Eksistensialisme dan Absurdisme Sebuah Upaya untuk Menjembatani Kegelisahan 

0

FILSAFAT, Bulir.id – “Tuhan sudah mati,” dan “semua hal diizinkan.” Ucapan-ucapan ini disampaikan oleh Friedrich Nietzsche dan Fyodor Dostoyevsky, mengungkapkan kemunduran kepercayaan pada kekuatan yang lebih tinggi dan moralitas tradisional. Pernyataan ini mengisyaratkan lahirnya era baru yakni era nihilisme.

Nietzsche melihat bahwa munculnya ilmu pengetahuan modern dan pandangan mekanistik baru tentang dunia, selama periode Pencerahan, menandakan dimulainya krisis makna, karena perspektif teologis dan antropologis tradisional gagal. Martin Heidegger melihatnya sebagai kematian metafisika dan filsafat secara keseluruhan.

Jika tidak ada sumber nilai yang berwibawa di dunia, lalu bagaimana kita bisa membenarkan kepercayaan agama dan metafisik kita? Dan bagaimana kita membenarkan keberadaan makna sama sekali? Pandangan Nietzsche adalah bahwa kita harus mulai bergantung pada gagasan nilai kita sendiri, selama diperlukan agar kepercayaan kita pada sumber kebenaran moral yang baru dan berwibawa dapat menguasai dunia.

Selama Perang Dunia II, kaum Nazi mengambil alih dan mengeksploitasi beberapa konsep Nietzschean untuk agenda diskriminasi dan supremasi rasial mereka. Nietzsche secara aktif menentang nasionalisme dan pesimisme. Namun, setelah kehancuran perang, seluruh dunia harus bergulat dengan pertanyaan tentang ketidakberartian penderitaan besar yang menimpa umat manusia. Respons terhadap nihilisme sangat dibutuhkan.

Eksistensialisme

Eksistensialisme berawal dari posisi nihilisme dan pengakuan akan dunia yang tidak bermakna. Namun, alih-alih menyerah pada keputusasaan dan pesimisme, ia justru berupaya menjawab pertanyaan tentang bagaimana kondisi manusia dapat terbebaskan. Seperti yang ditulis Jean-Paul Sartre, “Manusia dikutuk untuk bebas,” dan kebebasannya dari esensi yang telah ditentukan sebelumnya justru memberinya kepemilikan atas kehidupan dan nilai-nilainya sendiri.

Namun, kebebasan melahirkan tanggung jawab, dan tanggung jawab bisa menjadi beban. Tujuan filsafat eksistensialis adalah untuk menjelaskan, melalui penekanan pada pengalaman subjektif dan individual, bagaimana kebebasan dapat digunakan sebagai kekuatan untuk realisasi diri, dan pembentukan makna dan tujuan.

Dengan menjalani kehidupan yang jujur ​​pada diri sendiri, dengan memfokuskan perhatian pada apa yang terjadi di sini dan saat ini, serta memanfaatkan waktu kita di bumi sebaik-baiknya, kaum eksistensialis sepakat bahwa hidup dan bebas, terlepas dari ketidakberartian hidup adalah sesuatu yang harus dinikmati.

Ada dan Waktu menurut Martin Heidegger

Martin Heidegger adalah salah satu filsuf paling berpengaruh di abad ke -20 dan salah satu pemikir paling disegani sepanjang masa. Karya utamanya Being and Time mengeksplorasi pertanyaan mendasar tentang eksistensi manusia dan memainkan peran penting dalam pengembangan pemikiran eksistensialis.

Heidegger berpendapat bahwa pengalaman manusia dicirikan oleh perasaan “dilempar” ke dunia tanpa tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Heidegger juga berpendapat bahwa gagasan Cartesian tentang pemisahan antara pikiran dan tubuh mereduksi kehidupan manusia menjadi sebuah objek yang harus dianalisis. Ia berpendapat bahwa pengalaman kita tidak dapat sepenuhnya diobjektifikasi, atau dengan demikian dijelaskan oleh sains dan akal budi, karena subjek dan objek tidak dapat dipisahkan.

Konsep Heidegger tentang “Dasein” kemudian merujuk pada karakteristik khusus dari keberadaan entitas yang sadar diri yang mampu mempertanyakan hakikat keberadaan, dan mengakui kematian yang tak terelakkan. Sebagai obat untuk kegelisahan yang ditimbulkan oleh eksistensi, Heidegger mendesak individu untuk bertanggung jawab atas eksistensi mereka, dengan tidak membiarkan faktor eksternal menentukan kehidupan mereka.

