Kritik Jacques Ellul Tentang Tirani Teknik dan Bagaimana Teknologi Menjadi Penguasa

0

FILSAFAT, Bulir.id – Jacques Ellul adalah seorang filsuf teknologi yang paling dikenal karena analisis kritisnya tentang apa yang disebutnya “teknik,” sebagai “totalitas metode yang dicapai secara rasional dan memiliki efisiensi absolut (untuk tahap perkembangan tertentu) di setiap bidang aktivitas manusia.” Dengan kata lain, teknik adalah keadaan masyarakat di mana semua usaha manusia dipahami dan dilakukan dengan cara yang menekankan efisiensi dan produktivitas maksimum.

Dalam buku The Technological Society, Jacques Ellul menyajikan salah satu kebenaran paling meresahkan di zaman modern: teknologi bukan lagi alat yang kita kendalikan sebab ia telah menjadi tuan yang kita layani.

Tidak seperti pandangan tradisional bahwa teknologi adalah kekuatan netral yang dipandu oleh kehendak manusia, Jacques Ellul berpendapat bahwa teknologi berevolusi menurut logika otonomnya sendiri, acuh tak acuh terhadap nilai-nilai, keinginan, atau etika manusia.

Keindahan argumen Jacques Ellul yang mengerikan adalah kesederhanaannya: teknologi tidak membutuhkan tuan karena ia mendorong dirinya sendiri. Begitu teknik baru ditemukan, ia menyebar, bukan karena bagus, tetapi karena berhasil. Sistem itu memberi makan dirinya sendiri.

“Teknik berevolusi dengan otonomi yang tak dapat dikendalikan oleh masyarakat manusia mana pun. Begitu suatu teknik dimungkinkan, ia menjadi tak terelakkan.”

Inilah tirani teknik, kekuatan diam dan tak kenal lelah yang membentuk setiap aspek kehidupan kita tanpa persetujuan kita, dan sering kali tanpa kita sadari.

Apa Itu Teknik? (Bukan Sekadar Gadget)

Ketika Ellul berbicara tentang “teknik”, ia tidak hanya merujuk pada mesin atau gawai berteknologi tinggi. Teknik adalah metode atau proses apa pun yang mencari cara paling efisien untuk mencapai suatu tujuan. Ini tentang optimalisasi, peningkatan, dan yang terpenting efisiensi.

  • Metode bertani yang meningkatkan hasil panen? Itu sebuah teknik.
  • Algoritma yang memprediksi kebiasaan belanja Anda? Teknik.
  • Sistem birokrasi yang memproses aplikasi lebih cepat? Masih teknik.

Bahkan strategi propaganda yang dirancang untuk memanipulasi opini publik adalah bentuk teknik.

Ciri utama teknik adalah pembenaran diri. Teknik tidak bertanya, “Haruskah kita melakukan ini?” Teknik hanya bertanya, “Bisakah kita melakukan ini dengan lebih efisien?”

“Teknologi berevolusi bukan karena bermanfaat bagi umat manusia. Teknik berevolusi karena memungkinkan.”

Prinsip sederhana ini memiliki implikasi radikal: begitu sebuah teknik baru ditemukan, adopsinya menjadi tak terelakkan. Tak ada jalan kembali.

Otonomi Teknologi: Mengapa Kemajuan Tidak Dapat Dihentikan

Klaim Ellul yang paling provokatif dan meresahkan adalah bahwa teknologi berkembang secara otonom, terlepas dari kendali manusia. Ini berarti:

1. Jika sesuatu bisa dilakukan, pasti akan dilakukan.

Begitu suatu teknik ada, seseorang, di suatu tempat, akan mengadopsinya—entah masyarakat siap menghadapi konsekuensinya atau tidak.

2. Tidak ada yang bertanggung jawab.

Politisi tidak mengendalikan teknologi; mereka bereaksi terhadapnya. Korporasi tidak mengarahkan perkembangannya; mereka mengejarnya. Bahkan para penemu pun tidak dapat memprediksi atau membatasi penggunaan ciptaan mereka.

3. Kemajuan teknologi bersifat saling memperkuat.

Setiap inovasi baru menciptakan kondisi untuk inovasi selanjutnya. Ini adalah siklus umpan balik tanpa hambatan.

