Ada dan Ketiadaan Menurut Sartre Sebuah Pengantar Menuju Eksistensialisme

0

FILSAFAT, Bulir.id – Apakah kebebasan adalah nilai yang paling utama bagi manusia? Apa yang membuat manusia bebas? Karya utama Jean Paul Sartre, Being and Nothingness, mencoba menjawab beberapa pertanyaan ini.

Sartre seorang filsuf eksistensialis ini mengatakan bahwa manusia berbeda dengan hewan. Manusia memiliki tujuan hidup dan memiliki kekuatan untuk menciptakan makna hidup mereka sendiri.

Ada dan Ketiadaan

Jean Paul Sartre adalah seorang filsuf Prancis yang membuat namanya dikenal pada tahun 1930-an dan awal 1940-an dengan karyanya yang terkenal tentang eksistensialisme. Dia benar-benar mengukuhkan dirinya sebagai tokoh yang berpengaruh ketika dia merilis Being and Nothingness yang panjangnya lebih dari 600 halaman, menjadi sukses besar pada tahun 1943.

Buku ini tidak hanya ditulis dalam semalam; buku ini telah dibuat selama bertahun-tahun oleh Sartre. Dia dipengaruhi oleh buku Martin Heidegger yang berjudul Being and Time yang terbit pada tahun 1927. Setidaknya butuh waktu hingga awal 1930-an sebelum ia mulai menyusun buku yang awalnya dikenal sebagai The Transcendence of The Ego.

Seiring berjalannya waktu, ide-ide Sartre berkembang, mendorong perubahan judul yang mencerminkan fokus baru pada keberadaan itu sendiri. Dengan demikian, Being and Nothingness selesai ditulis sekitar tahun 1940.

Dua Jenis Realitas di Luar Kesadaran

Jean Paul Sartre mendefinisikan dua jenis realitas di luar kesadaran manusia dalam karyanya, Being and Nothingness. Ada “ada-dalam-dirinya” dan “ada-untuk-dirinya”. Dengan membedakan realitas ini, Sartre mampu menekankan pentingnya kebebasan manusia sebagai karakteristik yang menentukan keberadaan.

Ada-dalam-dirinya sendiri adalah realitas konkret yang ada di luar kesadaran karena ketidakmampuannya untuk berubah atau berkembang; jenis eksistensi ini sama sekali tidak menyadari dirinya sendiri dalam arti objektif karena ia hanya “ada” apa adanya. Ia tidak memiliki pengalaman atau identitas subjektif. “Ada-dalam-dirinya sendiri” adalah sesuatu konkret dan tidak sadar yang tidak memiliki kemampuan untuk berubah atau menyadari dirinya sendiri. Jenis tersebut mewakili alam wujud yang padat, tidak berubah, dan tidak dapat diketahui.

Sebaliknya, ada untuk dirinya sendiri mengalami kecemasan yang berasal dari kediriannya sendiri. Hidup dengan kesadaran akan individualitas yang menciptakan pilihan-pilihan yang membawa seseorang menjauh dari jalan yang telah ditentukan. Hal ini berbeda dengan hewan yang dapat mempertimbangkan tindakannya tanpa perasaan; kapasitas kesadaran diri yang memungkinkan manusia untuk membuat pilihan dengan objektivitas yang lebih besar daripada ciptaan lain.

Perbedaan antara dua jenis realitas di luar kesadaran yang disajikan oleh Sartre ini memiliki arti penting untuk memahami konsep-konsep eksistensialis yang berkaitan dengan kebebasan, pengalaman manusia, dan pilihan dalam hidup.

Hanya manusia yang menggabungkan kedua aspek tersebut. Kita memiliki aspek bawah sadar yang memungkinkan kita untuk tetap berakar pada budaya sekaligus memiliki aspek sadar yang melaluinya kita dapat merefleksikan situasi kita secara kritis dan menciptakan makna bagi diri kita sendiri secara independen dari lingkungan atau keadaan historis kita.

Konsep Kebebasan yang Berhubungan dengan Ada dan Ketiadaan

Kebebasan memilih adalah kunci dari proyek Sartre dalam Being and Nothingness. Dia mendorong orang untuk tidak bergantung pada kekuatan eksternal atau menganggap ada kekuatan yang lebih tinggi yang mendikte tindakan kita.

