“Jagat Raya,” Puisi oleh Gerard N Bibang

0

SESEKALI

sebab sesekali aku meragu
bertabur bintang di langit selalu merotasi
terhadap mereka, aku maklum
aku meragu, tapi sesekali
akan cinta yang nyata di balik tabir itu
oleh keraguan tanpa penghujung
mungkin nyata, mungkin semu
apalah artinya sesekali meragu

jikalau setiap kalkulasi apa pun jumlahnya tetap memiliki nilai satu
jikalau angka berjumlah tak terhingga tetapi di depanku bernilai tunggal
bahwa setiap jumlah niscaya satu belaka
sebab senyata-nyatanya aku dan engkau
dalam cinta kita telah lama menjadi satu

JAGAT RAYA

jalanku jalanmu bersatu dalam jiwa
menyata dalam angan-angan yang terukur
merawat cinta yang sudah dimulai namun tak berakhir
mengabadi, melampui ruang dan waktu

tengoklah jagat raya, alam semesta, hanyalah satu; hanya tunggal; karena dari dan menuju Sang Maha Tunggal; apa pun di jagat raya, menggeliat, meregang, menghembuskan maha-nafas, berlagak memuaikan dirinya, menciptakan konsep satu dua hingga miliaran, triliunan, sampai tak terhingga; tengoklah semua itu, hanya geliat-geliat dari Sang Maha Tunggal; yang untuk geliat-geliat itu, para makhluk memerlukan waktu sangat lama untuk menemukan sesungguhnya mereka semua hanya bagian dari Tunggal; apa yang tampak banyak tapi sejatinya hanya satu dan tunggal

beribu dan berjuta tampak depan mata
beribu prasangka menghantui cinta
hanya satu dan tunggal tetap tinggal
kau dan aku telah menjadi kita
kita menjadi satu dalam cinta

*(gnb:tmn aries:jkt:kamis:11.11.21

*) Gerard N Bibang adalah dosen sekaligus penyair kelahiran Manggarai, Flores NTT. Ia adalah penyair yang menahbiskan dirinya sebagai petani humaniora. Gerard saat ini berdomisili di Jakarta.

Gerard N Bibang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here