Pertimbangkan pengembangan senjata nuklir. Senjata nuklir tidak diciptakan karena umat manusia secara kolektif memutuskan bahwa bom atom adalah ide yang bagus. Senjata nuklir dikembangkan karena pengetahuan ilmiahnya sudah ada, dan begitu memungkinkan, hal itu tak terelakkan.

Logika yang sama berlaku untuk kecerdasan buatan, rekayasa genetika, dan teknologi pengawasan. Pertanyaannya bukanlah, “Haruskah kita?”, melainkan, “Seberapa cepat kita bisa?”

“Ketika suatu masyarakat membiarkan teknologi berkembang tanpa hambatan, hal ini menciptakan dinamika yang tidak dapat dilawan oleh lembaga mana pun misalnya politik, agama, atau etika.”

Mengapa Demokrasi Tidak Dapat Mengendalikan Teknologi

Dalam masyarakat demokratis, kita cenderung percaya bahwa kitalah yang memegang kendali, bahwa jika suatu teknologi berbahaya, kita dapat mengatur atau bahkan melarangnya. Ellul mengungkap hal ini sebagai ilusi yang menenangkan.

  • Regulasi selalu reaktif. Saat risiko suatu teknologi dipahami, risiko tersebut sudah tertanam dalam sistem.
  • Pemerintah tidak berdaya. Politisi tidak memiliki keahlian untuk mengendalikan teknologi yang kompleks. Mereka mengandalkan para ahli, orang-orang yang justru berinvestasi dalam pengembangan teknologi tersebut.
  • Globalisasi memastikan adopsi. Sekalipun satu negara melarang suatu teknologi, negara lain akan menerimanya, memaksa semua negara lain untuk mengikutinya agar tetap kompetitif.

Ambil contoh pengawasan massal:

  • Setelah 11/9, pemerintah di seluruh dunia memperluas kemampuan pengawasan mereka.
  • Ketika whistleblower seperti Edward Snowden mengungkap luasnya program ini, ada kemarahan publik tetapi tidak ada yang berubah.
  • Mengapa? Karena teknik pengawasan sudah terintegrasi ke dalam infrastruktur keamanan nasional. Efisiensinya menjadikannya sangat penting.

Inilah tirani yang digambarkan Ellul: sistem teknologi mencapai titik di mana mereka terlalu melekat hingga tidak dapat dibongkar.

Paradoks Kebebasan: Bagaimana Teknologi Menciptakan Rantai Baru

Inilah paradoks kejam dari teknologi modern: ia menjanjikan kebebasan tetapi sering kali memberikan yang sebaliknya.

  • Mobil menjanjikan kebebasan bergerak. Kini, seluruh kota dirancang berdasarkan ketergantungan pada mobil, sehingga mustahil untuk hidup tanpanya.
  • Ponsel pintar menjanjikan koneksi dan kemudahan. Kini, ponsel pintar menjadi perangkat pengawasan yang kita bawa secara sukarela, melacak setiap gerakan kita.
  • Media sosial berjanji untuk mendemokratisasi informasi. Namun, media sosial justru menjadi alat manipulasi, kecanduan, dan polarisasi.

“Manusia modern percaya bahwa dirinya bebas karena dapat memilih di antara ratusan produk, namun ia justru diperbudak oleh sistem yang menawarkan pilihan-pilihan tersebut.”

Teknologi tidak memperbudak melalui paksaan. Teknologi memperbudak melalui ketergantungan. Kita mengadopsi alat-alat baru demi kenyamanan, hanya untuk menyadari bahwa kita tak bisa hidup tanpanya. Dan begitu kita bergantung, sistem mengendalikan kita, bukan melalui paksaan, melainkan melalui kebutuhan.

Ilusi Kemajuan: Apakah Kita Benar-Benar Maju?

Ellul menantang salah satu keyakinan paling sakral dalam modernitas: gagasan bahwa kemajuan teknologi sama dengan kemajuan manusia.

  • Apakah kita lebih bijaksana karena kita memiliki internet?
  • Apakah kita lebih bahagia karena telepon pintar?
  • Apakah kita lebih bebas karena otomatisasi?

Bagi Ellul, jawabannya jelas: tidak. Faktanya, kemajuan teknologi seringkali memperparah masalah yang ada sekaligus menciptakan masalah baru.