“Keautentikan” tercapai ketika kita berhenti menyesuaikan diri dengan standar yang dibangun masyarakat tentang apa artinya menjadi manusia dan keasyikan kita dengan gangguan-gangguan yang remeh dalam kehidupan modern. Melalui hubungan yang autentik dengan dunia, kita mampu menjalani pertemuan kembali dengan lapisan-lapisan Eksistensi yang lebih dalam dan mengatasi keterasingan kita.

Ada dan Ketiadaan menurut Jean-Paul Sartre

Setelah Perang Dunia Kedua, eksistensialisme berkembang pesat menjadi gerakan budaya yang bonafide. Pemimpin gerakan ini adalah Jean-Paul Sartre yang membaca dan terinspirasi oleh Being and Time karya Heidegger saat dipenjara oleh Nazi pada tahun 1940.

Sartre kemudian menulis Being and Nothingness sebagai penghormatan kepada Heidegger, di mana ia mengembangkan penjelasan komprehensif tentang filsafat eksistensialis. Bagi Sartre, hakikat manusia hanya dapat didefinisikan oleh tindakan yang kita ambil dan oleh karena itu individu harus bertanggung jawab atas kebebasan mereka, menghadapi kenyataan tentang kematian mereka, dan menempa nilai-nilai dan tujuan hidup mereka sendiri. Ia kemudian menyimpulkan filsafatnya dalam diktumnya yang terkenal: “eksistensi mendahului esensi”.

Namun, Sartre tidak yakin bahwa manusia mampu melakukan “perjumpaan kembali dengan ada” seperti yang dilakukan Heidegger, karena ia tidak percaya bahwa manusia memiliki tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Oleh karena itu, ia melihat pengalaman manusia dicirikan oleh rasa ketidaklengkapan, dan bahwa rasa ini adalah penyebab kita mengemukakan konsep-konsep keagamaan seperti “Tuhan”.

Bagi Sartre, hidup adalah berkah sekaligus kutukan. Hidup adalah berkah karena kita bebas membentuk hidup sesuai keinginan kita. Hidup adalah kutukan karena ini berarti rasa kelengkapan dan keutuhan tidak mungkin ditemukan. Selain itu, kita dipaksa untuk bertanggung jawab penuh atas konsekuensi pilihan kita dan ini tentu saja merupakan sumber kecemasan dan ketidaknyamanan yang besar.

Meskipun demikian, Sartre terus mengungkapkan, dalam esai yang diberi judul “Eksistensialisme adalah Humanisme”. Alasannya adalah bahwa individu bebas memilih apa yang seharusnya mereka lakukan. Secara implisit merupakan pilihan tentang apa yang seharusnya dilakukan sebagai manusia. Tindakan memilih, dan bertindak atas pilihan seseorang, karenanya menyiratkan tanggung jawab tidak hanya kepada diri sendiri tetapi juga kepada seluruh umat manusia.

Sahabat karib sekaligus kolaborator Sartre, Simone de Beauvoir, menguraikan lebih lanjut dimensi etika eksistensialisme dalam bukunya, The Ethics of Ambiguity. Beauvoir berteori bahwa manusia hidup dalam kondisi bebas (karena “ketiadaan” sifat bawaan mereka) dan terbatas (karena ekspektasi orang lain). Ia menyebut ketegangan antara kedua kondisi ini sebagai “ambiguitas”.

Ketidakjelasan ini merupakan aspek mendasar dari eksistensi manusia dan karenanya harus diterima dan diatasi. Itu berarti bahwa kita harus mengakui dan bertanggung jawab atas, dampak tindakan kita terhadap orang lain, dan berupaya menciptakan kondisi yang memungkinkan semua individu dalam masyarakat untuk menjalankan kebebasan mereka semaksimal mungkin. “Menghendaki kebebasan diri sendiri berarti juga menghendaki kebebasan orang lain,” dan, karenanya, “Menghendaki kebebasan moral dan kebebasan diri sendiri adalah satu dan keputusan yang sama.”

Absurdisme

Absurdisme, sebagai sebuah filsafat, memperoleh popularitas selama tahun 1950-an dan 60-an, meskipun tema-tema absurd telah dieksplorasi jauh sebelumnya. Seperti eksistensialisme, absurdisme menyangkal keberadaan makna inheren bagi kehidupan manusia; tetapi tidak seperti itu, absurdisme tidak mempedulikan penciptaan makna atau tujuan. Sebaliknya, ia menyerah pada gagasan bahwa upaya semacam itu pada akhirnya sia-sia.

