In Memoriam Satu Tahun Peter C Aman, OFM

0
Pater Peter C Aman, OFM

Oleh Geard N Bibang*)

GAUNG-GAUNG SEMESTA

di depan bumi yang menangis
gaung-gaung semestaku bernyanyi
KATA yang berucap TERJADILAH di awal mula
adalah kekal dan tanpa berkesudahan

inilah gaung-gaung semestaku akan ekonomi yang merawat dedaunan hutan agar akar-akarnya menggemericik sungai hingga layaknya bagai partitur okestra alam
yang melantunkan lagu tentang hidup dengan cara tidak ingin mencelakakan orang lain dan merusak alam semesta
yang melantunkan simpfoni tentang jalan sungai, bukan jalan api, tentang anti perang, anti melukai dan anti membunuh, tentang motto: “kalau kamu hidup, yang lain juga boleh hidup”, tentang mata hitam, mata jernih, tentang kulit hitam, sawo, putih dan kuning tanpa prasangka, tentang daun-daun bambu yang menjulang ke angkasa dengan puja puji bagi Pencipta, tentang daun jatuh dan membusuk ke dalam tanah demi memberikan kehidupan bagi sesama ciptaan, dan tentang segala sesuatu yang hidup, lalu mati demi menghidupkan yang lain
yang memelihara keanekaragaman sebagai anugerah Ilahi, demi terciptanya konvergensi-konvergensi bagi pemanusiaan sejati dan jika menegasikannya berarti hanya akan menjatuhkan diri ke dalam manipulasi picik dan menjepit martabat-luhurnya di antara selangkangannya sendiri

maka gaung-gaung semestaku mewartakan tata ekonomi bumi-baru
yang ADIL berlandaskan CINTA dan menjadi buah dari praktek CINTA
yang mempremiskan dirinya pada solidaritas, saling berbagi, baku-peduli dan selaras dengan kelestarian alam semesta
yang menghubungkan manusia dan sumber-sumber daya demi kebaikan masing-masing dan demi kebaikan komunitas masyarakat
yang menjembatani yang telah terputus dan menyatukan yang telah terpisah-pisah
yang percaya bahwa masyarakat bertanggungjawab dan menjadi berdaya dalam mengatur kehidupan mereka sendiri, secara perorangan maupun komunal, serta merencanakan jalan hidup mereka dengan mengembangkan potensi-potensi mereka sendiri dan menentukan atas cara apa mereka sejahtera
yang menggantikan ekonomi modal dengan karya, pengetahuan dan kreativitas manusia sebagai kekuatan-kekuatan penggerak kegiatan ekonomi
yang menjadikan hak-hak individu dan masyarakat sebagai rujukan untuk merencanakan dan mengimplementasikan pembangunan

wahai semesta, dengarlah
gaungku tak kan henti akan ekonomi bumi-baru
yang senantiasa bernafaskan pada prinsip melindungi dan mendahulukan kepentingan orang-orang lemah dan rentan
yang menghasilkan pembangunan berkelanjutan dan pemberantasan kemiskinan sesuai dengan yang ditetapkan oleh masyarakat itu sendiri
yang memberi kedudukan tertinggi kepada hak rakyat atas pangan, air dan keperluan hidup lain serta melindungi kemampuan produsen-produsen kecil untuk tetap bertahan dan berkembang
yang mengakui hak-hak penduduk asli untuk tidak tercerabut dari wilayah, sumber pangan dan kebudayaan tradisional mereka
yang memperkuat rasa hormat terhadap ciptaan dengan standar ekologis demi melindungi kepentingan generasi yang akan datang dan demi kelangsungan hidup bumi
yang menggalang perdamaian dunia dengan menjamin distribusi sumber daya secara seimbang dan mencegah pemerintah-pemerintah yang kuat untuk menggunakan perdagangan bebas sebagai senjata demi kepentingan-kepentingan ekonomi yang egoistis
yang menghormati hak kedaulatan rakyat untuk memilih aneka ragam cara mereka untuk sejahtera termasuk hak untuk menarik diri atau menegosiasikan ulang perjanjian-perjanjian yang telah disepakati
yang menghormati hak dan tanggungjawab pemerintah untuk memastikan kesejahteraan semua anggota masyarakat, partisipasi demokratis dan pengelolaan sektor publik
yang memastikan tanggungjawab dan akuntabilitas sosial perusahaan-perusahaan besar, yang diatur oleh regulasi pemerintah atas dasar prinsip kewajiban sosial