Sebaliknya, mereka harus bertanggung jawab atas diri mereka sendiri dan membuat keputusan tanpa pengaruh dari luar. Pada akhirnya, hal ini memberikan kita otonomi atas keberadaan kita, seperti yang diyakini Sartre bahwa eksistensi mendahului esensi. Pilihan kita berperan dalam menentukan siapa diri kita.

Kebebasan adalah inti dari filsafat eksistensialisme secara keseluruhan. Sartre menyatakan bahwa manusia “dikutuk untuk bebas” karena fakta bahwa kita tidak memiliki tujuan yang telah ditentukan dalam hidup dan harus membuat makna bagi diri kita sendiri melalui pilihan kita.

Gagasan ini menunjukkan bahwa manusia sepenuhnya bertanggung jawab untuk menentukan makna hidup mereka sendiri. Secara radikal berbeda dengan gagasan tradisional tentang penentuan, tanggung jawab, atau tujuan yang ditetapkan oleh kekuatan eksternal seperti agama atau otoritas.

Dengan demikian, kebebasan menjadi karakteristik yang menentukan eksistensi manusia dalam eksistensialisme Sartrian: kita harus menggunakan kesadaran kita yang kompleks untuk secara aktif membuat keputusan terlepas dari betapa sulitnya keputusan itu kadang-kadang terlihat, hanya dengan demikian kita dapat menemukan kebermaknaan sejati dalam perjalanan hidup kita.

Dengan demikian, konsepsi sebelumnya tentang determinisme menjadi tidak relevan karena manusia tidak lagi bergantung pada kekuatan luar yang memberi mereka suatu keteraturan atau tujuan yang melekat. Sebaliknya, setiap individu memiliki tanggung jawab penuh untuk menciptakan realitas subjektif dan pengalaman individu mereka sendiri, sehingga menciptakan jalur otonom yang penuh dengan potensi.

Kebebasan Radikal sebagai Karakteristik Penentu Keberadaan Manusia

Tidak seperti benda-benda lain di dunia ini, kita tidak memiliki sifat atau esensi yang sudah ada sebelumnya untuk mendikte perilaku atau keberadaan kita. Sebaliknya, terserah pada kita untuk menentukan diri kita sendiri dan memberikan makna pada hidup kita. Sesuatu yang mungkin terdengar membebaskan di permukaan, tetapi juga dapat menjadi kenyataan yang mengintimidasi.

Kita menjadi penanggung jawab penuh atas semua keputusan yang kita ambil, dan kita tidak dapat menyalahkan orang lain jika segala sesuatunya tidak berjalan sesuai rencana. Untuk menghindari tanggung jawab ini, banyak orang mengadopsi taktik “itikad buruk”, seperti berpura-pura mematuhi norma masyarakat atau harapan orang lain, padahal sebenarnya mereka terlalu takut untuk menghadapi pilihan mereka sendiri secara langsung.

Bahkan ketika merangkul otonomi, mungkin masih ada kecemasan tentang membuat keputusan yang mengubah hidup tanpa bimbingan eksternal. Namun, terlepas dari tantangan-tantangan ini, Sartre memandang kebebasan tersebut secara positif. Memiliki kendali penuh atas hidup kita memberi kita pilihan dan memungkinkan setiap orang memiliki kesempatan unik untuk membangun warisan yang langgeng berdasarkan keyakinan pribadi dan bukan kekuatan dari luar.

Peran Kesadaran dalam Menciptakan Makna

Konsep kesadaran dalam Being and Nothingness adalah bahwa hal ini memungkinkan orang untuk membuat pilihan dan menciptakan tujuan di dunia yang tidak berarti. Kekuatan sadar ini memberi kita kebebasan untuk melampaui kodrat yang telah ditentukan, membebaskan diri kita dari tekanan eksternal.

Namun demikian, kemampuan ini juga memiliki tantangan, seperti bergulat dengan “ketiadaan”, krisis eksistensial yang harus kita hadapi untuk menemukan makna di dalam diri kita sendiri. Hal ini bisa membebaskan sekaligus menakutkan. Jika kita memiliki keberanian, kita dapat belajar untuk mengandalkan kesadaran kita, yang dipandu oleh keyakinan dan nilai-nilai kita. Dengan demikian, kita dapat melihat ketiadaan bukan sebagai sesuatu yang harus ditakuti, tetapi sebagai sarana pembebasan tertinggi. Dengan melampaui jalan yang telah ditentukan, kita menemukan kebebasan sejati di dalam diri kita sendiri.