Namun, absurdisme bukan sekadar nihilisme, karena tidak menyatakan bahwa menciptakan makna itu mustahil. Kaum absurdis hanya tidak yakin tentang kemampuan dan ketidakmampuan menciptakan makna, dan mereka mempertanyakan nilai dari setiap makna yang diciptakan, jika mungkin, dalam dunia yang tidak memiliki makna itu sendiri.

Pandangan dunia absurdis didasari oleh kepercayaan bahwa hidup pada dasarnya tidak rasional, dan bahwa manusia memiliki kekurangan dalam kemampuan mereka untuk mencoba memahaminya. Namun, seperti yang akan kita lihat sebentar lagi, ini tidak berarti bahwa semua harapan hilang bagi kaum absurdis.

Metamorfosis karya Franz Kafka

Contoh awal sastra absurd dapat ditemukan secara luas dalam novel-novel Franz Kafka, yang terkadang disebut sebagai “Raja Absurdisme”. Misalnya, dalam karyanya The Metamorphosis (1912 ), Kafka menceritakan kisah seorang pria yang terbangun dan mendapati dirinya telah berubah menjadi seekor serangga raksasa. Dilanda rasa keterasingan, karakter tersebut berjuang untuk menerima dampak bentuk barunya terhadap kehidupan sehari-harinya.

Sebagai ciri khas genre absurd, karya ini, bersama karya-karya Kafka lainnya, menyampaikan kesia-siaan dalam usaha kita untuk menempa makna kita sendiri, sebagaimana yang diinginkan kaum eksistensialis, dalam menghadapi dunia yang sangat membingungkan.

Namun, kesia-siaan dalam upaya memahami keadaan seseorang menuntut introspeksi tokoh-tokoh Kafka, dan ini memberi mereka kesempatan untuk memperoleh wawasan tentang kondisi manusia, dan bahkan hakikat eksistensi.

Mitos Sisyphus karya Albert Camus

Pembahasan filosofis tentang absurdisme biasanya dikaitkan dengan The Myth of Sisyphus karya Albert Camus yang berusaha menjawab pertanyaan apakah kehidupan memiliki nilai. Camus menggunakan kisah Sisyphus, yang dalam mitologi Yunani ditakdirkan untuk berulang kali mendorong batu besar ke atas bukit, sebelum batu itu menggelinding turun lagi, untuk selamanya.

Kisah Sisyphus merupakan metafora akan kesia-siaan hidup manusia yang melelahkan, di mana manusia terperangkap dalam siklus tiada akhir dalam upaya mencari makna hidup, dan kekecewaan dalam menghadapi kegagalan yang tak terelakkan dan terus-menerus.

Namun, moral dari Mitos Sisyphus bukanlah keputusasaan, karena fakta bahwa perjuangan manusia itu absurd tidak sama dengan klaim bahwa kehidupan manusia tidak memiliki nilai. Seperti yang dijelaskan Camus, individu mampu memperoleh rasa kepuasan dalam hidup, meskipun kehidupan itu tidak berarti.

Sementara eksistensialisme menerima kemungkinan bahwa kita dapat menciptakan makna kita sendiri melalui tujuan dan pencapaian kita, kaum absurdis menyangkal bahwa makna dapat ditemukan pada hasil dari setiap usaha rasional. “Absurditas” itu sendiri adalah ketegangan antara keinginan kita untuk menggunakan akal untuk menempa jalan menuju makna, dan ketidakmungkinan tugas itu. Dalam penerimaan terhadap absurditas itulah beberapa kemiripan makna dapat diperoleh secara sah.

Dalam kasus Sisyphus, dengan menerima absurditas dalam menggulingkan batu besar ke atas bukit tanpa henti, ia mencapai rasa kebebasan. Seperti yang disimpulkan Camus, “Perjuangan menuju puncak sudah cukup untuk mengisi hati seseorang. Kita harus membayangkan Sisyphus bahagia.”

Perbedaan antara Eksistensialisme dan Absurdisme

Perbedaan utama antara eksistensialisme dan absurdisme adalah sikap. Kaum eksistensialis melihat ketegangan antara kurangnya makna bawaan dunia, dan keinginan kita untuk mendapatkan makna, sebagai tantangan yang harus diatasi, melalui penerapan kemauan dan tindakan ekspresi diri.

