sepak bola di bersama Cristiano Ronaldo pun akan hilang. Jika pikiran Anda hancur, pengetahuan Anda tentang ibu Anda dan makanan favorit Anda pun hancur bersamanya.

Namun, kenyataan bahwa 2+2=4 tidak akan hancur, bahkan jika setiap pikiran manusia hancur. Kenyataan itu sudah ada bahkan sebelum manusia mana pun mengetahuinya. Kenyataan itu akan tetap benar bahkan jika semua manusia tidak ada lagi.

Realitas matematika seperti 2+2=4 bersifat abadi, tidak berubah, dapat dipahami, dan benar. Jadi, karena realitas 2+2=4 adalah realitas abadi dan tidak berubah, maka realitas itu tidak bergantung pada pikiran yang kontingen, dalam waktu, dan dapat berubah. Sebaliknya, realitas 2+2=4 harus ada dalam pikiran yang tidak muncul dan tidak dapat lenyap, karena 2+2=4 tidak pernah benar, dan 2+2=4 tidak akan pernah benar.

Lebih lanjut, 2+2=4 bukanlah satu-satunya realitas matematika. Memang, ada realitas matematika tak terhingga hanya dalam hal penjumlahan (3+3, 4+4, 5+5, dst.). Masih banyak lagi realitas matematika lainnya, seperti pengurangan, perkalian, pembagian, aljabar, kalkulus, dst. Memang, ada banyak sekali kebenaran yang abadi, tak berubah, dan dapat dipahami. Namun, hanya pikiran tak terhingga yang dapat mengetahui realitas tak terhingga.

Maka, dapat disimpulkan bahwa pasti ada suatu pikiran yang berada di luar waktu, tidak muncul, tidak memiliki kemungkinan untuk lenyap, yang mengetahui realitas tak terbatas. Kata yang umum digunakan untuk pikiran yang mutlak ada, yang selalu memahami, dan yang mengetahui tanpa batas adalah “Tuhan.”

Nah, pada titik ini, seseorang mungkin menjawab bahwa 2+2=4 sebenarnya bukanlah realitas objektif yang berlandaskan materi atau pikiran. Menurut pandangan ini, 2+2=4 hanyalah kumpulan simbol atau ide yang diciptakan manusia. Matematika tidak lebih nyata daripada gendoruwo. Matematika hanyalah cerita fiksi dan tidak memberikan kita kebenaran faktual.

Namun, jika matematika tidak nyata, maka sains pun tidak nyata. “Hukum-hukum fisika … semuanya dinyatakan dalam persamaan matematika .” Ambil contoh, hukum gerak kedua Newton: gaya sama dengan massa dikalikan percepatan.

Atau pertimbangkan rumus Einstein E=mc² . Rumus-rumus ini bergantung pada kebenaran perkalian. Jika matematika tidak memberi kita kebenaran objektif, maka sains tidak dapat memberi kita kebenaran objektif.

Faktanya, cerita fiksi tersebut menyatakan bahwa matematika hanyalah kata-kata atau ide yang diciptakan manusia seperti dongeng. Gendoruwo tidak dapat secara fisik memindahkan Boeing 747 melalui udara dari Jakarta ke Surabaya. Sains bisa.

Sains memberi kita kebenaran objektif yang independen dari pikiran manusia, sehingga memungkinkan teknologi. Ketika manusia menyadari bahwa matahari lebih panas daripada es, mereka memahami kebenaran objektif. Begitu pula ketika manusia pertama menyadari bahwa 2+2=4, orang ini menemukan realitas yang benar secara objektif. Sains itu nyata. Jadi, matematika haruslah faktual, bukan fiksi.

Singkatnya, 2+2=4 merupakan realitas objektif. Realitas matematika tidak eksis sebagai objek material dengan warna, bentuk, dan berat; melainkan, mereka ada dalam pikiran kita. Realitas mental bergantung pada pikiran untuk eksistensinya. Namun, realitas 2+2=4 (seperti fakta matematika lainnya yang tak terhitung jumlahnya) adalah realitas abadi dan kebenaran yang tak berubah, sehingga tidak dapat bergantung pada pikiran seperti kita yang muncul dan lenyap. Jadi, pasti ada pikiran yang niscaya ada, selalu memahami, dan mengetahui tanpa batas. Pikiran inilah yang disebut Agustinus sebagai Tuhan.*