Pertimbangkan dampak lingkungannya:

  • Industrialisasi mendatangkan pertumbuhan ekonomi tetapi juga polusi dan kehancuran ekologi.
  • Sekarang, kita diberitahu bahwa teknologi baru, seperti mobil listrik dan energi terbarukan akan menyelamatkan kita.

Namun Ellul berpendapat: ini bukanlah solusi. Ini adalah teknik baru yang menciptakan ketergantungan dan risiko baru.

Inilah paradoks teknologi:

  1. Teknologi baru memecahkan satu masalah.
  2. Menciptakan masalah yang tidak terduga.
  3. Mengembangkan lebih banyak teknologi untuk mengatasi masalah tersebut.

Mungkinkah Terjadi Perlawanan?

Analisis Ellul memang suram, tetapi tidak nihilistik. Meskipun kita tidak dapat menghentikan raksasa teknologi, kita dapat memilih cara hidup di dalamnya. Pesannya adalah tentang kesadaran dan otonomi pribadi, bukan dalam arti politik, tetapi dalam arti yang lebih dalam, yaitu kebebasan mental dan spiritual.

1. Kesadaran adalah Tindakan Pertama Pembangkangan.

Melihat sistem apa adanya saja sudah mematahkan ilusi. Kebanyakan orang hidup dengan keyakinan yang menenangkan bahwa teknologi melayani mereka. Menyadari bahwa kita melayaninya adalah langkah pertama menuju kebebasan.

2. Tolak Menyembah Mesin.

Masyarakat modern memperlakukan teknologi sebagai sesuatu yang sakral, dengan setiap gawai atau aplikasi baru dirayakan sebagai bentuk keselamatan. Tanggapan Ellul: berhentilah memercayai ajaran kemajuan.

Ini bukan berarti menolak semua teknologi. Melainkan menolak keyakinan bahwa teknologi pada dasarnya meningkatkan kualitas hidup.

3. Kembangkan Otonomi Sebisa Mungkin.

Meskipun kemandirian sepenuhnya dari teknologi mustahil, tindakan-tindakan kecil yang otonom sangatlah ampuh:

  1. Produksi makananmu sendiri.
  2. Batasi konsumsi digital.
  3. Kembangkan keterampilan yang tidak bergantung pada sistem yang rumit.
  4. Membangun komunitas tatap muka.

4. Hiduplah Seakan Anda Bebas.

Pelajaran terakhir Ellul yang paradoks: bahkan dalam sistem yang tak dapat Anda kendalikan, Anda dapat memilih bagaimana Anda meresponsnya.

  • Anda mungkin tidak dapat mengubah dunia, tetapi Anda dapat menolak untuk menyesuaikan diri dengannya.
  • Anda mungkin tidak dapat lepas dari sistem, tetapi Anda dapat hidup di dalamnya seolah-olah Anda bebas.

Tindakan perlawanan tertinggi dalam masyarakat teknologi adalah hidup seolah-olah Anda bebas, bahkan ketika sistem bersikeras bahwa Anda tidak bebas.”

Kesimpulan

Masyarakat Teknologi bukanlah manifesto yang menentang mesin. Ia adalah cermin yang dipajang di hadapan peradaban yang mabuk ilusi kendali. Pesan Ellul menyadarkan sekaligus membebaskan: kita tidak memegang kendali. Kita memang tidak pernah memegang kendali.Tetapi itu bukan berarti kita tak berdaya. Medan perang yang sesungguhnya bukan di luar sana melainkan di dalam pikiran.

  • Untuk mempertanyakan apa yang diterima semua orang sebagai sesuatu yang tak terelakkan.
  • Untuk menolak apa yang semua orang sebut kemajuan.
  • Untuk hidup dengan sengaja di dunia yang menuntut otomatisasi.

Pada akhirnya, kebebasan bukanlah ketiadaan batasan. Kebebasan adalah keberanian untuk memilih batasan Anda, untuk mendefinisikan nilai-nilai Anda, dan untuk menolak menyerahkan jiwa Anda kepada mesin.

Itulah inti pemberontakan Ellul. Bukan melawan teknologi itu sendiri, melainkan melawan keyakinan bahwa kita harus tunduk padanya.*