Sebaliknya, kaum absurdis melihat ketegangan ini sebagai komponen mendasar dari eksistensi manusia yang pada prinsipnya tidak dapat diatasi. Makna hanya dapat diperoleh melalui penerimaan internal atas fakta ini, dan bukan melalui pencarian eksternal apa pun.

Ini tentu saja merupakan perbedaan penting jika kita ingin tahu bagaimana bertindak, tetapi pada tingkat yang lebih dalam, keduanya didasarkan pada postulat metafisik yang sama. Dengan kata lain, kedua filsafat tersebut merupakan respons terhadap asumsi nihilisme eksistensial, gagasan bahwa tidak ada makna atau tujuan intrinsik dalam hidup dan keduanya bukanlah solusi untuk masalah nihilisme.

Eksistensialisme menekankan pentingnya tanggung jawab pribadi, sebagai sarana menciptakan makna dalam hidup, sementara absurdisme menekankan penerimaan absurditas hidup yang hakiki, sebagai sarana memperoleh bentuk makna yang subjektif dan relatif.

Eksistensialisme dan Absurdisme dalam Budaya Populer

Mengingat eksistensialisme dan absurdisme merupakan respons terhadap masalah ketidakbermaknaan, wajar saja jika tema filosofis masing-masing telah dimasukkan ke dalam berbagai bentuk ekspresi artistik.

Lebih dari 80 tahun sebelum Sartre dan Camus mempersembahkan karya-karya penting mereka, Fyodor Dostoyevsky mengeksplorasi tema-tema kegelisahan dan pencarian makna dalam cerita-cerita seperti Crime and Punishment dan Notes from Underground. Dalam cerita pertama, tokoh utama harus bergulat dengan trauma karena melakukan pembunuhan, karena pembenaran moralnya mulai runtuh. Dalam cerita kedua, seorang narator yang terasing dan kecewa berjuang dengan dilema eksistensial yang absurd untuk menemukan makna di dunia yang tidak berarti.

Tema-tema seperti itu tetap semakin populer dalam cerita modern. Dalam serial televisi Breaking Bad, Walter White beralih ke kehidupan kriminal ketika dihadapkan dengan kematian yang tak terelakkan. Dalam serial animasi Neon Genesis Evangelion, sang protagonis, yang menderita karena kurangnya harga diri, dipaksa untuk menghadapi, secara eksplisit, kemungkinan kehancuran bumi, dan secara implisit, identitasnya sendiri. Dan dalam film Fight Club sang protagonis berusaha melepaskan diri dari kehidupan korporatnya yang monoton, menciptakan sebuah klub rahasia tempat para pria bertemu untuk melampiaskan rasa frustrasi mereka terhadap masyarakat modern.

Semua contoh ini menggambarkan penekanan eksistensialis pada tanggung jawab pribadi, kebebasan, dan pemberontakan terhadap norma-norma sosial. Para tokoh utama harus membuat keputusan penting yang akan memengaruhi jalan hidup mereka, dan keputusan ini sering kali bertentangan dengan sistem makna dan moralitas tradisional.

Penanganan yang lebih absurd terhadap masalah nihilisme eksistensial juga umum. Dalam film Eternal Sunshine of the Spotless Mind, seorang pria menjalani prosedur untuk menghapus semua ingatannya tentang mantan pasangannya. Saat ia mulai menyadari bahwa ia juga menghapus apa yang memberinya rasa makna dan tujuan, ia memutuskan untuk mengakhiri prosedur tersebut meskipun ingatan itu menyebabkannya kesakitan. Dalam serial animasi Rick and Morty seorang jenius gila melakukan perjalanan dengan cucunya melalui dimensi yang berbeda, berhadapan dengan konflik besar antara petualangannya yang absurd dan kehidupan normal. Dan dalam film The Lobster , orang-orang lajang dikirim ke hotel dan diberi waktu 45 hari untuk menemukan pasangan romantis. Jika mereka gagal, mereka akan berubah menjadi binatang pilihan mereka.

Contoh-contoh ini menggambarkan penekanan absurd pada sifat irasional keberadaan manusia dan penjajaran paradoks antara tragedi dan komedi. Dalam setiap kasus, tokoh utama dihadapkan pada keadaan surealis yang mempertanyakan nilai ingatan, kecerdasan dan cinta.

Warisan Eksistensialisme dan Absurdisme

Tentu saja, eksistensialisme tidak hanya memengaruhi televisi dan film. Misalnya, di bidang politik dan pengembangan pribadi, eksistensialisme telah menjadi asumsi implisit.

