BKH: Politisi Tegas, Rendah Hati dan Tak Baper

0

SILUET, BULIR.ID – Beni Kabur Harman atau BKH adalah satu dari sedikit saja politisi yang punya sikap tegas, rendah hati dan tak mudah baper. Ia memiliki mekanisme pertahanan diri yang kuat tatkala ada kekuatan di luar dirinya yang coba memancing di air keruh.

Baru-Baru ini, BKH dituduh melakukan penganiayaan terhadap Ricardo Cundawan (RC), karyawan Restoran Pondok Mai Cenggo di Labuan Bajo, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Isu ini membuat situasi keruh. Ada pembelahan di tengah-tengah masyarakat, antara yang membela maupun mengutuknya.

Namun seperti biasa, sosok BKH tetap menunjukkan sisi genuinenya. Ia menghadapi tudingan ini dengan santai. Ia tak menunjukkan reaksi yang berlebihan selain menunggu proses hukum dengan penuh kesabaran.

Dari dulu, BKH memang tidak suka dengan kepura-puraan. Dia tipe politisi yang antipati dengan segala bentuk tipu muslihat, kemunafikan dan pencitraan. Lebih-lebih, jika itu dilakukan hanya untuk memperoleh dan mempertahankan kekuasaan.

Bagi BKH, merawat kekuasaan tak lain dan tak bukan adalah dengan menunjukan keberpihakan dan memelihara kewarasan berfikir. Mungkin inilah yang membuat BKH tidak disukai, lantas oknum-oknum tertentu berusaha menyebar informasi yang menyesatkan dengan tujuan mencoreng ketokohan BKH.

Sebagai sosok yang telah makan asam garam sebagai advokat, BKH sangat cermat dan hati-hati. Ia menjaga betul sikap, tutur kata dan tingkah lakunya sebagai pejabat publik. Ia sadar, keadilan hukum, dalam hal apa pun itu akan selalu berpihak pada yang benar dan jujur.

Konsistensi BKH berbuah manis. Melalui kasus Mai Cenggo, publik dapat menilai siapa BKH sebenarnya. Semua fakta hukum yang terlanjur diglorifikasi untuk memojokkan BKH ternyata tidak lebih dari upaya sistematis membunuh karakternya. Semua bukti-bukti itu ternyata direkayasa yang keakuratannya diragukan oleh kepolisian.

Upaya menyerang BKH ditelanjangi secara gamblang oleh Piter Ruman (PR), kuasa hukum RC yang secara terbuka mengundurkan diri karena sedemikian politisnya kasus ini. PR merasa ditunggangi oleh orang-orang yang sedari awal menaruh dendam pribadi dan kelompok atas BKH.

“Saya memutuskan mengundurkan diri dalam perkara ini. Karena tujuannya semakin terlihat bergeser dan terus ditunggangi. Patut diingat, punggung saya tidak bisa kalian naiki lagi, punggung saya hanya boleh dinaiki oleh orang orang tulus dan jujur enyahlah kau setan dari punggung ku!!! Setiap nafas perjuangan saya hanya untuk mendapatkan kedamaian untuk semua orang. Bukan untuk sebuah permusuhan dan menebar kebencian. Karena saya hadir di sini di gelanggang hukum ini untuk mewartakan kasih TUHAN. Sesuai kemampuan saya.”

Demikian bunyi pengakuan PR yang dipostingnya di akun sosial media Facebook dan dikutip berbagai media baik lokal maupun nasional. Pengakuan ini lantas membongkar skema busuk oknum-oknum tertentu di balik kasus ini.

Pengakuan PR bisa saja membuat BKH berbesar hati dan menepuk dada. Tetapi itu tidak dia lakukan. BKH justru menyampaikan permohonan maaf. Ia meminta maaf kepada RC, pihak Restoran Pondok Mai Cenggo dan kepada seluruh masyarakat. Bayangkan, Ia meminta maaf setelah ia di-buly dan dicaci maki.

“Meskipun visumnya negatif, kesalahpahaman ini telah membuat retak relasi sosial di antara kita. Mohon maaf kepada seluruh rakyat di seantero negeri, masyarakat NTT dan kepada Ytk manager Resto Mai Cenggo Sdr Ricardo. Mari bangun Bajo jadi destinasi pariwisata superpremium” tulis BKH di akun Twitternya @BennyHarmanID.

