Memotret dan Memungut Kenangan di Gereja Orong

0

Orong, Bulir.id – Apa yang terlintas di pikiran kalian saat menyaksikan sebuah bangunan Gereja yang megah, punya halaman yang luas dan dikelilingi oleh ribuan pepohonan hijau yang rindang?

Apa pula yang ingin kalian ungkapkan ketika di sore hari, Tuhan melukis dengan sangat sempurna terbenamnya matahari. Mula-mula dia seperti membentang, sedikit demi sedikit menggumpal, lalu memerah – dan secara perlahan Jatuh seperti bara api mengenai atap Gereja?

Inilah potret Gereja Orong yang diapit oleh dua bangunan tua khas Eropa, Pastoran di sebelah barat dan sekretariat Paroki di sebelah timur. Konon, setiap hari menjelang sore, orang beramai-ramai mendatangi Gereja.

Ada ibu-ibu yang menenteng buku doa, berjalan pelan seperti sedang merawat mimpi-mimpinya dari arah pintu gerbang. Mereka tampak khusuk, mengatupkan kedua tangan untuk mengamini doa-doanya sebelum masuk Gereja.

Lain dengan anak-anak sekolah yang biasanya datang hanya untuk berswafoto di halaman Gereja. Di sela-sela pemotretan, mereka bercerita tentang banyak hal. Tentang sekolah, masa depan dan kemungkinan kalau saat berpisah dengan teman-temanya.

Pemandangan sedikit agak berbeda kalau kita mendapati sekelompok anak muda duduk bersimpul. Kadang, ada yang berduaan di sudut Gereja, tidak tahu sedang berbicara apa, tetapi dari kejauhan tampak seperti sedang menguping doa-doa semesta.

Hampir setiap sore anak-anak muda ini datang ke Gereja. Seorang dari mereka pernah memberi kesaksian. “Semakin jauh manusia berpergian, semakin dekat iya dengan dirinya sendiri”.

Kesaksian ini tentu saja memberi makna terdalam arti dari perjalanan manusia. Bahwa bepergian ke mana pun manusia, tujuannya tidak selalu tunggal.

Manusia misalnya merantau untuk mendapatkan uang, tetapi pada saat yang sama, ia juga menerima asupan pengalaman di tempat baru yang menguatkan jiwanya. Semakin ia membenturkan dirinya dengan pengalaman-pengalaman baru itu, semakin ia mengenali dirinya.

Para sesepuh, orang-orang tua dan guru-guru memberi kesaksian pamungkas. Bagi mereka Gereja dengan kemegahannya hari ini, merupakan bukti nyata kasih Tuhan yang menyapa umat-Nya dengan kelembutan kasih.

“Kemegahan ini semata-mata karena kasih karunia Tuhan sendiri. Dengan segala kemahakuasaan-Nya, Ia menguatkan iman umat, menyatukan persepsi, lantas, bangunan semegah ini dapat diselesaikan dalam banyak keterbatasan,” demikian kesaksian umat.

“Swadaya umat dan budi baik para donatur menentukan keberhasilan bangunan ini. Itu semua dimungkinkan karena kita digerakkan oleh Roh yang sama, yakni Roh Kudus sendiri. Roh Kudus, dengan daya transformatifnya mampu menaklukkan egoisme umat, sehingga secara kolektif-kolegial semua merasa terpanggil berpartisipasi aktif dalam pembangunan ini,” kesaksian umat yang lain.

Begitulah cara sebagian orang memotret dan memungut kenangannya di Gereja Orong. Ini hanya secuil dari begitu banyak pengalaman umat yang terekam dalam ingatan. Kelak, pengalaman-pengalaman ini menjadi kado terindah untuk diceritakan ke generasi penerus.