Frans Seda, Kresna dari Tanah Flores

0

Siluet, Bulir.id – Ketokohan seseorang selalu menarik untuk dibicarakan. Baik oleh orang terdekatnya, tak terkecuali oleh generasi sesudahnya, generasi yang mengagumi sepak terjang, track rekord dan buah pikiran sang tokoh.

Fransiskus Xaverius Seda atau lebih dikenal dengan nama Frans Seda, merupakan salah satu tokoh besar bangsa yang telah berkontribusi penuh mempertahankan kewibawaan Indonesia tatkala menghadapi situasi genting.

Dalam sebuah memoar yang ditulis oleh Alumni sekaligus mantan ketua Pemuda Katolik Indonesia, Richardus Djokopranoto, Frans, disebut sebagai Kresna dari Tanah Flores. Sebagai seorang Jawa, Richardus menggambarkan sosok Frans sebagai pribadi yang sakti dan bijaksana seperti Kresna dalam kebudayaan Jawa.

Kresna adalah tokoh pewayangan, raja kerajaan Dworowati, keturunan Dewa Wisnu, kulitnya hitam, yang terkenal sakti, bijaksana dan selalu mendampingi dan bertindak sebagai pengayom dan penasihat keluarga Pandawa.

“Pengenalan dengan Pak Frans Seda diperoleh dari ceramahnya yang selalu segar dan menggerakkan hati, prestasi dan perannya mengagumkan, keluwesan dan kecerdikannya yang menonjol, kebijaksanaannya yang unggul dan semangatnya yang tidak pernah kendor. Melihat perawakan badannya, warna kulitnya dan sejumlah sifat-sifatnya di atas, penyusun menyebutnya sebagai Kresna dari tanah Flores”, Tulis Richardus sebagaimana dikutip Mikhael Dua dalam “Frans Seda Merawat Indonesia di Saat Krisis (2012:128).

Menurut Richardus, cara berfikir Frans juga menyerupai cara berfikir seorang Kresna, seperti tampak dalam berbagai publikasi, terutama lewat tulisan-tulisannya. Ketika dipercaya untuk menjadi anggota Dewan Penasehat Pengembangan Kawasan Indonesia Timur oleh Presiden Soeharto pada tahun 1990, Frans memberikan pandangannya yang kritis lewat tulisannya di harian Kompas dengan gaya seorang Kresna.

Tulisan itu semacam peringatan agar Indonesia Timur harus diperhatikan dari aspek pembangunan. Frans melihat, ada semacam ketimpangan ketika wilayah di bagian timur, termasuk kampung halamannya berbatasan langsung dengan Bali, suatu daerah yang pada waktu itu sudah maju dengan segala kemegahan yang ia miliki, termasuk brand pariwisatanya. Frans menyebut Bali sebagai Taman Firdaus.

“Ada tertulis, Tuhan menciptakan Eden (Firdaus), dan di sebelah timurnya ia menempatkan manusia dalam keadaan penuh bahagia. Oleh sementara pujangga, Bali disamakan pula Eden. Dan IBT (Indonesia Bagian Timur) memang berada di sebelah timur Bali, namun Adam dan Hawa di sana harus masih berjuang untuk dapat bahagia”, Kompas (21 Maret 1990).

Namun, Frans sendiri selalu memiliki cara pandang yang khas terhadap pembangunan. Dalam melihat pembangunan di Indonesia Timur, ia memberikan saran agar pembangunan lebih mengutamakan investasi perangkat-perangkat intelektual dan Sumber Daya manusia (SDM) ketimbang membangun gedung-gedung bertingkat.

“Jangan menginvestasi dalam gedung-gedung, namun investasi dalam perangkat intelektual, dalam pembinaan para kader yang punya prinsip dan keahlian”, (Mikhael Dua, 148).

Sebagai orang Indonesia Timur, Frans betul-betul menyadari, ironi dan sejumlah ketertinggalan di wilayah Indonesia timur harus disikapi dengan political will dengan perubahan kerangka konseptual dalam pembangunan.

Pembangunan harus berorientasi pada pengembangan ekonomi lewat pemberdayaan masyarakat. Ia berkeyakinan, Indonesia bagian timur akan maju jika perekonomian rakyat dilaksanakan dalam suatu sistem jaringan yang baik, didukung oleh desentralisasi pengadaan dana dan pengembangan Sumber Daya Manusia.

Tentang ini, Mikhae Dua menuliskannya dengan sangat sangat paripurna.

