Martin Heidegger: Teknologi Membatasi Pemikiran dan Pengalaman Manusia

0

FILSAFAT, Bulir.id – Di dunia sekarang ini, seringkali kita merasa tidak bisa melakukan apa pun tanpa teknologi. Teman dan keluarga berkumpul hanya untuk menghabiskan seluruh waktu dengan ponsel mereka. Presentasi dibatalkan jika perangkat lunak slide presentasi tidak berfungsi. Mengunggah foto acara kehidupan nyata di media sosial bisa terasa lebih penting daripada acara itu sendiri.

Masalah utama dominasi teknologi, menurut filsuf Martin Heidegger (1889-1976), adalah bagaimana teknologi membatasi pemikiran kita dan apa yang kita alami sebagai manusia. Heidegger menyajikan pandangan ini dalam filsafat teknologi yang berupaya mengidentifikasi karakteristik atau esensi yang mendefinisikan teknologi modern. Esai ini merangkum teori Heidegger.

Heidegger mengatakan bahwa esensi teknologi modern adalah pandangan dunia tertentu yang menjadi kekuatan pendorong di balik teknologi tersebut. Heidegger menyebut pandangan dunia teknologi ini sebagai “Enframing” (pembingkaian). Sebagai pandangan dunia, enframing bukanlah pola pikir subjektif, tetapi cara dunia kita biasanya “terlihat” saat ini.

Dunia modern seringkali tampak bagi kita “dibingkai” sebagai kumpulan masalah yang perlu diselesaikan melalui solusi yang paling efisien dan efektif— solusi teknologi. Pembingkaian tidak hanya memotivasi penciptaan dan penggunaan perangkat teknologi kita: ia mendefinisikan dan mendominasi seluruh cara hidup modern kita, menentukan bagaimana kita melihat dan melakukan hampir segala sesuatu.

Karena adanya pembingkaian, hampir semua aktivitas manusia menjadi apa yang disebut Heidegger sebagai “penantangan”: memaksa atau “menantang” orang dan benda untuk menyediakan apa yang dibutuhkan untuk memenuhi tuntutan kita secepat mungkin.

Jadi, kita menggunakan teknologi untuk “menantang” alam dengan secara paksa mengekstrak “sumber daya alam” untuk mencapai tujuan kita: penambangan batubara, penebangan hutan, pengeboran minyak, pemecahan atom, pembangunan bendungan air, dll. Sedangkan teknologi pra-modern—misalnya, kincir angin, pengolahan kayu, pertanian tradisional, dll. bekerja selaras dengan alam, teknologi modern pada dasarnya menghancurkannya.

Kita tidak hanya menggunakan teknologi untuk memberikan tantangan ke depan; kita juga menantang teknologi itu sendiri, misalnya, AI untuk menulis deskripsi properti, printer 3D untuk membuat anggota tubuh prostetik, dan lain sebagainya. Manusia juga ditantang: untuk menjadi karyawan yang produktif, untuk beradaptasi dengan kemajuan teknologi (ironisnya!), dan lain sebagainya.

Kita bahkan menantang aktivitas yang mungkin tampak seperti jeda dari tantangan. Misalnya, kita menantang liburan untuk “mengisi ulang energi” agar kita dapat menantang dengan lebih baik (yaitu, lebih produktif) ketika kita kembali.

Karena adanya pembingkaian, hampir segala sesuatu menjadi apa yang disebut Heidegger sebagai “cadangan tetap,” yaitu tumpukan sumber daya yang hanya dinilai berdasarkan seberapa bermanfaatnya untuk memenuhi kebutuhan kita. Manusia dianggap sebagai “sumber daya manusia”; hal-hal alamiah adalah “sumber daya alam”; perpustakaan berisi “sumber daya informasi”; pendidikan terdiri dari “sumber daya pembelajaran”; kehidupan adalah alokasi “sumber daya waktu”, dan seterusnya.

Teknologi juga merupakan cadangan tetap, yaitu, “sumber daya modal.” Bayangkan semua perangkat dan mesin yang tersimpan di kediaman Anda, atau aplikasi di ponsel Anda, “siap sedia” menunggu perintah Anda untuk membantu hampir semua tugas.

