Menemukan Makna dan Kekuatan Kontak Mata

0

SPIRITUAL, Bulir.id – Manusia merupakan makhluk yang salin menatap. Menerapkan pola tatapan dengan benar sangat penting untuk interaksi sosial yang efektif.

Kita sering tidak nyaman ketika ditatap oleh orang asing. Seringkali kita memiliki banyak cara untuk menggambarkan bagaimana mata dapat menandakan ancaman. Misalnya, ketika diprovokasi, kita mungkin memberi seseorang tatapan dengan bola mata yang taja dan bahkan memberi mereka tatapan yang bisa membunuh.

Di sisi lain, kontak mata sama kuatnya dengan romansa dan gairah. Kita dapat dengan mudah tersesat di mata seseorang, terutama jika mereka “memandang kita” melalui tatapan genit sebelum kita mengunci bola mata di ruangan yang ramai.

Manusia Diprogram untuk Menanggapi Tatapan Mata

Tatapan adalah sinyal penting di hampir semua relasi sosial, mengirimkan pesan tak terucapkan tentang ancaman, dominasi, kepatuhan, pacaran, dan banyak lagi, dengan mempertahankan atau menghindari tatapan atau dengan perubahan warna mata. Evolusi bahkan telah melengkapi banyak spesies ngengat, kupu-kupu, dan ikan dengan rangsangan mata yang disebut “eyespots” untuk menyesatkan dan mengintimidasi pemangsa.

Seperti banyak hewan lain, manusia tampaknya juga demikian, merespons segala bentuk tatapan mata. Sebagaimana kontak mata seorang bayi adalah bagian penting dari proses ikatan antara ibu dan bayi. Atau misalnya penggunaan riasan mata yang strategis oleh kita adalah cara untuk menarik perhatian dan meningkatkan efektivitasnya.

Pola tatapan kita merupakan bagian integral untuk mengatur tingkat keintiman yang kita bagikan dengan orang lain dan mengelola kesopanan dalam percakapan. Biasanya , kita lebih banyak menatap lawan bicara ketika kita mendengarkan daripada ketika kita berbicara.

Tatapan seringkali berdampak positif terhadap dalam realitas sosial. Seperti kesuksesan dalam kencan atau membuat kesan yang baik dalam wawancara kerja. Meski demikian, kita menjadi tidak nyaman jika jumlah kontak mata langsung terlalu sering atau berkepanjangan.

Tatapan adalah Sinyal Sosial

Kontak mata, atau “saling pandang”, seperti yang sering disebut oleh para peneliti yang mempelajari komunikasi nonverbal, dapat membingungkan karena menandakan bahwa individu yang melihat kita bermaksud untuk terlibat dalam beberapa jenis perilaku yang melibatkan kita. Perilaku yang dimaksud mungkin disambut dan menggairahkan atau tidak disukai dan menakutkan, tetapi dalam kedua kasus tersebut, tatapan orang lain memberi energi kepada kita untuk membuat respons yang sesuai. Dalam situasi di mana kita tidak bisa memahami apa yang orang lain maksudkan, kita berkubang dalam ketidaknyamanan dan ketakutan .

Banyak bukti bahwa tatapan memang membangkitkan gairah. Detak jantung dan indikator fisiologis lainnya dari peningkatan tingkat gairah meningkat selama kontak mata pada manusia dan juga pada primata lainnya .

Studi lapangan di mana orang-orang ditatap oleh orang asing mengungkapkan bahwa mereka yang berada di bawah tatapan orang lain berjalan lebih cepat, lebih gelisah, dan bahkan melewati persimpangan lebih cepat ketika mereka tahu bahwa seseorang sedang melihat mereka.

Kontak Mata Meningkatkan Intensitas Interaksi

Bagaimana kontak mata mempengaruhi emosi kita?

Analogi yang berguna adalah memikirkan bagaimana kita merespons musik saat volumenya meningkat. Jika kita mendengarkan musik yang kita sukai, menaikkan volume memungkinkan kita untuk lebih menikmatinya. Di sisi lain, jika teman sekamar atau tetangga kita menaikkan volume musik favorit mereka , yang tidak Anda sukai, pengalamannya menjadi semakin tidak menyenangkan.

Kontak mata “meningkatkan volume” pada emosi yang kita alami saat ini.

Akibatnya, kita melihat tingkat kontak mata yang tinggi baik dalam interaksi yang sangat positif maupun sangat negatif. Bandingkan perasaan gairah dan listrik yang dipicu oleh kontak mata yang berkepanjangan dan berlama-lama antara sepasang kekasih dengan intensitas “menatap ke bawah” sebelum pertarungan antara dua petinju, atau bentrokan dengan kontak mata tinggi yang terjadi di antara manajer bisbol dan wasit.

Eksperimen mengkonfirmasi bahwa dalam pengaturan di mana pewawancara memberikan pujian, pendapat orang yang diwawancarai tentang orang tersebut semakin tinggi semakin pewawancara melakukan kontak mata. Namun, ketika pewawancara memberikan umpan balik negatif atau informasi yang menghina, banyak kontak mata menyebabkan orang yang diwawancarai semakin tidak menyukai pewawancara.*