IMAM “Roti yang dipecahkan, Anggur yang ditumpahkan”.

0

Oleh: Fr. Stefan Bandar 

 

SPIRITUAL, Bulir.id – Jika realitas kehidupan manusia serupa lautan luas, maka imam adalah seorang pelaut yang berlayar di atasnya. Di tengah samudra ia harus mengibarkan layarnya agar ia dapat sampai pada tujuan sebab jika tidak akan tersesat atau bahkan tenggelam. Terkadang badai ganas datang menghantamnya hingga membawanya pada pilihan: terus berlayar atau kembali pulang.

Ia boleh saja takjub dengan keindahan alam di bawa laut. Boleh mengagumi, bahkan berhasrat untuk menyelam menuju dasar samudra. Tapi ia sekali-kali tidak boleh menyeburkan dirinya ke bawah, apalagi jika ia tidak tahu cara berenang, karena mungkin saja ia akan tenggelam atau dimakan binatang buas di dasar samudra tanpa bisa kembali menuju bahteranya.

Perkara imam adalah perkara tentang hal-hal yang ilahi. Mengapa? Sesungguhnya imamat telah menjadikan imam beraromakan surgawi. Imamat tidak datang dari dunia tetapi dari Dia yang tubuh-Nya dipecahkan dan darah-Nya ditumpahkan di atas kayu salib. Sehingga tidak ada yang sia-sia dalam diri seorang imam, bahkan penderitaan sekalipun sebab penderitaan Yesus sebagai modelnya tidaklah sia-sia.

Persembahan imam bukanlah hal-hal duniawi, hal-hal yang hanya sebentar saja. Persembahan tertinggi, tersuci dan termulia seorang imam adalah dirinya sendiri. Segala kepunyaannya harus disembelihkan di atas altar bersama kurban tersuci Yesus Kristus. Tubuhnya harus menjadi tanah tempat tumbuhnya benih-benih iman yang mulia. Darahnya harus menjadi air yang mengalir memuaskan dahaga manusia akan Yang Esa.

Imam adalah seorang pelaut yang berlayar bersama imannya. Ia tidak perlu membawa uang, intan ataupun permata. Jika dapat diibaratkan: uang adalah kasihnya, intan adalah harapannya, permata adalah imannya, dan kekudusan adalah nafasnya.

Lalu bagaimana jika imam sampai pada tepian dengan bahtranya? Jika lengan imam tidak terlalu kuat untuk menopang layarnya, tangannya tidak terlalu kuat mendorong bahteranya hingga menuju tepian, sabdanya tidak terlalu kuat untuk menghentikan angin serta badai lautan, lalu siapa?

Dia yang memanggilnya adalah yang melakukannya. Dia menyatu di dalam ketakutan dan kecemasan imam lalu mengangkatnya menjadi perkasa. Dia tinggal di dalam kelemahan tangan imam lalu membuatnya menjadi kuat. Dia hidup di dalam mulut imam lalu menyentuh lidahnya hingga membuat sabdanya menjadi perintah ilahi!

Kekuatan imam ada di dalam doa-doa yang dirapalnya. Doa imam adalah doa kudus, harapan imam adalah harapan mulia. Doa imam serupa ribut yang membangunkan Tuhan dari tidurNya, seperti hujan yang menikam bumi lalu menumbuhkan tunas-tunas baru. Harapan imam serupa asap dupa, melambung menuju pangkuan Tuhan hingga membuat-Nya menurunkan rahmat yang tak terbatas!

Dengan demikian meminta (Rogate) adalah nafas seorang imam, melekat pada nadinya dan menyatu bersama detak jantungnya. Rogate atau meminta serupa tanda kerendahan hati sebab Rogate atau meminta berarti tidak memiliki dan serentak membutuhkan dengan menyadari bahwa Dia yang menerima permintaan ini memilikinya. Rogate serupa karang tempat kandung imam mulia, lalu lahir sebagai pelaut yang selamat mencapai tepian dengan bahteranya!


FR. STEFAN BANDAR merupakan alumnus Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero. Calon imam Rogationis yang sedang menjalankan masa TOP di Manila, Filipina ini aktif menulis di berbagai media.