Kita sekarang mengharapkan semuanya menjadi cadangan tetap: siaga, siap dan tersedia di ujung jari kita untuk melayani keinginan kita dalam sekejap. Kita ingin dapat melakukan streaming semua media (misalnya, film, musik, dll.) kapan saja dan dari mana saja. Beberapa bahkan mengharapkan aplikasi kencan untuk membantu menyediakan “daftar teman kencan”, yaitu, cadangan pasangan romantis yang tersedia kapan pun suasana hati sedang mendukung.

Menurut Heidegger, kita menantang yaitu, kita memaksa segala sesuatu agar bermanfaat untuk mencapai tujuan kita untuk memperoleh, mengatur, menyimpan, dan menggunakan cadangan tetap secara efisien. Mengelola cadangan tetap kemudian menjadi fokus dan tujuan utama dari menantang.

Heidegger tidak menunjukkan indikasi bahwa ia akan khawatir tentang bahaya umum yang terkait dengan teknologi di abad ke- 21, misalnya, bahan bakar fosil yang merusak lingkungan; senjata nuklir yang memusnahkan umat manusia; otomatisasi dan AI yang menggantikan pekerjaan; ponsel pintar yang merusak rentang perhatian, dll.

Sebaliknya, kekhawatiran utama Heidegger adalah bahwa teknologi akan selamanya merendahkan makna menjadi manusia. Secara khusus, bahayanya adalah bahwa kemanusiaan, yang didefinisikan oleh Heidegger sebagai kemampuan kita untuk melihat dunia dengan cara yang berbeda, akan menjadi tidak mampu melihat di luar pandangan dunia teknologi yang tampaknya merajalela.

Heidegger paling khawatir tentang bagaimana pembingkaian dapat membatasi pemikiran dan pengalaman manusia hanya pada apa yang dibingkai, yaitu, hanya pada tantangan dan sikap bertahan. Yang sangat mengkhawatirkan bagi Heidegger adalah ancaman kehilangan kemampuan kita untuk menghargai apa yang dianggapnya sebagai jenis nilai yang paling bermakna, yaitu nilai non-teknologis (misalnya, melihat hutan sebagai sesuatu yang sakral daripada sekadar sumber daya kayu).

Misalnya, Heidegger mengatakan bahwa pembangkit listrik tenaga air “membingkai” air hanya sebagai sumber energi. Hal ini kontras dengan jembatan kayu pra-modern yang mengajak kita untuk merenungkan nilai non-teknologis air, misalnya, keindahannya.

Kesimpulan: Rekomendasi Heidegger

Untuk melawan bahaya teknologi modern, Heidegger tidak ingin kita menghancurkannya untuk kembali ke zaman yang lebih sederhana. [20] Sebaliknya, ia percaya kita perlu belajar bagaimana menjadi bebas dalam penggunaan teknologi.

Itu tidak berarti kita harus sepenuhnya melepaskan diri dari teknologi. Hal itu akan merugikan dan sia-sia dan misalnya, semua orang yang “menjauh dari jaringan” justru akan semakin menantang (yaitu, menantang alam untuk membebaskan kita dari tantangan).

Sebaliknya, mengembangkan hubungan bebas dengan teknologi berarti menjadi bebas untuk tidak menggunakannya, misalnya, bebas untuk mengabaikan notifikasi Anda seperti halnya memeriksanya, dll. Kita mencapai hal ini, kata Heidegger, bukan hanya melalui praktik, tetapi terutama dengan tetap mengingat bahwa pembingkaian hanyalah salah satu dari banyak pandangan dunia yang mungkin.

Dengan belajar untuk menyingkirkan teknologi ketika tidak diperlukan (misalnya, pada kencan pertama, dll.), kita mengembangkan “keseimbangan teknologi/kehidupan” yang lebih baik, sehingga kita bebas untuk terlibat dalam kehidupan dan dengan orang-orang dengan cara non-teknologis. Misalnya, kita dapat menghabiskan waktu berkualitas dengan orang-orang terkasih tanpa menggunakan ponsel kita.

Oleh karena itu, Heidegger berpendapat bahwa kebebasan tidak ditemukan dalam menolak teknologi, melainkan melalui pengembangan kemampuan untuk mengesampingkannya. Apakah pembingkaian masih memungkinkan keterlibatan bebas dengan teknologi masih menjadi perdebatan.*