“Frans Seda meyakini bahwa rakyat Indonesia bagian timur memiliki kemampuan, pengalaman dan keahlian. Yang dibutuhkan hanyalah upgrading orangnya, cara kerjanya, sistem dan cara produksinya, mutu hasil produksi barang, jasa dan komoditi untuk disesuaikan dengan kuantitas dan kualitas yang dituntut pasar”,(2012:132).

Penyelamat Bangsa

Dari masa Pemerintahan Presiden Soekarno hingga Megawati Soekarno Putri, Frans Seda adalah satu dari sedikit saja tokoh-tokoh sentral yang dengan segala kemampuannya gigih mempertahankan kekokohan bangsa dari situasi krisis.

Di era kepemimpinan presiden Soekarno, pada periode 1966-1968 misalnya, Frans berhasil menyelamatkan perekonomian negara yang semakin merosot. Waktu itu, Presiden Soekarno membubarkan kabinet Dwikora dan membentuk Kabinet Ampera di bawah pimpinan Soeharto. Frans Seda ditunjuk oleh Soeharto menjadi Menteri Keuangan.

Sebagai seorang ahli ekonomi politik, Frans betul-betul memahami bahwa masalah ekonomi dan keuangan memiliki kaitannya dengan persepsi sosial dan politik masyarakat dalam negeri dan luar negeri.

Mikhael Dua menulis, menghadapi situasi ini, Frans berusaha mengembalikan kepercayaan masyarakat luar negeri dan dalam negeri terhadap Indonesia sendiri. Salah satu langkah yang diambil dalam kondisi ini adalah mendaftarkan kembali Indonesia menjadi anggota IMF (Internasional Monetary Find) dan Bank Dunia.

Selain itu, Frans membentuk tim antardepertemen yang terdiri dari Depertemen keuangan, Depertemen perdagangan dan Bank Indonesia. Dibantu oleh pemikir ekonomi seperti Widjojo Nitisastro, Emil Salim, Sadeli, Subroto dan Ali Wardana tim ini berhasil memulihkan perekonomian nasional dengan sejumlah terobosan. Hasilnya adalah inflasi turun dari 650% menjadi 112%.

Oleh keberhasilan ini, Frans kerap dikenal sebagai Menteri Keuangan pertama yang mengembalikan kepercayaan masyarakat lewat penguatan nilai Rupiah dan pengembangan investasi. Namun keberhasilan ini sedikit membuat Frans gigit jari karena persis setelahnya, berdasarkan penetapan MPRS pada tanggal 21 Februari 1986 Soekarno menyerahkan kekuasaan kepada Soeharto di Istana Presiden.

Sebagai pengagum Soekarno, Frans melukis peristiwa ini dengan sangat haru.

“Acara singkat, tetapi historis! Penyerahan secara resmi wewenang pemerintahan sehari-hari kepada Pak Harto. Haru meliputi pula Bung Karno yang sadar bahwa dengan tindakan ini kepemimpinan dan kewenangan beliau semakin surut, namun beliau melakukannya dengan penuh kebesaran jiwa dan sikap, demi kepentingan bangsa dan negara. Beliau berkali-kali mengubah kedudukan peci beliau”, (hlm.64).

Untuk diketahui, di pemerintahan, Frans Seda memegang beberapa jabatan penting dan strategis dari masa kepemimpinan Presiden Soekarno hingga masa jabatan Presiden Megawati Soekarno Putri. Antara lain ia pernah menjadi Menteri Pertanian di era kepemimpinan Soekarno, Menteri Keuangan dan Menteri Perhubungan di era Kepemimpinan Soeharto. Di era kepemimpinan Megawati Soekarno Putri, Frans dipercaya untuk menjadi Penasehat Presiden.

Frans terhitung sebagai salah satu Menteri yang terus akan dikenang berprestasi, bertanggung jawab, cekatan dan jujur. Tentang ini, mantan Menteri Perhubungan dan Menteri Lingkungan Hidup, Emil Salim pernah memberi kesaksian:

“Frans Seda pernah pegang beberapa kementerian yang gemuk, tetapi saya tidak pernah dengar tentang ketidakberesan dalam mengelola dana besar”, itu (hlm. 144).

Menurut Emil, orientasi moral politik Frans ini tidak terlepas dari kesadarannya yang tinggi akan panggilan hidupnya sebagai seorang Katolik. Frans, kata Emil melihat nasionalisme sebagai panggilan hidup Katolik sehingga perlu dihayati dengan sungguh-sungguh.