Seiring dengan semakin menjauhnya kita dari sistem pemerintahan monarki, menuju masyarakat yang lebih demokratis, individualisme dan kebebasan untuk menentukan nasib sendiri telah meningkat, yang mencerminkan tuntutan eksistensialis akan tanggung jawab. Begitu pula dengan penolakan absurd terhadap fokus kita dalam memperjuangkan keunggulan dan dengan itu munculnya bentuk-bentuk penciptaan nilai alternatif dan kontra-budaya baru.

Dalam pengembangan pribadi, eksistensialisme menekankan pentingnya mengambil kepemilikan atas kehidupan dan pilihan seseorang, serta membentuk identitas dan nilai-nilai seseorang. Filsafat ini juga telah diterapkan dalam bidang psikoterapi, di mana terapi eksistensial-humanistik mendorong individu untuk hidup secara autentik, dengan merangkul keunikan mereka dan praktik kesadaran mendorong individu untuk menjadi lebih menerima absurditas kehidupan.

Perspektif Alternatif

Di awal artikel ini, kita membahas bagaimana nihilisme muncul sebagai akibat dari kemunduran kepercayaan agama di Barat. Eksistensialisme dan absurdisme merupakan tanggapan terhadap tuduhan bahwa tidak ada pemeliharaan atau tujuan ilahi. Seperti yang dikatakan Sartre, “Eksistensialisme tidak lain adalah upaya untuk menarik semua konsekuensi dari posisi ateistik yang koheren.”

Akan tetapi, sejauh eksistensialisme juga melibatkan pengakuan atas runtuhnya metafisika, seberapa koheren posisi ateistik ini? Premis mendasar yang diandalkan eksistensialisme bukanlah sekadar bahwa “Tuhan sudah mati,” tetapi lebih kepada, jika Tuhan benar-benar mati, maka itu akan sangat menyedihkan. Namun, terlepas dari kemunduran iman agama, sama sekali tidak jelas bahwa sumber-sumber alternatif makna dan moralitas tetap sulit dipahami.

Kegelisahan yang ditimbulkan oleh kejatuhan agama Barat tentu sebagian merupakan konsekuensi dari bias dan ketidaktahuan yang ditimbulkan oleh budaya yang sama yang melahirkannya. Sebaliknya, tradisi Timur, seperti Buddhisme dan Taoisme, tidak bergantung pada kepercayaan pada dewa transenden, tetapi tetap merupakan sumber makna yang mendalam bagi para pengikutnya.

Demikian pula, Buddhisme dan Taoisme bertentangan dengan penekanan pada individualisme dan tanggung jawab pribadi yang ditemukan dalam pemikiran eksistensialis, sebaliknya menekankan keterkaitan semua hal dan ketidakkekalan diri individu. Selama semua hal bersatu, tidak perlu menaklukkan yang lain.

Tentu saja, kaum eksistensialis juga menyatakan bahwa diri tidak memiliki keberadaan hakiki, tetapi “ketiadaan” yang mendasari ego eksistensialis tidak sama dengan “kekosongan” yang ditemukan dalam ajaran Buddha. Yang pertama lebih seperti kekosongan di inti keberadaan kita, sedangkan yang kedua dapat dianggap sebagai ketiadaan keberadaan inheren dalam semua fenomena, bukan hanya diri.

“Ketiadaan” eksistensialis menjadi objek kegelisahan yang nyata, sejauh ego menyadari kekurangannya sendiri. Jadi, hal itu adalah sesuatu yang harus dilawan melalui perjuangan individualistis untuk meraih keunggulan, saat kita menghadapi dunia asing.

Sebaliknya, konsep “sunyata” dalam ajaran Buddha mengacu pada kondisi terbebas dari objek sepenuhnya. Menurut mereka, keterikatan pada objek dan kepercayaan adalah penyebab penderitaan, bukan jalan keluar darinya. Keterpisahan dari hal-hal khusus berarti hubungan dengan hal yang universal, yang menghasilkan kesadaran penuh kasih terhadap segala hal.

Jadi, jika kaum nihilis percaya bahwa “Tuhan sudah mati, dan kita tidak bergantung pada apa pun”, maka kaum Buddha mungkin mengatakan bahwa “Ego itu kosong, dan kita bergantung pada apa pun”. Berdasarkan pandangan ini, kita tidak “terlempar” ke dunia, dan karenanya tidak perlu menaklukkannya. Sebaliknya, kita adalah bagian integral dari dunia, dan hakikat kehidupan tidak dapat dipisahkan dari eksistensi itu sendiri.*