Bangga! Inilah Profil Fientje Suebu, Perempuan Papua Pertama Dilantik Jokowi Jadi Dubes

0

Tabur, BULIR.ID – Presiden Joko Widodo atau Jokowi melantik Fientje Maritje Suebu sebagai Duta Besar LBBP RI untuk Selandia Baru merangkap Samoa, Kerajaan Tonga, Kepulauan Cook, dan Niue.
Fientje menjadi perempuan pertama asal Papua yang didapuk jadi Duta Besar (Dubes).

Fientje adalah perempuan kelahiran Sentani yang menempuh pendidikan di Sekolah Dinas Luar Negeri. Usai lulus, ia berkiprah di Kementerian Luar Negeri selama 31 tahun.

Dia pernah menjabat Wakil Kepala Perwakilan di Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk India. Pada Juli 2021, DPR menyatakan Fientje lolos uji kelayakan dan kepatutan sebagai duta besar.

Fientje menggantikan posisi politikus Partai Golkar Tanthowi Yahya. Mantan presenter kondang itu telah menjabat sebagai Duta Besar LBBP RI untuk Selandia Baru merangkap Samoa, Kerajaan Tonga, Kepulauan Cook, dan Niue sejak 2017.

“Saya bersumpah/berjanji bahwa saya untuk diangkat menjadi duta besar luar biasa dan berkuasa penuh akan setia kepada Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta akan menjalankan segala peraturan perundang-undangan dengan selurus-lurusnya demi darmabakti saya kepada bangsa dan negara,” kata Jokowi diikuti tiga duta besar, di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (12/1).

Sosok Fientje

Fientje menempuh pendidikan di Sekolah Dinas Luar Negeri. Setelah lulus, ia mendedikasikan diri di Kementerian Luar Negeri selama 31 tahun.

Sebelum menjadi Dubes Selandia Baru, Fientje juga pernah menjabat Wakil Kepala Perwakilan di Kedutaan Besar RI (KBRI) India.

Kemudian pada Juli 2021, DPR menyatakan ia lolos uji kelayakan dan kepatuhan sebagai duta besar.

Perempuan kelahiran Sentani dan anak kepala suku itu, akan menggantikan eks presenter ternama Indonesia, Tantowi Yahya, yang menjabat sejak 2017.

Bergelut di dunia diplomasi sekaligus menjadi ibu dari tiga anak diakuinya bukan hal yang mudah bagi Fientje. Sebab, profesi dia mengharuskan dirinya melalui perjalanan ke negara lain setiap beberapa tahun sekali.

Salah satu tantangan yang ia soroti adalah beradaptasi dengan sistem pendidikan di negara lain. Meski demikian, ia tetap mendapat dukungan dari sang suami, Philpus Sarwom.

Fientje punya keinginan besar untuk menunjukkan bahwa warga Papua juga bisa berdaya. Ia yakin perempuan Papua mampu menjadi agen perubahan di bidangnya masing-masing.*