Inspiratif! Ignatius Bambang Topo, Sukses Lewati Rimba Kehidupan Tanpa Bekal Pengalaman

0
Pengusaha Nasional Ignatius Bambang Topo

OLeh Dewan Redaksi BULIR.ID, Zaenal Abidin

Siluet, BULIR.ID – Pembawaannya tenang dan kalem, stereotip orang Jogja tempat dia menimba ilmu, meskipun lahir di Magetan 55 tahun silam. Itulah gambaran dalam kata-kata sosok Ignatius Bambang Topo.

“Rahasia opo pak Bambang, sampeyan yang lembut begitu sampai bisa mengembangkan bisnis di Jakarta yang persaingannya begitu bengis!” tanyaku suatu sore ketika ngopi bareng di pojokkan mall di seputar markas kopassus, Jakarta Timur.

“Persahabatan dan silaturahmi harus dijaga dan dirawat sungguh sungguh,” jawabnya sambil tersenyum tulus.

Dan kata-kata itu benar-benar telah dibuktikannya, meskipun beliau penganut Katolik yang taat tapi bolak-balik ke kantor PBNU di Kramat Raya karena berkarib dengan ketua Gusdurian, Gus Basori yang menempati ruang kerja Gus Dur di sana.

Bersama Gus Basori, pak Bambang memberdayakan petani di sekitar waduk/bendungan Bener yang sempat ricuh dan jadi berita utama di media media nasional.

“Petani itu dirangkul, diberdayakan. Jangan cuma tanah leluhurnya diambil, dibayar terus menganggap persoalan selesai!” imbuhnya pelan sambil menunduk.

Kini petani di sekitar bendungan Bener di Purworejo Jateng, diajak bertanam pohon pepaya California. Bibit dikasih, pupuk obat dikasih, diberikan penyuluhan yang baik sampai nanti hasilnya beliau bantu pemasarannya.

“Kalau rakyat punya penghasilan dan makmur mereka jadi tidak membebani negara, malah bisa bayar pajak untuk pembangunan negeri ini,” ucapnya bersemangat.

Di luar ketahanan pangan yang beliau lakoni saat ini dan itu klop dengan tuntutan dunia yang hari ini tepat dihuni 8 milyar manusia yang butuh pasokan pangan dan air yang cukup.

Di luar pangan, pak Bambang juga menekuni bisnis keamanan dan kesehatan. Ketika kerusuhan Jakarta tahun 98, beliau malah panen besar-besaran.

Daerah Kemang dan Bangka yang banyak dihuni kaum jetset dan ekspatriat, kompleks dan tempat tinggalnya banyak yang minta dipasangi alarm dan cctv untuk berjaga-jaga dari ancaman.

“Itulah rahasia Tuhan, di balik hitam pekat roda bisnis yang sedang gonjang-ganjing, masih ada secercah sinar yang bisa terlihat dengan mata batin orang orang yang berpikiran jernih !” jelasnya dengan sedikit suara bergetar.

Makanya bisnis cctv dan alarm sampai hari ini tetap ditekuni beliau. Setelah sukses bekerja sama dengan Alfamart dan Indomaret untuk teknologi pengamanan dan perlindungan, dia ingin membantu Pemda DKI untuk urusan tata air di sungai sungai dan kesemrawutan lalu lintasnya.

Beliau punya teknologi yang terintegrasi yang langsung ke kantor gubernur. Jadi setiap saat sang pengambil keputusan bisa melihat langsung detik per detik yang terjadi di lapangan sehingga mampu bertindak cepat.

“Rahasia apa Pak! Berani melewati lorong-lorong rimba kehidupan meskipun tanpa bekal yang cukup?” sambil saya seruput kopi yang terakhir dengan nikmat.

“Harus punya keberanian dan mau belajar terus! Lebih baik terlambat daripada menyesal tidak melakukannya sama sekali!” ungkap beliau di ujung obrolan sore.

Saya merenung sejenak, mengamini khotbah beliau, daripada di masa tua menyesal kenapa dahulu ada peluang dan otot-otot masih kuat kesempatan itu kita biarkan lewat begitu saja.

“Amitabha Romo!” sambil saya jabat tangannya, pak Bambang tersenyum karena kami berdua pencinta keberagaman dan kemanusiaan.*