Serangan atas BKH, tidak berhenti di kasus Mai Cenggo. Dalam posisinya sebagai anggota DPR RI, BKH — terutama untuk konteks NTT,  juga kerap dikerdilkan tugas dan posisinya hanya karena ia membongkar  cara kerja kekuasaan yang narsistik dan sensasional.

BKH misalnya pernah dihujat gara-gara mengkritik kerumunan masa saat kunjungan Presiden Jokowi di Maumere beberapa bulan lalu. Padahal, substansi kritikan BKH jelas, di tengah kerentanan Covid, orang selevel Presiden tidak boleh gegabah. Presiden sebaliknya harus menjadi role model pembangunan penanganan covid dengan mematuhi protokol kesehatan dan aturan-aturan yang ada.

“Dengan peristiwa ini, Presiden hendak mempertontonkan bahwa beliau adalah Presiden yang beyond hukum, yang tidak tunduk pada hukum. Peristiwa ini juga memperlihatkan masyarakat NTT rela mati, rela korbankan dirinya terpapar COVID-19 hanya untuk melihat langsung wajah Presiden, pemimpin yang mereka cintai,” kata BKH.

Namun, kritikan BKH justru dicounter dengan pernyataan yang cenderung menyerang personal sekaligus jauh dari substansi persoalan. BKH, atas kritikkannya itu justru dikaitkan dengan kecintaan dan keberpihakannya terhadap masyarakat di Pulau Flores. Fransisco Soares, warga Kabupaten Sikka, Maumere menuliskan surat terbuka untuk BKH.

“Namun jika Saudara tidak dapat menghargai perasaan rakyat Sumba dan Flores dalam menyambut kedatangan Presiden, lebih baik Saudara diam. Ya, sikap diam menjadi pilihan yang tepat bagi Saudara untuk tidak mengomentari luapan kebahagiaan rakyat Sumba dan Flores menyambut kedatangan Presiden di tanah Marapu dan Nusa Nipa,” tulis Soares.

Yang lebih fatal, Soares justru meminta BKH agar mengikuti logika masyarakat yang telah dipengaruhi oleh kekuasaan – dengan melihat kunjungan Jokowi sebagai sesuatu yang normal di tengah ketidaknormalan kasus Covid. Yang aneh, tawaran itu diberikan kepada BKH, oposan sejati dengan karakternya yang tegas dan tidak mengenal kompromi dalam memperjuangkan kebenaran dan kejernihan berfikir.

“Saudara sebagai 1 dari jutaan rakyat Flores yang bernasib baik di tanah rantau seharusnya mengeluarkan pernyataan yang membuat rakyat Sumba dan Flores bersimpati dan mencintaimu seperti cinta rakyat Sumba dan Flores kepada Presiden RI. Saudara harusnya berpikir terlebih dahulu sebelum mengeluarkan pernyataan itu, apakah pernyataan itu akan diterima oleh mayoritas masyarakat Sumba dan Flores atau sebaliknya mendengar namamu saja masyarakat menjadi antipati,” demikian penggalan lain surat Soares.

BKH, lagi-lagi bukanlah tipe yang mudah Baper. Ia memilih diam untuk sesuatu yang memang tidak layak untuk dikomentari. Ia lebih fokus mengerjakan tugas-tugas kenegaraan di Komisi III DPR RI yang membutuhkan keterlibatannya.

Di Komisi III, BKH memiliki banyak prestasi yang diakui secara nasional dan internasional. Pretasi-prestasi itu ia abadikan untuk negara dan bangsa yang ia cintai, bukan untuk digembar-gembor sana-sini sekedar untuk mendapatkan sensasi.

BKH adalah sosok yang hanya akan dipahami oleh-oleh masyarakat-masyarakat kecil yang hidup dan senantiasa tumbuh dalam kejujuran, kebenaran dan ketulusan. Di level elite, ia hanya bisa dipahami kalau kekuasaan senantiasa merawat iklim kejernihan iklim berfikir.*

 

Rian Agung,                                            Jakarta, 10 Juni 2022