Konsep Sako Seng dalam Sistem Pertanian Masyarakat Maumere

0

Oleh: Djanuard Lj

Editorial, Bulir.id – Budaya gotong royong atau sako seng sudah menjadi bagian hidup dalam sistem pertanian masyarakat Maumere. Namun praktik sako seng kini sudah ditinggalkan oleh sebagian besar masyarakat bahkan hampir hilang tergerus oleh arus waktu.

Sako seng dimaknai sebagai bentuk ‘partisipasi aktif’ setiap individu terutama para petani untuk ikut terlibat dalam pengolahan lahan pertanian secara bergiliran. Sako seng berasal dari kata sako dan seng, yang masing-masing memiliki arti sako (mencangkul) seng (bersma-sama). Atau dalam bahasa Indonesia bisa diterjemahkan bebas sebagai gotong royong, bekerja sama dalam pengolahan lahan pertanian secara bergantian.

Sistem kerja sama tersebut sejatinya sudah mendarah daging dan menjadi karakter sosial masyarakat Maumere pada masa lampau. Namun modernitas telah banyak mengubah praktik pertanian tradisional tersebut.

Perubahan metode pertanian dari tradisional ke modern bukan tanpa alasan. Sebab pertanian modern dapat mendongkrak produktivitas pertanian dibandingkan sistem tradisional. Petani lebih diuntungkan dengan penggunaan teknologi modern, hasilnya pun jauh lebih baik.

Meski demikian sistem pertanian modern meninggalkan banyak persoalan, mulai dari persoalan lingkungan sampai pada persoalan relasi sesama manusia. Yang menjadi sorotan adalah relasi sosial antar sesama dalam sistem pertanian sako seng.

Sako seng sendiri banyak mengandung nilai-nilai filosofis. Salah satu nilai penting yang secara tersirat dalam sako seng adalah nilai solidaritas kelompok dalam membangun komunitas. Ini menunjukkan adanya kesadaran bahwa manusia adalah makhluk sosial. Manusia tidak bisa hidup sendiri tanpa kehadiran dan bantuan orang lain.

Manusia senantiasa saling membutuhkan satu sama lain guna mewujudkan keselarasan hubungan antara sesama anggota masyarakat. Pemenuhan kebutuhan hidup tidak dapat dilakukan sendiri, melainkan membutuhkan orang lain. Artinya, di dalam setiap diri manusia pasti terdapat jiwa sosial, atau naluri saling membutuhkan satu sama lain.

Semangat sako seng telah bergeser dari yang komunal menjadi individual. Sebab individualisme yang selalu melihat segala hal dari kacamata ‘aku’, atau menonjolkan ego pribadi tentu tidak sesuai dengan fitrah manusia sebagai mahluk sosial.

Semangat pertanian sejatinya mengedepankan prinsip solidaritas, seperti yang ditunjukkan dalam semangat sako seng masyarakat Maumere. Bahwa Aku menjadi aku karena aku yang lain. Berkat yang lain sebagai the other, menampukkan kita untuk bekerja sama untuk menyelesaikan pekerjaan terutama dalam mengolah pertanian.

Kita mestinya kembali pada semangat asali sako seng yang mengajarkan solidaritas kelompok. Kerja sama bahu membahu mengolah pertanian secara tradisional.

Kearifan lokal ini mesti kita jaga dan lestarikan sehingga semangat persaudaraan dan persatuan tetap terpupuk dan tumbuh subur di kalangan akar rumput. Kita pun tidak terjebak pada ego tertentu yang pada akhirnya melahirkan konflik yang berbuntut pada penidakan atau penegasian manusia lain.

Kita berharap semua elemen masyarakat terutama lembaga adat menata kembali sistem pertanian sako seng yang memiliki nila filosofis sehingga warisan tradisi nenek moyang tetap terpelihara dan tidak dimakan oleh zaman.

Selanjutnya pemerintah desa bisa mengakomodir dan memfasilitasi lembaga adat untuk kembali menghidupkan tradisi sako seng terutama dalam bentuk kelompok-kelompok tani yang juga tengah digalakkan oleh kementerian pertanian.

Hal ini juga dapat menunjang program swasembada pangan yang digalakkan pemerintah. Pangan juga merupakan salah satu bagian dari alat pertahanan negara. Dan kini menjadi prioritas pemerintah. Swasembada pangan akan tercapai hanya dengan melibatkan masyarakat akar rumput.

Pelibatan itu menurut penulis memiliki efek ganda. Pertama memberikan ruang bagi masyarakat untuk melestarikan kearifan lokal (sako seng) sebagai sistem pertanian tradisional. Kedua, ikut berpartisipasi membantu pemerintah menopang swasembada pangan nasional. Sinergitas antara pemerintah dan masyarakat adat akan memapmukan kita menjadi kuat dalam sistem pertahanan pangan nasional.*

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here