Resensi Novel Bumi Manusia, Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer

0

SPIRITUAL, Bulir.id – Novel Bumi Manusia merupakan tetralogi pulau buru dengan latar zaman penjajahan Belanda. Dikisahkan oleh opa Pramoedia Ananta Toer dalam empat seri, Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Bumi manusia adalah seri pertama dari tetraloginya.

Bumi manusia diperkenalkan kepada saya pada saat mengikuti kuliah Kejahatan dan Penderitaan (Teodicea). Karena memang novel ini terkait penderitaan yang dialami Bangsa Indonesia pada zaman pendudukan Belanda.

Membaca novel ini, seolah kita diajak oleh opa Pram untuk kembali berimaji ke awal abad 20 dengan situasi penjajahan, terutama di Surabaya dan Sidorajo. Pram adalah penulis yang cerdik, mampu membawa pembaca ke alam penjajahan.

Ia melukiskan kehidupan seorang pemuda Pribumi bernama Tirto Adhi Soerjo (Minke). Anak pribumi yang mengenyam pendidikan di H.B.S atau Hogere Burgerschool. Sekolah tersebut setingkat dengan Sekolah Menengah Akhir (SMA), hanya diperuntukkan bagi orang Eropa, Belanda, dan Elite Pribumi.

Minke merupakan anak dari seorang Bupati Wonokromo. Ia dipersiapkan ayahnya kelak menjadi Bupati menggantikan ayahnya. Meski demikian ia menolak mentah-mentah hal tersebut.

Minke merupakan salah seorang pribumi yang jenius di HBS. Sebagai pecinta sastra, ia juga memiliki kecakapan dalam menulis. Tulisannya banyak dimuat di koran Belanda dengan mengambil nama pena Max Tollenaar.

Ia juga merupakan seorang tokoh pergerakan pada zaman kolonial yang mendirikan Sarekat Priyayi (organisasi nasional pertama). Lingkungan yang digambarkan pada novel ini adalah Hindia Belanda pada awal abad ke-20.

Ia merupakan pribumi yang luar biasa. Sebab ia memiliki pola pikir seperti orang-orang Eropa pada umumnya. Di dalam tubuhnya mengalir darah para raja di Pulau Jawa, namun dirinya hampir tidak dikenali lagi sebagai orang Jawa.

Minke sangat mengagumi kemajuan Bangsa Eropa. Terlebih pula karena pengajaran dari gurunya, yaitu Juffrouw Magda Peters. Hal tersebut membuatnya lupa akan identitas kebangsaannya, “kejawaannya” sebagai budaya asalnya.

Tetapi pada akhirnya, Minke menyadari bangsa yang disanjung-sanjungnya selama itu adalah penindas. Kesadarannya itu pula yang membawanya pada suatu titik perlawanan.

Pergolakan awal Minke dimulai sejak Minke mendapatkan tantangan dari sahabatnya Robert Suurhof untuk ke Wonokromo mendatangi seorang gadis cantik Indo-Eropa, yaitu Annelies Mellema.

Perjumpaan Minke dan gadis Eropa itulah merupakan titik awal konflik dirinya dengan Suurhof. Keduanya sama-sama menyukai dan mencintai sosok yang sama. Namun, Annelies justru mencintai Minke.

Annalies merupakan anak seorang Nyai bernama Nyai Ontosoroh yang kaya raya. Gadis itu juga memiliki seorang saudara, Robert Mellema.

Pram meramu novelnya tidak hanya perpusat pada Minke dan Annelies melainkan juga Nyai Ontosoroh. Dengan dramatik Pram melukiskan masa muda Nyai saat berusia 13 tahun dijual oleh ayahnya ke Tuan Mellema seorang pejabat Belanda untuk dijadikan gundik.

Tujuan utamanya agar ayahnya dapat menempati jabatan yang lebih tinggi. Ayahnya tak peduli Nyai harus hidup bersama dengan Tuan Mellema, orang yang belum pernah diketahui dan dikenal olehnya.

Hal tersebut menimbulkan dendam terhadap orang tuanya. Kemudian muncul tekad untuk mengembalikan derajat dirinya melalui pengetahuan. Nyai Ontosoroh banyak belajar dari Tuan Mellema, belajar membaca dan menulis, dan bagaimana memanajemen perusahaan keluarga.

Digambarkan bahwa kehidupan keluarga itu tampak harmonis dan penuh cinta meski tanpa ikatan cinta secara hukum dan agama. Namun semuanya sirna selepas kedatangan anak sah dari Tuan Mellema dari Belanda ditugaskan di Hindia.

Ia kemudian menggugat Tuan Mellema. Hal itu mengakibatkan Tuan Mellema meninggalkan Nyai Ontosoroh dan keadaan pun menjadi kalut.