maka aku selalu dan di mana-mana menggaungkan ekonomi bumi-baru yang selalu menegaskan bahwa bumi dan segala isinya adalah pemberian Allah
yang bersumber dari cinta kasih dan kepedulian bagi segenap ciptaan di alam semesta
yang bernyawa maupun yang tak bernyawa, yang hidup maupun yang tak hidup
bahwa ada hubungan kesalingtergantungan antara ciptaan dan komunitas manusia dan bahwa merusak hubungan ini berarti menghancurkan kehidupan bersama seluruh ciptaan
bahwa harapan akan suatu ekonomi global yang dibangun atas pemberdayaan masyarakat bukan saja mungkin tapi telah ada dalam komunitas yang menjalankan ekonomi mereka dengan prinsip saling berbagi dan distribusi sumber daya secara komunal
bahwa proses transformasi mensyaratkan agen pembangunan, baik pemerintah maupun masyarakat harus akuntabel di hadapan para korban rezim kapitalisme neoliberal
dan bahwa suara dan pengalaman mereka yang menderita dan tertindas harus menentukan bagi lembaga, institusi dan agen perubahan untuk dalam terang iman melihat dan menilai proyek kapitalisme neoliberal

oleh karena itu aku percaya akan ALLAH yang tidak tidur dan selalu beserta-ku
untuk menyalakan harapan baru dengan menghidupkan sebuah alternatif tata ekonomi dan tata dunia baru karena semakin jelas bahwa rezim kapitalisme neoliberal sudah memasuki senjakala
untuk menolak rezim kapitalisme neoliberal yang disanjung-sanjung sebagai satu-satunya juru kesejahteraan karena yang terjadi justru sebaliknya
untuk melawan tipu-daya kapitalisme neoliberal yang berkata bahwa pertumbuhan berbasiskan pasar perusahaan dan akumulasi modal pada segelintir tangan adalah cara terbaik mensejahterakan rakyat
untuk menentang sistem pasar bebas, perdagangan bebas dan eksploitasi dengan lokomotif utamanya: Bank Dunia, Dana Moneter Internasional, Organisasi Perdagangan Dunia dan Korporasi-korporasi Trans-nasional, yang sangat egoistik, eksploitatif, anti-demokrasi dan tidak adil
untuk menuntut penghapusan utang luar negeri karena utang itu tidak sah, tidak fair dan tidak bermoral yang dipinjamkan dengan maksud politik tersembunyi demi menjerat dan menguasai sumber-sumber ekonomi negara peminjam
untuk menolak ideologi pertumbuhan ekonomi rezim kapitalisme neoliberal karena hanya menjanjikan kesejahteraan material yang ilusif sebab sering kali tak tergapai seperti yang dijanjikan
untuk menyalakan ekonomi bumi-baru di mana hidup dan kehidupan dipandang sebagai lebih bernilai daripada uang dan kekuasaan tinggal tetap bersama rakyat biasa yang saling peduli satu sama lain, peduli komunitas mereka dan peduli lingkungan alam mereka
untuk menggantikan sistem eksploitasi, yaitu untung karena orang lain rugi, dengan sistem peduli yang mengandung solidaritas yang resiprokal, di mana keuntungan dikejar tetapi dicapai dengan tanggungjawab akan tata kehidupan bersama yang lebih baik.

dengarlah wahai dunia
lidahku tak akan kelu melantangkan ekonomi bumi-baru bukanlah ilusi
ALLAH yang ku-imani pasti berpihak kepada bumi yang menangis
dan bagi-NYA tak ada yang mustahil
meski imanku cuma sebiji sesawi

**(gnb:tmn aries:jkt:medio desember 2021)

Catatan:

Puisi ini adalah tanggapan puitik terhadap dua buku karya Peter Aman OFM yang terbit 2013, yaitu (a) Iman Yang Merangkul Bumi dan (b) Lingkungan Hidup, Keadilan & Ekaristi, yang pesan keduanya tersimpul dalam satu frase: Iman Yang Terlibat. Bahwa seorang beriman hrs mempertanggungjawabkan imannya di depan keseharian, juga di depan bumi yang menangis dan porakporanda oleh peradaban akselerasi informasi. Bahagia di sana, temanku, pastorku.

Gerard N Bibang adalah dosen sekaligus penyair kelahiran Manggarai, Flores NTT. Ia adalah penyair yang menahbiskan dirinya sebagai petani humaniora. Gerard saat ini berdomisili di Jakarta.