Menyelami Pemikiran Egoisme Etis

0

FILSAFAT, Bulir.id – Egoisme etis adalah pandangan bahwa orang harus mengejar kepentingan pribadi mereka sendiri, dan tidak ada seorang pun yang berkewajiban untuk mengutamakan kepentingan orang lain. Dengan demikian, teori ini bersifat normatif atau preskriptif: teori ini berkaitan dengan bagaimana orang seharusnya berperilaku.

Egoisme etis sangat berbeda dari egoisme psikologis, teori yang menyatakan bahwa semua tindakan kita pada akhirnya berorientasi pada kepentingan pribadi. Egoisme psikologis adalah teori deskriptif murni yang bertujuan untuk menggambarkan fakta dasar tentang sifat manusia.

Setiap orang yang mengejar kepentingan pribadinya sendiri adalah cara terbaik untuk memajukan kebaikan bersama. Argumen ini dipopulerkan oleh Bernard Mandeville (1670-1733) dalam puisinya “The Fable of the Bees” dan oleh Adam Smith (1723-1790) dalam karya perintisnya di bidang ekonomi, “The Wealth of Nations.

Dalam sebuah kutipan terkenal, Smith menulis bahwa ketika individu dengan sepenuh hati mengejar “kepuasan hasrat mereka yang sia-sia dan tak terpuaskan”, mereka secara tidak sengaja, seolah-olah “dibimbing oleh tangan tak terlihat”, menguntungkan masyarakat secara keseluruhan. Hasil yang membahagiakan ini muncul karena orang-orang pada umumnya adalah penilai terbaik atas apa yang menjadi kepentingan mereka sendiri, dan mereka jauh lebih termotivasi untuk bekerja keras demi keuntungan diri sendiri daripada mencapai tujuan lain.

Namun, keberatan yang jelas terhadap argumen ini adalah bahwa argumen ini tidak benar-benar mendukung egoisme etis. Argumen ini berasumsi bahwa yang terpenting adalah kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan, kebaikan umum. Argumen ini kemudian mengklaim bahwa cara terbaik untuk mencapai tujuan ini adalah dengan memperhatikan kepentingan diri sendiri. Namun, jika dapat dibuktikan bahwa sikap ini sebenarnya tidak memajukan kebaikan umum, maka mereka yang mengajukan argumen ini mungkin akan berhenti mendukung egoisme.

Keberatan Ayn Rand

Argumen semacam ini tampaknya diajukan oleh Ayn Rand, eksponen terkemuka “objektivisme” dan penulis “The Fountainhead” dan ” Atlas Shrugged.” Keluhannya adalah bahwa tradisi moral Yahudi-Kristen, yang mencakup atau telah menjadi bagian dari liberalisme dan sosialisme modern, mendorong etika altruisme. Altruisme berarti mengutamakan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri.

Masalahnya adalah argumen ini seolah berasumsi bahwa pada umumnya terdapat konflik antara mengejar kepentingan sendiri dan membantu orang lain. Padahal, kebanyakan orang akan mengatakan bahwa kedua tujuan ini tidak selalu bertentangan. Seringkali, keduanya saling melengkapi.

Misalnya, seorang siswa mungkin membantu teman serumahnya mengerjakan PR, yang merupakan tindakan altruistik. Namun, siswa tersebut juga berkepentingan untuk menjalin hubungan baik dengan teman serumahnya. Ia mungkin tidak membantu semua orang dalam segala situasi, tetapi ia akan membantu jika pengorbanan yang dilakukan tidak terlalu besar. Kebanyakan orang berperilaku seperti ini, mencari keseimbangan antara egoisme dan altruisme.

Egoisme etis bukanlah filsafat moral yang populer. Hal ini karena bertentangan dengan beberapa asumsi dasar yang dianut kebanyakan orang tentang apa yang dimaksud dengan etika. Dua keberatan tampaknya sangat kuat.

Egoisme etis tidak menawarkan solusi ketika muncul masalah yang melibatkan konflik kepentingan. Banyak masalah etika yang seperti ini. Misalnya, sebuah perusahaan ingin membuang limbah ke sungai; masyarakat yang tinggal di hilir sungai menolaknya. Egoisme etis menganjurkan agar kedua belah pihak secara aktif mengejar apa yang mereka inginkan. Egoisme etis tidak menyarankan penyelesaian atau kompromi yang masuk akal.

Egoisme etis bertentangan dengan prinsip imparsialitas. Asumsi dasar yang dibuat oleh banyak filsuf moral dan banyak orang lainnya adalah bahwa kita tidak boleh mendiskriminasi orang lain atas dasar sewenang-wenang seperti ras, agama, jenis kelamin, orientasi seksual, atau asal etnis. Namun, egoisme etis berpendapat bahwa kita bahkan tidak boleh mencoba bersikap imparsialitas. Sebaliknya, kita harus membedakan diri kita sendiri dan orang lain, serta memberikan perlakuan istimewa kepada diri kita sendiri.

Bagi banyak orang, hal ini tampaknya bertentangan dengan hakikat moralitas. Aturan emas yang versinya terdapat dalam Konfusianisme, Buddhisme, Yudaisme, Kristen dan Islam mengatakan bahwa kita harus memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.

Salah satu filsuf moral terbesar di zaman modern, Immanuel Kant (1724-1804), berpendapat bahwa prinsip dasar moralitas (“imperatif kategoris”, dalam jargonnya) adalah bahwa kita tidak boleh membuat pengecualian terhadap diri kita sendiri. Menurut Kant, kita tidak boleh melakukan suatu tindakan jika kita tidak dapat dengan jujur menginginkan semua orang berperilaku dengan cara yang sama dalam situasi yang sama.*