Meski demikian Nyai Ontosoroh tak pernah menyerah. Berkat pengetahuannya dari membaca dan yang didapat dari tuan Mallema, bersama anaknya Annelies berhasil membangun sebuah perusahaan yang amat besar.

Nyai ingin membuktikan bahwa, meski dia adalah seorang perempuan dan gundik tetapi ia mampu melakukan apa yang dilakukan oleh laki-laki dan orang Eropa. Kekayaannya melimpah yang diperoleh dari hasil keringatnya sendiri dan menjadi seorang wanita mandiri.

Sedangkan Robert Mellema, kakak dari Annelies cenderung mengagung-agungkan bangsa Eropa dan tidak mengakui Nyai Ontosoroh sebagai Ibunya.

Kehadiran Minke di antara Nyai Ontosoroh dan Annelies, sangat disambut hangat oleh keduanya. Hal ini membuat berang keluarga dan orang tua Minke. Hal itu karena Ontosoroh adalah seorang ‘Nyai’.

Dalam tradisi Jawa pasca penjajahan Nyai memiliki predikat negatif. Dianggap sebagai wanita yang tidak mempunyai adab ketimuran sebab statusnya yang hanya sebagai “istri simpanan.”

Keadaan ini mendorong Nyai Ontosoroh mulai berusaha dan belajar keras agar dirinya dapat diperlakukan layaknya manusia pada umumnya. Ia memperjuangkan kesetaraan gender.

Konflik antara Minke, Robert Mellema dan Suurhof pun muncul disini. Minke dituduh bahwa kedekatan dirinya dengan Annelies hanya sebuah upaya mengincar harta kekayaan milik Nyai Ontosoroh.

Tantangan itu tak menyurutkan usaha Minke untuk mendapatkan Annelies seorang wanita yang digambarkan nan cantik jelita, mempunyai pribadi yang lembut dan baik.

Setelah melewati berbagai hambatan dan rintangan yang amat panjang serta rumit, akhirnya Minke dan Annelies menikah, mereka hidup bahagia, karier yang Minke jalani pun meningkat dengan sangat baik.

Minke juga sudah lulus dari sekolahnya, yaitu H.B.S dengan peringkat yang memuaskan. Padahal, sebelumnya Minke sempat diberhentikan oleh sekolah, dianggap tidak bermoral sebab berhubungan dengan seorang Nyai.

Akan tetapi, semua itu berhasil ia lalui dan hadapi.

Rupanya kebahagiaan pernikahan Minke teruji lagi. Ia menjadi sangat terpuruk sebab selepas pernikahan, mereka harus menghadapi anak sah tuan Mellema. Ia menuntut harta Tuan Mellema yang sejak lama dikelola oleh Ontosoroh.

Annelies pun juga menjadi korban tersebut sebab ia adalah anak sah Tuan Mellema. Berdasarkan hukum Belanda Annelies harus dikembalikan ke Belanda tanpa kehadiran suaminya.

Minke dan Nyai Ontosoroh pun berjuang mempertahankan perusahaan yang dibangun dengan susah payah. Mereka dituntut berjuang keras mempertahankan Annelies untuk tidak dibawa ke Belanda.

Meski demikian usaha mereka sia-sia sebab hukum Eropa tetaplah tidak memihak pada orang Pribumi seperti mereka (Minke dan Nyai Ontosoroh).

Kesimpulan

Dalam buku ini Pramoedya menunjukkan betapa pentingnya belajar. Dengan belajar dapat mengubah nasib, seperti yang digambarkan Pram dalam novelnya.

Meskipun Nyai yang tidak bersekolah, dapat menjadi seorang guru yang hebat bagi siswa H.B.S Minke. Bahkan pengetahuan Nyai yang didapat dari pengalaman, dari buku-buku dan dari kehidupan sehari-hari, ternyata lebih luas dari guru-guru sekolah H.B.S. Sehingga kita tahu bahwa belajar itu tidak merugikan melainkan menguntungkan.

Melalui Nyai Ontosoroh, Pram juga ingin membuktikan bahwa semua manusia di dunia ini sama. Tidak peduli apakah dia itu orang Eropa atau bukan, pria atau wanita, nyonya atau nyai; semuanya mempunyai hak yang sama. Tidak ada alasan untuk memandang seseorang dengan sebelah mata.

Tokoh Minke menampilkan manusia pribumi yang pantang menyerah untuk melawan ketidakadilan dan feodalisme saat itu. Meski Minke berdarah biru malah berpendapat bahwa kebangsawanan hanyalah warisan masa lalu yang hanya bisa merendahkan orang lain.

Cara pandang seperti inilah membuatnya tidak ingin hidup bergantung pada jabatan dan kebangsawanan orang tuanya. Minke adalah seorang pemuda Jawa yang berpikiran modern dan sangat tidak menyukai kefeodalan priyayi Jawa, apalagi ketika seseorang harus merendahkan diri jika sedang berhadapan dengan para pejabat.*