Pada intinya, Jean Paul Sartre mendorong refleksi diri sehingga seseorang dapat melampaui eksistensi menjadi eksistensi yang sejati melalui tindakan yang bermakna yang dihasilkan semata-mata melalui pilihan pribadi dan bukan pengaruh dari luar.

Konsep Itikad Buruk

Gagasan tentang itikad buruk merupakan inti dari buku Being and Nothingness karya Jean Paul Sartre. Hal ini melibatkan penghindaran tanggung jawab atas keputusan kita dengan menyangkal bahwa kita pernah memiliki pilihan untuk memulai. Menurut Sartre, individu dapat memilih “itikad buruk” sebagai cara untuk melarikan diri dari menghadapi kenyataan atau mencari makna dalam hidup.

Di permukaan, hal ini mungkin tampak seperti jalan keluar yang mudah dari situasi sulit, seperti memilih jurusan kuliah atau jalur karier, tetapi hal ini juga merampas kepuasan sejati. Sebagai contoh: seseorang mungkin menyangkal haknya untuk memilih secara bebas untuk menghindari potensi masalah yang muncul dari pilihannya karena hal tersebut menimbulkan konsekuensi negatif seperti kegagalan, rasa bersalah, atau perasaan hampa.

Sartre berpendapat bahwa manusia tidak memiliki esensi yang telah ditentukan sebelumnya, sehingga mereka bebas membentuk diri mereka sendiri melalui pilihan-pilihannya meskipun tingkat kebebasan ini dapat mengintimidasi. Wajar jika kita ingin menghindari pertanggungjawaban dengan berbagai alasan, yang menurut Sartre sama saja dengan menipu diri sendiri.

Namun, secara berlawanan dengan intuisi, itikad buruk tidak lebih dari membatasi pertumbuhan pribadi dan menggagalkan potensi kebahagiaan: hidup yang otentik menuntut kebebasan sambil tetap setia pada diri kita sendiri meskipun terkadang hal ini terasa berat.

Arti Penting Ada dan Ketiadaan Sartre dalam Filsafat Eksistensialis

Being and Nothingness menawarkan wawasan yang kuat ke dalam konsep-konsep seperti kebebasan, kesadaran, ontologi, dan banyak lagi, serta memprovokasi kita untuk mengevaluasi kembali keyakinan yang kita terima tentang apa arti keberadaan manusia.

Dalam Being and Nothingness, Sartre meletakkan dasar-dasar filsafat eksistensialis versinya. Dia menegaskan bahwa manusia tidak memiliki esensi atau tujuan yang telah ditentukan sebelumnya; sebaliknya, mereka harus menggunakan otonomi mereka untuk membuat keputusan yang berarti dalam hidup tanpa bergantung pada kekuatan eksternal.

Sartre berpendapat bahwa kesadaran merupakan bagian integral dari proses ini. Kita dapat mengenali potensi dalam diri kita sendiri bahkan ketika dihadapkan pada apa yang mungkin tampak seperti dunia yang kosong pada pandangan pertama. Meskipun terlihat mengintimidasi, membuat pilihan yang sesuai dengan keyakinan kita memungkinkan kita untuk menemukan makna daripada hanya terikat pada ekspektasi atau takdir.

Filsuf ini juga mengidentifikasi taktik “itikad buruk” yang melibatkan penghindaran pertanggungjawaban melalui penyangkalan atau pembenaran sehingga seseorang dapat menghindari kemungkinan kegagalan yang pada akhirnya menghalangi pertumbuhan pribadi sekaligus menyangkal kebahagiaan yang lebih besar dalam hidup.

Singkatnya, buku ini berusaha untuk mengubah cara pandang manusia terhadap keberadaannya dengan mengutamakan kehendak bebas ditambah pilihan-pilihan penuh kesadaran yang dilakukan melalui kemauan individu. Dengan berani menghadapi kendali yang diarahkan oleh diri sendiri, kita dapat mulai membentuk niat dan hidup bersama secara jujur.*